Bingung Doa Perlindungan dari Corona, Berdoa Tidak Harus Menggunakan Bahasa Arab

0
1306
berdoa

Berdoa tidak harus dengan bahasa Arab. Berdoalah dengan bahasa yang bisa dipahami maknanya.


Di tengah wabah corona yang semakin mengganas kekhawatiran muncul. Ikhtiar pun telah dilakukan, tetapi rasa khawatir tetap menggejala. Hanya pertolongan kepada Allah adalah tempat terakhir. Namun, untuk meminta tolong dengan doa kadang kita bingung harus doa apa dan bagaimana bacaannya?

“Berdoalah Kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. al A’raf: 55)

Hukum berdoa adalah sunnah. Sebagaimana dalam al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Quwaitiyah, Jumhur Ulama baik ulama salaf maupun ulama khalaf serta ulama ahli hadis bersepakat bahwa doa disunnahkan bagi setiap umat Islam. Doa merupakan senjata ampuh bagi orang mukmin.

Namun bahasa apa yang sebaiknya dipakai ketika berdoa tidak disebutkan secara detail dalam al Qur’an maupun hadis. Seperti pada ayat di atas, bila membaca kitab tafsir, seperti tafsir al Mawardi dan tafsir al Razi, Allah tidak menyebutkan secara detail tata cara dan teknis berdoa dan dengan bahasa apa.

Di dalam ayat di atas hanya menjelaskan prinsip umumnya saja. Yakni berdoa harus dengan sikap tadharru’ (rendah diri),  khufyah (suara yang lembut) dan tidak i’tida’ (melampaui batas). Dan khusus masalah bahasa yang digunakan belum disinggung.

Rasulullah juga tidak pernah menyinggung soal bahasa dalam doa. Walaupun doa-doa yang diajarkan oleh beliau dalam bentuk bahasa Arab, tetapi ketika beliau mengajarkan bagaimana cara berdoa yang mudah dikabulkan, tidak pernah menentukan bahasa Arab.

Berangkat dari sini, Jumhur Ulama sepakat bahwa ketika berdoa boleh menggunakan bahasa apa saja. Kecuali khusus bacaan-bacaan dalam shalat. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’atu Ibnu Taimiyah dan kitab al Islamu Sualun wa Jawabun, menerangkan bahwa berdoa menggunakan bahasa Arab atau bahasa non Arab diperbolehkan karena Allah maha mengetahui maksud dan kehendak orang yang berdoa.

Karena itulah, di tengah kondisi wabah seperti saat ini, kekuatan umat Islam adalah berikhtiar dan berdoa. Tidak perlu bingung untuk menguntaikan doa perlindungan kepada Allah. Allah Maha Mendengar dan Mengetahui apapun maksud hambanya.

Namun yang lebih utama bila seseorang paham terhadap maknanya, tentu berdoa dengan menggunakan bahasa Arab. Karena doa-doa yang Warid (datang) dari Rasulullah semuanya menggunakan kalimat-kalimat Arab. Di samping karena bahasa Arab merupakan bahasa yang dipilih oleh Allah sebagai bahasa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Yakni al Qur’an.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa al Quran adalah kitab yang paling mulia, memakai bahasa paling mulia, diperuntukkan untuk Rasul paling mulia, disampaikan oleh malaikat paling mulia, diturunkan di tempat paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan mulia, yaitu bulan Ramadhan.

Dari sini kita bisa menilai bahwa bahasa Arab memiliki keistimewaan lebih dari bahasa non Arab yang lain. Karena itu harus selalu mengupayakan dalam berdo menggunakan bahasa Arab serta paham terhadap maknanya.

Jika tidak paham dan tidak mampu menggunakan bahasa Arab, bahasa apapun yang bisa dilakukan asal dengan prinsip tadharru’ (rendah diri),  khufyah (suara yang lembut) dan tidak i’tida’ (melampaui batas) serta dengan hati ikhlas insyallah akan dikabulkan oleh Allah.