doa miskin
doa

Benarkah Nabi Berdoa Minta Miskin ?

“Ya Allah, hidupkanlah Aku sebagai orang miskin, matikan Aku sebagai orang miskin dan kumpulkan Aku bersama perkumpulan orang miskin”, untain do’a Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalur Abu Saed al-Khudri. Imam al-Baghawi (w. 516 H) menilai sanad atau mata rantai hadis ini dlai’f (lemah). Adapun ulama Mesir kontemporer Syekh Mahmoud Saed Mamduh yang dikenal dengan kritik hadisnya dalam mentahqiq kitab al-Naqd al-Shahih karya Shalah al-Din al-Ala’i  (w. 761) menilainya hasan (cukup kuat) dan memiliki jalur lain yaitu dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas dan Ubadah bin al-Shamit r.a. Tidak hanya Ibnu Majah yang meriwayatkannya, Imam Tirmidzi, al-Sirazi, Thabrani dan al-Baihaqi juga mencatat hadis tersebut. Artinya hadis ini cukup terkenal, disamping tidak bertentangan dengan kehidupan Nabi Muhammad Swt sendiri seperti diterangkan dalam kitab-kitab sejarah.

Do’a Nabi tersebut mencerminkan kehidupan Nabi dan keluarganya yang sangat sederhana. Nabi terbiasa dengan lapar, berpakaian murah dan tidur diatas tikar. Nabi tidak duduk diatas kursi yang tinggi, tidak makan kecuali roti gandum, tidak masak selama beberapa bulan berturut-turut. Nabi hidup sehari-hari dengan bekal air putih dan kurma, dan keluar rumah pun terbiasa  dalam kondisi lapar. Ini sesuai dengan do’a Nabi yang meminta miskin;

اللهُمَّ أَحْيِنِيْ مِسْكِيْنَا، وَأَمِتْنِيْ مِسْكِيْنَا، وَاحْشُرْنِيْ فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْنَ.

Apakah dengan kondisi  dan do’a ini Nabi hidup dalam keadaan miskin ? ataukah bahkan fakir ?. Tentu literatur sejarah menyimpulkan bahwa Nabi merupakan seorang fakir tapi bukan berarti fakir atau miskin mutlak. Sebab Nabi sendiri yang menghendaki dan memilih hidup sebagaimana orang-orang miskin, bahkan meminta sendiri kepada Allah melalui do’a secara khusus. Seandainya Nabi ingin hidup sebagaimana kehidupan orang-orang kaya, bahkan Crazy Rich sekalipun, itu hal yang sangat mudah. Nabi memiliki peluang kekayaan dari berbagai sisi, termasuk dari harta rampasan perang yang begitu melimpah. Namun, apa yang bisa didapatkan oleh Nabi justru dialihkan semua untuk program sedekah bagi kaum fakir miskin. Hal ini karena Nabi merupakan teladan bagi orang-orang kaya, pejabat, pemikir dan juga bagi orang-orang fakir, miskin dan kaum lemah.

Baca Juga:  Rahasia Puasa Senin Kamis yang Perlu Anda Ketahui

Ada tujuan yang tidak terkatakan. Jika seandainya Nabi hidup sebagai orang kaya, maka betapa banyak orang miskin dan lemah yang menganggap agama yang dibawah oleh Nabi sebagai agama kaum elit dan berduit, bukan agama yang tidak mengenal persamaan dan keadilan. Nabi bermaksud mengajari bagaimana seorang pejabat atau pemimpin dekat dengan rakyatnya, dicintai dan dita’ati. Begitu juga Nabi mengajari orang-orang kaya bagaimana berempati; merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang fakir miskin, kemudian membantu mereka sebagaimana  yang dicontohkan Nabi ketika menyantuni kaum muhajirin yang miskin papa dengan mewadahi mereka dalam komunitas Ahlus Suffah (pesantren).

Ketika Nabi memilih hidup miskin dan sederhana, maka orang-orang fakir juga merasa seperti Nabi dan tidak iri apalagi memusuhi orang-orang kaya. Orang miskin dan orang kaya ibarat satu tubuh yang membawa misi perjuangan Nabi. Jika diambil kesimpulan, Nabi secara mutlak mengajarkan hidup sederhana, baik bagi orang kaya maupun orang miskin. Jika orang kaya bisa hidup sederhana, maka masih ada ruang kesadaran bagi mereka untuk berbagi atau memberikan hak-hak orang miskin yang ada pada dirinya. Begitupun dengan orang miskin, kesederhanaan akan membuatnya mampu membagi apa yang dimiliki sesuai sklala prioritas kebutuhannya dan tidak sampai berlarut-larut dalam kondisi “besar pasak daripada tiang”.

Do’a Nabi tersebut juga bukan berarti Nabi hanya menyukai orang miskin dan tidak menyukai orang kaya sebab Nabi sejatinya “sangat kaya” dan sangat dermawan. Nabi justru mengharapkan umatnya bisa kaya tetapi mencontoh ketakwaan dan kedermawanan Nabi sebagaimana Nabi ketika berkumpul dengan sahabat-sahabat yang kaya berdo’a meminta kaya;

اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, sungguh kami meminta kepadamu petunjuk, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram) dan kekayaan”.

Baca Juga:  Pintu Taubat Selalu Terbuka, Tak Perlu Memvonis Orang Lain Sebagai Pendosa

Dari dua do’a Nabi yang nampak berlawanan tersebut, nampak bahwa orang kaya maupun miskin sama-sama diperintahkan untuk sederhana. Nabi tidak bermaksud memberikan contoh kepada umatnya agar hidup miskin, melainkan memberikan contoh agar hidup sederhana dan menjadi kaya, tentunya tanpa menghalalkan segala cara. Orang miskin tidak perlu malas atau bertahan dengan kemiskinannya. Nabi mengajarkan bagaimana hidup produktif dengan sumber daya yang dimiliki tanpa berlaku dzalim kepada kepada siapa pun, termasuk kepada diri sendiri. Jadi dalam hal ini Nabi bukan miskin mutlak, tetapi kaya mutlak sebab kekayaan sesungguhnya tidak diukur dengan banyaknya materi, tetapi banyaknya kedermawanan dan kemurahan hati.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

pengabdian sosial

Pengabdian Sosial Merupakan Kemuliaan Orang Islam

Indonesia merupakan negara yang kaya institusi sosial yang membuat masyarakat tidak kehabisan tempat atau sarana …

prasangka

Cara Ulama Salaf Melawan Prasangka Buruk

Prof. Jamal Faruq seorang ulama al-Azhar Mesir mengutip pernyataan Syekh Abderrahman Habankah al-Maidani bahwa diharamkannya …