Tradisi Intelektual Ulama Nusantara: Melestarikan Pesantren, Kitab Kuning dan Sanad Ilmu

0
155

Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam, memiliki kekhasan tersendiri dalam struktur kehidupannya, terutama kehidupan beragama. Ciri khusus itu tergambar dari banyaknya pendidikan Islam yang tersebar di seluruh pulau dan pojok-pojok desa.

Pola pendidikan Islam yang populer sejak awal Islam menapak negeri ini adalah pesantren yang hingga saat ini tetap digandrungi. Terutama di Jawa, pesantren-pesantren besar begitu banyak dengan kuantitas santri yang terus bertambah. Inilah salah satu warisan ulama terdahulu untuk melestarikan tradisi intelektual Islam.

Adalah fakta sejarah yang tidak terbantahkan, bahwa kekayaan literasi yang tersedia di dunia Islam Indonesia sekarang ini adalah kontribusi para ulama tempo dulu yang memiliki semangat kuat untuk menuntut ilmu sampai merambah ke Makkah dan Madinah. Walaupun perjalanan ke sana memakan waktu yang cukup lama karena sarana transportasi yang ada waktu itu tidak secanggih seperti saat ini, mereka rela meninggalkan Nusantara untuk menuntut ilmu.

Salah satu di antara para ulama yang memiliki semangat intelektual tinggi, tercatat seorang ulama asal Banten, bernama Muhammad Nawawi al Bantani. Sambil berniat untuk melaksanakan ibadah haji, beliau berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Tidak hanya sekali, tapi dua kali.

Pada perjalanan yang kedua, tepatnya tahun 1855, Syekh Nawawi menetap di tanah suci untuk menuntut dan memperdalam ilmunya, berguru pada ulama-ulama yang sudah tidak diragukan lagi ilmu keislamannya. Tercatat sederet nama-nama ulama yang menjadi gurunya, di antaranya adalah Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syekh Sayyid Ahmad Dimyathi, Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Khatib al Sambasi al Hambali, Syekh Abdulghani Bima, Syekh Yusuf Sumbulaweni, dan Syekh Abdul Hamid al Daghastani.

Syekh Nawawi al Bantani adalah tipe ulama yang selalu haus akan ilmu agama, memiliki semangat menuntut ilmu yang sangat kuat, bahkan beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, spirit menuntut ilmu yang berlandas pada anjuran Nabi bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi umat Islam. Di samping belajar ilmu agama, di tempat Islam pertama kali turun ini beliau juga mengajarkan ilmu yang telah dikuasainya.

Baca Juga:  Belajar Islam Kaffah Kepada Isa al Masih

Dari sinilah, melalui murid-muridnya transformasi ilmunya berjalan untuk kemudian disebarkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Beberapa nama ulama Nusantara terkenal, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Nahjun, dan K.H. Mahfudz Termas, adalah murid-muridnya yang berasal dari Indonesia dan semua muridnya tersebut menjadi ulama besar di negeri ini. Merekalah yang kemudian menyebarkan keilmuan Islam di Nusantara.

Syekh Nawawi al Bantani, di samping sebagai ulama besar dengan keilmuan yang tak diragukan, beliau juga seorang ulama yang kreatif menulis. Kitab-kitab karangannya sangat banyak. tercatat ada sekitar empat puluh satu judul kitab. Diantaranya dan paling terkenal berjudul “Tafsir al Munir li Ma’alim al Tanzil atau Marah Labid Tafsir al Nawawi. Kitab ini menjadi rujukan wajib di kalangan pesantren hingga saat ini.

Menjaga Periwayatan Ilmu

Tradisi keilmuan Islam Indonesia yang lekat hingga saat ini adalah kitab kuning. Istilah kitab kuning dipakai untuk menyebut karya ulama yang memuat ilmu keislaman, disebut juga kitab gundul atau kitab klasik. Termasuk karya-karya Syekh Nawawi. Kitab kuning ini merupakan warisan budaya literasi Islam yang muncul dalam konteks Nusantara pada abad ke-16 silam.

Keberadaan kitab kuning merupakan bagian dari tren semangat menuntut ilmu dan melestarikan keilmuan Islam tradisional yang tak terpisahkan dengan sosok seorang kyai atau ulama. Seseorang baru dianggap sebagai kyai atau ulama jika sudah bisa membaca,memahami dan mendalami isi kitab kuning tersebut dan mengamalkannya dengan penuh keseriusan dalam keseharian hidupnya. Dengan demikian, bila tradisi ini selalu dilestarikan tidak akan pernah terjadi istilah ‘Mendadak Ustadz’ yang beresiko sesat dan menyesatkan.

