wahabi
wahabi

Wahabi bukan Pengikut Ulama Salaf, Ini Buktinya ?

Nabi saw bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” (HR. Bukhari dan lainnya)

Di samping hadits ini berkaitan dengan persaksian palsu ada makna lain yaitu pembuktian generasi umat terbaik sepanjang sejarah umat Islam. Mereka adalah umat yang hidup pada masa Nabi saw, pada masa sahabat dan tabi’in. Dalam catatan sejarah umat ini hidup pada abad pertama hingga abad ketiga Hijriyah yang dikenal kemudian dengan istilah ulama’ Salaf. Berangkat dari ini, kemudian kelompok Wahabi menisbatkan ajarannya kepada ulama’ Salaf bahkan merubah dirinya menjadi Salafi.

Hanya saja, apakah benar ajaran Wahabi yang dipersoalkan oleh mayoritas umat Islam ini benar-benar ajaran ulama’ Salaf ? Jawabannya tentu tidak. Dapat kita buktikan melalui aqidah dan amaliyah ulama’ Salaf. Antara lain:

  1. Aqidah antara ulama’ Salaf dan Wahabi

Perbedaan dalam aspek akidah antara ulama’ Salaf dengan Wahabi terlihat pada persoalan ayat-ayat sifat yang Mutasyabihah. Perbedaan akidah ini berangkat dari perbedaan metode penafsiran yang digunakan masing-masing kelompok. Ulama’ Salaf mayoritas ulama’ Salaf menetapkan sifat-sifat Allah swt tanpa memberikan makna. Sebagian yang lain mentakwil makna ayat sifat Allah swt kepada makna yang layak bagi_Nya[1]. Sekalipun kedua metode ini tidak sama, tetapi tetap satu tujuan, yaitu mentanzih (mensucikan) Allah swt dari penyerupaan sedikitpun terhadap makhluk.

Sementara pada Wahabi, sama sekali tidak setuju dengan dua metode yang digunakan ulama’ Salaf. Dalam menetapkan ayat sifat, mereka menggunakan pendekatan istbat makna (menetapkan arti) sesuai dengan arti dzohir. Konsekwensi dari metode ini membentuk pola pandangan bahwa dalam satu dimensi Allah swt memiliki kesamaan dengan makhluk dan memiliki jisim (anggota tubuh).

  1. Tidak mudah mengkafirkan umat Islam

Masyhur di kalangan ulama’ Salaf ungkapan:

لَا نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ

“Kami tidak mengkafirkan kepada seorang pun yang shalatnya menghadap kiblat”

Ungkapan ini juga pernah disampaikan oleh imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqhu al Akbar manakala ditanya tentang orang muslim yang berbuat dosa besar. Ia menjawab:

لَا نُكَفِّرُ مُسْلِمًا بِذَنْبٍ مِنَ الذُّنُوْبِ وَإِنْ كَانَتْ كَبِيْرَةً إِذَا لَمْ يَسْتَحِلَّهَا

“Kami tidak mengkafirkan orang muslim sebab dosa dari sekian banyak dosa, sekalipun itu dosa besar, selama ia tidak menganggap perbuatan tersebut halal”[2]

Begitu juga ulama Salaf lainnya seperti imam Syafi’i, Imam Malik, imam Ahmad bin Hanbal dan Jabir bin Abdillah dengan pernyataan yang sama tidak mudah mengkafirkan Ahlul Kiblah[3].

