Salah satu amalan yang banyak dilakukan adalah yasinan di malam nisfu Sya’ban. Bagaimana hukumnya?


Sebagai bagian dari mengisi malam pertengahan bulan Sya’ban (nisfu Sya’ban), di sebagian tempat di Indonesia umat Islam membaca surah Yasin atau yasinan setelah shalat Maghrib. Ada yang membacanya secara berjamaah di masjid atau mushalla. Ada pula yang membaca di rumah masing-masing.

Bila melihat Syahrul Qur’an sebagai nama lain dari bulan rajab, tentu hal ini tidak masalah, bahkan sangat dianjurkan untuk membaca Al Qur’an sepanjang bulan. Dan ini merupakan tradisi bersendi syariat yang menjadi kebiasaan ulama salaf.

Namun, mengkhususkan pembacaan surah Yasin atau yasinan di malam tanggal lima belas masih menyimpan pertanyaan, mana dalilnya?. Terutama bagi sebagian kecil umat Islam yang ritualitas ibadahnya disempitkan oleh kungkungan bid’ah.

Tanpa mau tahu bahwa bid’ah hanya terbatas pada ibadah murni (ibadah mahdloh). Di luar itu adalah medan ijtihad dan yang berlaku adalah adagium “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah”.

Hukum Yasinan di Malam Nisfu Sya’ban

Secara umum, ada yang mengatakan amalan dan ibadah di malam nisfu Sya’ban adalah kesesatan dan tidak dianjurkan oleh ulama salafus shalih. Termasuk membaca Yasin.

Tentu saja pandapat ini sebuah pernyataan yang dangkal dan keliru. Dr. Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, dalam karya khususnya tentang bulan Sya’ban, yakni kitab Madza fi Sya’ban, menulis khusus tentang atsar (kebiasaan) ulama salaf di bulan ini.

Tentu apa yang termuat dalam kitab tersebut bukan pernyataan yang mengada-ada dan tanpa dasar. Termasuk ketika membahas tradisi membaca surah Yasin di malam Nisfu Sya’ban. Menurut beliau, yang menciptakan tradisi yasinan di malam Nisfu Sya’ban adalah Syaikh Ahmad bin Ali bin Yusuf Abu al ‘Abbas al Buni.

Hal ini seperti ditulis oleh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad al Hut al Biruti asy Syafi’i (1209-1276 H/1795-1859 M) dalam karyanya, Asna al Mathalib fi ahadits Mukhtalifah al Maratib. Dalam kitab tersebut (hal.343) beliau menyatakan:

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سورة يٰسٓ لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعاَءِ الْمَشْهُورِ فَمِنْ تَرْتِيبِ بَعْضِ أَهْلِ الصَّلَاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ. قِيلَ هُوَ الْبُونِيُّ وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ

“Adapun tradisi yasinan pada malam Nisfu Sya’ban setelah Shalat Maghrib dan doanya yang masyhur, maka merupakan kreasi salah seorang ahli shalah (ulama shaleh). Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah al-Buni. Mengamalkan tradisi seperti Yasinan Malam Nisfu Sya’ban itu tidak apa-apa (boleh)”.

Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya “Latha`if al-Ma’arif Fii ma Li Mawasim al ‘Am Min al Wadhaif”, para tabi’in yang ada di daerah Syam sangat mengagungkan malam Nisfu Sya’ban. Pada malam itu mereka lebih giat beribadah. Para tabi’in seperti  Khalid bin Ma’dan Makhul, Luqman bin ‘Amir dan selainnya begitu tiba malan Nisfu Sya’ban sangat antusias dan memperbanyak amalan.

Sebagian orang menuduh bahwa beberapa amalan tersebut merupakan atsar israiliyah. Namun, ketika di berbagai negeri hal tersebut terkenal berasal dari para tabi’in tersebut, maka para tabi’in yang lain menerimanya dan dan mengikuti mereka dalam mengagungkan malam Nisfu Sya’ban, termasuk sekelompok ahli ibadah Kota Bashrah dan lainnya.

Mengenai tradisi yasinan di malam nisfu Sya’ban terutama setelah shalat Maghrib sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh sebagian besar umat disertai dengan berdoa. Mereka memanjatkan permohonan agar diberikan umur panjang, rezeki yang halal, wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan lain-lain.

Terkait tradisi religi itu, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki memandang kegiatan tersebut sebagai hal yang positif. Menurutnya, malam Nisfu Sya’ban  merupakan momen yang sangat tepat untuk memperbanyak amal shaleh dan berdoa kepada Allah supaya dikabulkan hajat dunia maupun hajat akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.