Pandemi Corona mengubah segalanya. Memaksa setiap aktifitas dilakukan di rumah saja. Bekerja dari rumah, bahkan belajarpun sekarang dari rumah. Pengajian online menjadi trend Ramadhan. Bahkan Peringatan Hari Besar Islampun dilaksanakan secara online sebagaimana  di Jawa Timur yang menggelar Peringatan Nuzulul Qur’an juga secara online. Namun, sayangnya, covid 19 tidak bisa dikirim kembali ke Wuhan secara online!

Tapi, bagaimana dengan Penyerahan Zakat Fitrah? Bisakah dilakukan secara Online? Semisal ditransfer . Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebaiknya kita perlu membincangkan kriteria barang dalam zakat fitrah.

Menurut Madzhab Mayoritas (Madzhab Malikiyyah, Madzhab Syafiiyah dan Madzhab Hanabilah) bahwa barang yang bisa dijadikan Zakat fitrah itu adalah berupa makanan pokok. Bisa beras, bisa jagung, dan lain lain (al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, Dr. Wahbah al-Zuhaili, 3/384).

Menurut Madzhab Hanafiyah, barang yang bisa dijadikan Zakat Fitah yaitu Gandum (hinthah) Jelai (Syair),  Kurma (Tamr) dan Anggur (Zabib). Ukuran wajibnya adalah 1 Sha’ Gandum (3,8 Kg) dan ½ Sha’  Jelai, Kurma dan Anggur (al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, Dr. Wahbah al-Zuhaili, 3/383).

Tentunya, dengan konsep seperti ini, mentransfer zakat fitrah sangatlah mustahil. Karena mesin ATM atau SMS Banking tidak bisa membaca kadar sebuah benda. Tapi jangan risau dulu. Menurut Madzhab Hanafiyyah ini, boleh kok membayar zakat fitrah dengan bentuk nilai mata uang (Qimah) dari barang barang di atas. Bila demikian, pendapat ini membuka peluang untuk membayar zakat fitrah dengan cara transfer.

Kenapa kok boleh dengan nilai? Madzhab Hanafiyah berpandangan bahwa nilai mata uang lebih bermanfaat bagi orang miskin. Alasannya, karena orang miskin pada hari raya bukan hanya makanan pokok yang dibutuhkan, mereka juga butuh barang yang lainnya.

Seperti kasus Idul Fitri di Indonesia, mereka yang kekurangan tidak hanya butuh beras, tetapi juga baju baru, sarung dan hidangan lain sehingga sama-sama merayakan kemenangan. Apabila zakat fitrah diberikan kepada mereka berbentuk nilai mata uang maka lebih memberikan kecukupan kepada. Apalagi di tengah pandemic saat ini akan banyak manfaat tidak hanya satu jenis barang pokok yang menumpuk. Bukankah spirit Zakat Fitrah untuk itu?! Mencukupi kebutuhan hari raya mereka.

Lalu, jika memang harus menggunakan uang dan bisa ditransfer masih menyisakan persoalan. Lalu bagaimana dengan niatnya? Bukankah niat itu harus bersamaan dengan ketika menyerahkan kepada si Miskin?!

Zainuddin al-Malibari berkata: niat tidak harus bersamaan dengan pembayaran Zakat Fitrah, namun cukuplah ketika menentukan sejumlah harta yang hendak dizakatkan. Semisal ketiaka mengetik sejumlah angka rupiah yang mau ditansfer sebagai Zakat Fitrah sudah bisa melakukan niat zakat fitrah. Artinya niatnya ketika berada di ruangan ATM atau saat memegang HP untuk transfer.

Jika dalam beras sudah ada takaran untuk zakat fitrah, lalu bagaimana dengan uang, berapakah jumlah rupiahnya?

Dalam kajian hukum Islam (Fikih) talfiq atau mengambil berbagai macam fatwa yang tidak memberatkan yang dianggapnya sesuai dengan kebutuhan itu sekalipun boleh tetapi tindakan yang tak terpuji. Dalam kasus zakat fitrah ini, jika kita mengikuti madzhab Hanafi dalam persoalan kebolehan zakat dengan mata uang, maka konsistensi bermadzhab dalam satu kasus hukum ini harus dilakukan agar tidak jatuh talfiq.

Karena itulah, konsep Zakat Fitrah dengan mata uang harus mengikuti madzhab Hanafiyah yang mengatakan bahwa jumlah Zakat Fitrah yang wajib di bayar adalah senilai 1 Sha’ Gandum (3,8 Kg gandum). Jika harga gamdung per kilonya adalah seharga 30.000, maka Zakat fitrah yang harus ditransfer adalah Rp. 114.000.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.