Tradisi keilmuan Islam berikutnya yang juga penting untuk dilestarikan adalah ketersambungan sanad ilmu pengetahuan yang sah dari generasi sebelumnya dan penggunaan kitab atau rujukan yang sah secara keilmuan.  Artinya, yang bisa disebarkan kepada masyarakat adalah karya ulama-ulama yang ilmu dan ketersambungan sanadnya tidak meragukan. Syekh Nawawi sudah memberikan tauladan dalam dua hal tersebut, yaitu tradisi literasi yang baik. Secara sanad keilmuan beliau memenuhi kualifikasi karena telah berguru secara mutawatir kepada generasi sebelumnya yang merupakan ulama terkenal dengan sanad yang jelas. Disamping itu, beliau menulis karya-karya yang bermanfaat untuk mencerdaskan umat Islam.

Baca Juga:  Syariah Yes, Perda Syariah No

Setelah agama Islam membumi di Jazirah Arab, orang Arab tidak lagi alergi dengan literatur. Mereka rajin membaca buku. Semangat iqra’ dari ayat al Qur’an telah membakar semangat belajar bangsa Arab. Tidak heran kalau semangat belajar itu sampai merambah pada wilayah filsafat. Salah satunya karya-karya Aristoteles.

Dari sini mereka memulai mempelajari semua benda di alam dan mencari sebab-musabab dari segala hal. Hasilnya sangat luar biasa, banyak penemuan yang kemudian muncul dari orang Arab, karya yang terinspirasi dari kuatnya dorongan Islam terhadap ilmu pengetahuan yang membuat mereka cinta akan pengetahuan. Lecutan semangat intelektual inilah yang mengantarkan orang Arab mampu membangun salah satu imperium terbesar yang pernah berkuasa di atas bumi.

Pilar Ilmu Ulama Nusantara

Warisan tradisi berpikir dan literasi yang melimpah adalah pusaka yang telah diberikan oleh generasi terdahulu kepada kita generasi sekarang ini. Warisan para ulama ini mesti dilestarikan supaya generasi Islam berikutnya mampu bahkan lebih mempertahankan tradisi untuk mengenyam ilmu keislaman. Sehingga umat Islam mampu membentuk peradaban yang lebih maju.

Dengan pelestarian ini akan muncul ulama-ulama, kyai dan ustadz yang benar-benar mumpuni. Mereka, para intelektual itulah, yang bisa menggambar jalan terang masyarakat dari kegelapan-kegelapan yang mereka alami.

Inilah sebetulnya semangat api Islam yang harus dimiliki oleh umat Islam Indonesia terutama generasi millennial. Harus mencontoh semangat belajar dan tradisi menulis Syekh Nawawi yang membangun semangat intelektual dan tradisi literasi untuk mencerdaskan masyarakat. Jangan sampai generasi sekarang ini malah terjebak pada petuah-petuah palsu, doktrin-doktrin yang keluar dari rel syariat Islam.

Oleh karena itu, sangat penting mempertahankan semangat tradisi intelektual seperti telah tersebut supaya peradaban Islam tidak kehilangan ruhnya. Tradisi intelektual yang disuguhkan ulama nusantara berpangkal pada tiga hal.

Baca Juga:  Pancasila sebagai Perjanjian

Pertama, pesantren. Pesantren menjadi jangkar bagi persemaian intelektual keislaman yang kokoh. Lembaga ini telah dipercaya dan terbukti sebagai lembaga pendidikan ilmu, akidah, karakter, dan kemandirian yang komprehensif. Santri yang ditempa akan melahirkan sosok ilmuwan Islam yang tidak hanya kaya perspektif, tetapi juga karakter akhlak islami dan mandiri.

Saat ini memang telah muncul lembaga seperti sekolah-sekolah Islam Terpadu sebagai padanan dan mencontoh pesantren. Namun, pesantren masih menjadi model yang dalam 100 tahun ke depan akan tetap dilirik untuk mendidik, menanamkan dan mengkader ilmuwan dan intelektual Islam.

Kedua, kitab kuning. Sebuah tradisi yang sampai akhir ini menjadi santapan pesantren. Kitab ini dikaji dan dikontektualisasi dengan perkembangan zaman. Mengkaji kitab kuning, tentu tidak abash, apabila tidak diikuti kemampuan perangkat bahasa. Karena itulah, karakter ilmuwan dan intelektual nusantara tidak akan muncul ustad instan, dai dadakan dan penceramah sekedar popularitas.

Ketiga, sanad ilmu. Poin ini menjadi sangat penting dalam khazanah keilmuan Islam nusantara. Agama adalah riwayat dari Nabi yang secara beruntun terjaga keasliannya. Agama bukan sekedar akal pikiran, meskipun akal sehat pasti selalu sejalan dengan agama. Keilmuan ulama nusantara terjaga dari Nabi, sahabat, tabiin, tabi’tabiin hingga ulama madzhab.

Pada akhirnya, khazanah intelektual ulama nusantara merupakan kekayaan ilmu yang luas tetapi tetap berjalan secara runtut. Bukan intelektual dadakan yang muncul karena popularitas yang tidak kenal sejarah.

Tinggalkan Balasan