Mari kita bandingkan dengan fatwa-fatwa tokoh Wahabi. Ambil saja fatwa pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya Kasyfu Al Syubuhat:

ثُمَّ مِنْهُمْ مَنْ يَدْعُو الْمَلَائِكَةَ لِأَجْلِ صَلَاحِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللهِ لِيَشْفَعُوْا لَهُ أَوْ يَدْعُو رَجُلًا صَالِحًا مِثْلَ اللَّاتَّ، أَوْ نَبِيًّا مِثْلَ عِيْسَى. وَعَرَفْتَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَاتَلَهُمْ عَلَى هَذَا الشِّرْكِ وَدَعَاهُمْ إِلَى إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لِلّٰهِ وَحْدَهُ … وَ أَنَّ قَصْدَهُمُ الْمَلَائِكَةَ وَالْأَنْبِيَاءَ يُرِيْدُوْنَ شَفَاعَتَهُمْ وَالتَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ بِذَالِكَ، هُوَ الَّذِي أُحِلَّ دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ.

“Kemudian, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berdo’a kepada Malaikat karena keshalihan dan kedekatannya kepada Allah, agar mereka (malaikat) dapat memberikan syafaat baginya, atau mereka berdo’a kepada orang shalih seperti kepada Latta, atau kepada Nabi sebagaimana meminta kepada Nabi Isa as. Dan kamu telah mengetahui bahwasanya Rasulullah saw memerangi kesyirikan ini dan mengajak ikhlash beribadah kepada Allah satu-satunya. Dan bermaksudnya mereka kepada Malaikat dan para Nabi dengan tujuan mendapat syafaat dan dekat dengan Allah adalah hal yang menyebabkan halal darah dan harta mereka”[4].

Jika ulama’ Salaf sangat melindungi terhadap darah umat Islam, sementara Wahabi justru mengajak pengikutnya memerangi umat Islam. Di mana letak kesamaannya dengan ulama Salaf ?

Ini adalah sebagian contoh dari fatwa-fatwa mereka yang beringas itu.

  1. Ulama’ Salaf bertawassul dan bertabarruk

Kebiasaan ulama’ Salaf manakala kesulitan memperoleh hajatnya, mereka melakukan tawassul dan tabarruk kepada orang-orang shalih. Jika pada masa Nabi saw hidup, mereka bertabarruk langsung kepada Nabi saw. Setelah Nabi saw wafat, mereka bertabarruk melalui kerabat, peninggalan dan makam Nabi saw.

Sebuah riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar ra, yang menyimpan jubah milik Nabi saw. Asma’ berkata:

فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرِيضِ مِنَّا نَسْتَشْفِى بِهَا

“Kami membasuhnya untuk orang yang sakit, kami mengharap bisa sembuh berkat jubah tersebut” (HR. Ahmad bin Hanbal dan al Baihaqi)

Kebiasaan ulama’ Salaf ini tentu berbeda dengan kebiasaan Wahabi. Jika ulama’ Salaf senang bertabarruk dan bertawassul, justru Wahabi mengkafirkan orang-orang yang melakukan amaliyah tersebut.

Ini adalah sebagian bukti bahwa Wahabi tidak sesuai dengan ajaran ulama’ Salaf. Jargon yang selama ini digembar gemborkan sebagai pengusung ajaran ulama’ Salaf hanya sekedar untuk mengecoh orang-orang awam agar ajarannya bisa diterima dengan mudah. Padahal, ajaran yang diusungnya justru dibenci oleh ulama’ Salaf.

Wallahu a’lam

[1] Syarf An Nawawi, Syarh Muslim, Juz 1, Hal 323

[2] Abu Hanifah, Al Fiqhu Al Akbar, Hal 43

[3] Muhammad bin Musa al Itsyubi al Wallawi, Dhakhirah al Uqba fi Syarh al Mujtaba, Juz 37, Hal 157

[4] Muhammad bin Abdil Wahab, Kasyfu Al Syubuhat, Hal 4

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (4) : Hati-Hati dengan Jargon Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi

Jargon Wahabi “Kembali kepada al Qur’an dan Sunnah Nabi” sepintas memang benar dan bagus. Karena …

wahabi

Apakah Wahabi termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah ?

Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah pertama kali diperkenalkan oleh Ibn Abbas ra. ketika menafsirkan ayat 106 …