ulama salaf
ulama salaf

Ulama Salaf dan Etika Berbeda Pendapat

Ulama senior al-Azhar Prof. Jamal Farouq dalam kitab Bashair Azhariyah fi Majalat al-Ikhtilaf Bain al-Muslimin membahas  batasan dan adab berbeda pendapat di kalangan umat Islam. Dalam kitab tersebut disebutkan beberapa kisah tentang etika ulama Salaf saat berbeda pendapat, diantaranya kisah Imam Auza’i dan Imam Abu Hanifah. Ketika Abu Hanifah mengarang kitab sejarah, Auza’i membaca dan merasa tidak suka dengan kitab yang ditulis hingga menulis kitab yang dimaksudkan membantah Abu Hanifah. Tidak berhenti disitu, Abu Yusuf sebagai murid senior Abu Hanifah mempelajarinya, kemudian menulis kitab yang membantah kitab Auza’i dimaksud.

Dengan polemik yang beredar, Ibnu Mubarak nekat pergi ke Syam untuk menemui Imam Auza’i. Ibnu Mubarak bisa bertemu dengannya di Beirut. Imam Auza’i bertanya; “Wahai penduduk Khurasan !. Tahukah kamu siapa tukang bid’ah dari Kufah yang dikenal dengan Abu Hanifah ?.” Tanpa menjawabnya, Ibnu Mubarak pamit pulang. Selama waktu tiga hari mengumpulkan masalah-masalah yang dibahas oleh Imam Abu Hanifah di beberapa kitabnya, Ibnu Mubarak dengan membawa kitab karangan Abu Hanifah kembali menemui Auza’i.

Pertemuan terjadi di masjid tempat Auza’i menjadi Muadzin sekaligus Imam shalat jama’ah. Auza’i melihat Ibnu Mubarak membawa kitab dan bertanya; “kitab tentang apa ini ?”. Ibnu Mubarak langsung menunjukkan suatu pembahasan dalam kitab yang ditutup dengan ungkapan “dikatakan oleh Nukman”. Usai melakukan adzan, Auza’i masih berdiri merampungkan bagian awal kitab yang dibaca seksama hingga tiba waktu shalat. Setelah shalat, Auza’i mengambil kitab yang sempat dibaca sebelumnya dan bertanya; “Wahai penduduk Khurasan, siapa Nu’man bin Stabit ini ?”. “Beliau adalah guru senior  yang saya temui di Irak”, jawab Ibnu Mubarak. Imam Auza’i membalasnya; “Sungguh ini sosok guru senior yang istimewa diantara yang lain. Perbanyaklah belajar darinya !”. Ibnu Mubarak pun dengan apa adanya berkata; “Ini adalah sosok Abu Hanifah yang Anda larang kami berguru kepadanya”.

Dalam kitab Aujazul Masalik syarah kitab Muwatha’ disebutkan bahwa Ibnu Mubarak juga mendapati Imam Auzai bertemu langsung dengan Imam Abu Hanifah di Mekkah dan mendiskusikan beberapa masalah. Imam Abu Hanifah mengurai pelbagai persoalan yang jumlahnya lebih dari apa yang dia tulis. Ketika keduanya sudah berpisah. Ibnu Mubarak bertanya kepada Imam Auza’i, “Bagaimana penilaian Anda ?”. Imam Auza’i menjawab; “Saya ingin seperti Beliau yang banyak ilmu dan akalnya. Saya juga memohon ampun kepada Allah karena telah salah paham dengan  Abu Hanifah. Kamu terus saja mulazamah (membersamai) dengan Beliau. Sungguh sosok Abu Hanifah tidak seperti yang aku dengar selama ini”.

Ini merupakan kutipan adab Ibnu Mubarak ketika menyikapi seorang ulama yang menyelisihi ulama lain. Ibnu Mubarak tidak ikut latah dan dengan sabar mengenalkan siapa sebenarnya sosok Abu Hanifah kepada Imam Auza’i dengan cara yang baik sebab Imam Auza’i juga seorang ulama terpandang dan lebih banyak menerima pemberitaan yang viral di sekitarnya. Sebagai sosok ulama, Imam Auza’i bersikap objektif terhadap kelebihan Imam Abu Hanifah dan mengakui kesalahpahamannya dengan beristighfar kepada Allah. Ini bentuk etika Imam Auza’i kepada Imam Abu Hanifah yang keduanya sama-sama ulama besar dan masing-masing memiliki kapasitas untuk berpendapat dan berbeda.

Demikian halnya dengan etika Imam Abu Hanifah ketika menjawab tuduhan Osman al-Batti kepada dirinya sebagai ahli bid’ah dan pengikut aliran Murji’ah. Imam Abu Hanifah menjawab tuduhan dengan surat yang jauh dari emosi, dan begitu  santun. Imam Abu Hanifah dalam hal ini memiliki karya tentang aqidah yang berjudul al-Fiqh al-Akbar. Kitab ini menerangkan bab aqidah diantaranya keterangan bahwa iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Dalilnya, jika menetapkan bertambahnya keimanan maka berarti menetapkan berkurangnya kekufuran dan sebaliknya. Pernyataan Imam Abu Hanifah sedikit menuai kontroversi sebagaimana dibahas oleh Agus Aditoni dalam disertasinya di UIN Sunan Ampel yang berjudul Teologi Imam Abu Hanifah.

Selain Abu Hanifah, penduduk Kufah juga dituduh sebagai pengikut Murjiah yang tidak bisa diterima kesaksiannya karena mereka meyakini iman hanya terkait dengan keyakinan dalam hati dan tidak ada hubungannya dengan perbuatan. Abu Hanifah menuliskan suratnya agar semua orang mengerti bahwa irja’ (tidak mengaitkan iman dengan amal) adalah kufur merupakan pandangan Khawarij, sedangkan irja’ adalah tidak kufur melainkan antara kufur dan iman merupakan pandangan Mu’tazilah. Imam Abu Hanifah meyakini bahwa Irja’ merupakan kebenaran yang nyata. Menurutnya yang bid’ah dan harus ditolak adalah pandangan bahwa “Iman tidak terpengaruh oleh maksiat”.

Imam Abu Hanifah memberikan klarifikasi melalui surat untuk menjelaskan duduk persoalan. Imam Abu Hanifah menyampaikan pandangan masyarakat daerahnya bahwa orang yang memandang Iman sebagai akad keyakinan dan persaksian lisan tanpa ada hubungannya dengan amal terkesan menjadi Murji’ah padahal pandangan tersebut didukung oleh nash yang sharih (gamblang) dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 14 dan sunnah Nabi sebagaimana dalam shahih Muslim bab definisi Iman.

Abu Hanifah menilai pandangan masyarakat di daerahnya jika dibiarkan justru akan sejalan dengan Mu’tazilah atau Khawarij yang berkeyakinan bahwa orang yang menyelisihi aqidah mereka sebagaimana Murji’ah adalah bid’ah dan sesat. Imam Abu Hanifah merasa wajib memberikan klarifikasi agar jangan sampai mayoritas umat Islam, termasuk penduduk Kufah yang tidak maksum (terjaga dari dosa) dikafirkan karena perbuatan dosa atau keluputan amal mereka.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort