Ada masanya manusia dihadapkan dengan kegalauan dan berada di masa terendah. Masa di mana pikiran terasa gaduh dan akal sehat pun menjadi seakan sakit dan tak jernih. Kawan yang bernama diri seolah berubah menjadi lawan yang menarik dari lingkungan pertemanan. Semua terasa gelap dan menyeramkan. Hingga lisan pun sanggup untuk mengatakan “apa sebaiknya berpulang ?”

Bukan manusia namanya jika tidak lemah. Bukan manusia namanya jika tak berkeluh kesah. Bahkan perempuan terbaik sepanjang zaman, pernah depresi, hingga ingin mati.

Ialah Bunda Maryam, Ibunda Nabi Isa alaihi salam. Yang di kejutkan dengan kehamilan, padahal tak pernah sedikitpun bersentuhan. Saat fitnah itu datang Ia berkata, “betapa baiknya aku mati sebelum ini, menjadi seorang yang tidak dikenal dan dilupakan manusia”. Itulah ucapannya setelah berbulan-bulan mengurung diri. Tak kuat menghadapi fitnah orang-orang akan kehamilannya yamg tanpa ayah.

Akan tetapi Kegalauan yang Ia alami tak hendak menjadikan nya melarikan diri dari takdir Ilahi. Maryam justru ikhlas, tawakkal dan bersabar atas apapun yang Allah takdirkan. Walaupun hatinya merana, ia justru semakin giat beribadah, melahirkan nabi Isa seorang diri dan mampu membesarkannya dengan baik hingga menjadi Utusan Sang Pencipta langit dan bumi.

 Tentang kemuliaannya Al-quran menceritakan :

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim: 12)

Begitupun Bunda Hajar, Ibunda nabi Ismail , istri nabi Ibrahim alaihima salam. Wanita mana yang bisa mengalahkan ketangguhan beliau, diantarkan oleh suaminya ke gurun pasir yang sangat gersang bersama anaknya yang masih bayi, tanpa ada alamat kehidupan di gurun tersebut ia ditinggalkan. Tidak ada bekal, pun tempat tinggal.

Di saat yang sangat genting, saat nabi Ibrahim beranjak melangkahkan kaki dan mulai meninggalkannya, Hajar tidak tenggelam dalam kegalauan, Ia justru mampu menangkap pelajaran hanya dalam waktu yang sangat singkat. “Apakah ini perintah tuhanmu ?” Tanya Hajar saat nabi Ibrahim tetap pergi tanpa mengatakan apapun. Nabi Ibrahim mengagguk. “kalau begitu pergilah, sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berbuat baik”. Makkah yang berkemajuan kini pun sebenarnya berawal dari kisah perempuan ini. Bahkan peradaban yang dapat dirasakan kenikmatan nya hingga saat ini masih bisa dirasakan oleh banyak orang, yaitu sumur Zam-zam yang tidak pernah mengering airnya.

Tidak kalah  kegalauan yang diaalami Bunda Aisyah, Istri Rosulullah. Fitnah yang ditujukan kepada Istri tercinta nabi ini membuat seakan dunia nya runtuh, hari-hari nya menjadi gelap tak bercahaya. Air mata pun tak henti-henti nya mengalir di pipi yang kemerahan itu. Satu kota menggunjingnya, bahkan orang yang sangat Ia cintai pun seakan bungkam akan peristiwa itu. Tak ada yang yang membela, walau banyak yang tak percaya.

Semakin hari kesedihan Aisyah pun semakin bertambah, ternyata suami yang ia cintai, makhluk terbaik di muka bumi, ikut mempercayai berita tersebut. Kala itu Rasulullah saw. datang menemui Aisyah sambil mengucapkan syahadat, kemudian bersabda, “Wahai Aisyah, telah kudengar berita begini dan begitu mengenai dirimu. Jika memang engkau bebas dari tuduhan tersebut, tentu Allah akan membebaskanmu, dan jika engkau telah melakukan dosa, maka mohon ampun dan bertaubatlah kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya.”

Mendengar perkataan Rasulullah, Aisyah bagai tersambar petir dan air matanya pun terus mengalir tanpa henti karena suaminya mempercayai berita tersebut. Kemudian ia menanyakan pendapat orang tuanya mengenai berita yang menimpa dirinya, dari keduanya hanya jawaban sama yang ia dapatkan. Mereka hanya berpendapat dan berkata tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Tak ada yang mempercayainya, maka kesedihan Aisyah semakin bertambah.

Tetapi hal itu tidak membuatnya berpaling dari Rahmat Allah, justru Ia lebih mendekatkan diri nya kepada Sang yang Maha tahu atas kejadian yang ia alami. Pada saat ia tak mendapati seorang pun yang mempercayainya sekalipun orang tuanya, Aisyah mengatakan bahwa “demi Allah dirinya tidak mendapatkan perumpamaan antara dirinya dan orang tuanya, kecuali seperti perkataan ayahnya Nabi Yusuf yang terdapat dalam QS. Yusuf: 18 yang artinya “Maka bersabarlah, maka itulah yang terbaik (bagiku)’ dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” Kemudian Aisyah pergi dan berbaring di tempat tidurnya.

Begitulah cara manusia yang Allah abadikan dalam Al-quran merespon ujian dan kegalauan hidup yang mereka alami. Mereka cerdas berbincang dengan hati. Begitu pula jiwa manusia Allah ciptakan. Kita memang butuh sedih, agar mau berlama-lama berdoa, mengharap, mengadu dan merintih pada Allah. Kita memang butuh cemas, takut, khawatir dan tak berdaya, untuk belajar menyadarkan dan menggantungkan pertolongan hanya pada Allah. Kita pun butuh terpuruk dan terjatuh, untuk belajar bangkit, kuat, dan tangguh.

Pesan apa yang hendak Allah sampaikan ? bukalah mata hati, bukankah dalam setiap kejadian yang Allah hadirkan pasti terselipkan pesan ? temukan pesan itu, jangan biarkan ia berlalu. Sepahit apapun ujian, sungguh taka ada alasan lain selain Allah ingin menjadikan hamba-Nya lebih dekat kepada-Nya.

Masalahnya, sering kali kita tidak ingin membuka mata hati, tak ingin tahu, menganggap semua kejadian tak memiliki pesan. Padahal Allah telah berfirman :

وَلَا تَيْأَسُوْا مِنْ روْحِ الله إِنَّهُ مَنْ يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إَلَّا القَوْمُ الكَافِرُونَ

“…Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (Q.s. Yusuf [12]:87)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.