suara perempuan
sifat perempuan

Benarkah Suara Perempuan Diharamkan dalam Islam?

Sering terdengar dari selentingan tokoh mengatakan bahwa perempuan haram bernyanyi, mengeraskan suaranya, dan lain sebagainya. Suara perempuan baik secara langsung ataupun melalui handphone dapat mengakibatkan lelaki menjadi bersyahwat, oleh karenanya suara perempuan tergolong aurat. Benarkah suara wanita adalah aurat menurut agama Islam?

Ali as-Sobuni dalam kitabnya yang berjudul Rowai’ul Bayan menjelaskan bahwa Islam mengharamkan setiap sesuatu yang mengakibatkan fitnah dan tipu daya. Oleh karena itu wanita dilarang berjalan dengan menghentakkan kaki sehingga lelaki dapat medengar suara gelang kakinya. Perbuatan tersebut dapat membangkitkan syahwat lelaki.[1] Allah swt. Befirman dalam surat an-Nur ayat 31

{وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ} [النور: 31]

“…Dan janganlah mereka menghentakkan kakiknya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan …”

Menurut Imam al-Jassas, surat an-Nur ayat 31 menjadi tanda bahwa perempuan dilarang mengeraskan suaranya ketika suara tersebut dapat menimbulkan fitnah. Oleh karenanya wanita dimakruhkan adzan, sebab adzan harus mengeraskan suara.

Sedangkan imam syafi’i mengatakan suara wanita bukanlah aurat, dengan dalil perempuan boleh melakukan jual beli dan boleh bersaksi didepan hakim yangmana keduanya diharuskan mengangkat suara untuk berbicara. Al-Alusi menguatkan pendapat Imam Syafi’i, beliau berkata pada dasarnya suara perempuan bukanlah aurat namun jika suara tersebut mengakibatkan fitnah maka menjadi haram.

Ali as-Sobuni berkomentar dalam kibatnya Rowai’ul Bayan, “Hendaklah para suami melarang wanita melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan fitnah dan tipu daya, seperti keluar rumah dengan pakaian ketat, mengangkat suara, berjalan lenggak-lenggok, dan merendahkan suara.”[2] Allah swt. Berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 32.

{فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا } [الأحزاب: 32]

Baca Juga:  Hukum dan Dahsyatnya Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura

“…maka janganlah kamu tunduk /rendah dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”(QS, al-Ahzab:32)

Imam Mundhir ar-Raisi menjelaskan, yang dimaksud dengan tunduk/rendah dalam surah al-Ahzab ayat 32 yakni larangan mengeluarkan suara yang menimbulkan keinginan laki-laki untuk bertindak tidak senonoh pada wanita.[3]

Dengan demikian, jelaslah bahwa suara wanita bukanlah aurat  jika digunakan sesuai kebutuhan, seperti menjawab pertanyaan, memberikan informasi, menawar, berdagang, diskusi, musyawarah,memberikan nasihat, dan lain sebagainya.


[1] Ali as-Sobuni, Rowai’ul Bayan,(Beirut Lubanon, Dar al-Kutub Islamiyah) jus 2 hal 120

[2] Ali as-Sobuni, Rowai’ul Bayan, (Beirut Lubanon, Dar al-Kutub Islamiyah)jus 2 hal 121

[3] Iis Nur Aeni dan Novi Hidayati, ternyata wanita bukan makhluk lemah (bandung, cet pertama 2010, hal 29)

Bagikan Artikel ini:

About Laila Farah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo

Check Also

kebiasaan tidur rasulullah

Tirulah Kebiasaan Tidur Rasulullah Bantu Jaga Kondisi Tubuh

Tidur merupakan kebutuhan manusia yang sangan penting. Tidur juga merupakan salah satu cara manusia mengistirahatkan …

tertawanya rasulullah

Tertawanya Rasulullah saw

Tertawa adalah respon normal manusia ketika merasa senang dang bangga. Namun tekadang, tawa juga merupakan …