masjid ditutup karena PPKM
masjid ditutup karena PPKM

Gagal Paham Masjid Ditutup karena PPKM Darurat, Ini Dalilnya

Kembali jagat ruang publik dihebohkan dengan pembatasan aktifitas masyarakat yang salah satunya penutupan masjid yang berada di zona gawat Pandemi, zona merah. Umat Islam tidak diperkenankan melakukan ibadah di masjid maupun mushalla sebagai upaya pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 yang tambah mengganas.

Hal ini terjadi setelah pemerintah mengambil langkah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diantara isinya adalah menutup sementara waktu tempat-tempat ibadah seperti masjid, mushalla, pura, wihara, gereja dan tempat ibadah yang lain. Dan tentu saja bukan sekedar tempat ibadah, tetapi pusat keramaian seperti pusat perbelanjaan dan sebagainya.

Akibat dari ini, sebagian umat Islam gagal paham, sehingga mereka menjadi ramai ketika pintu-pintu menuju Tuhan ditutup untuk sementara waktu. Agaknya, mereka menyangka hal ini sebagai upaya untuk menyekat hubungan mereka dengan Tuhan. Melarang mereka untuk beribadah. Asumsi demikian tidak hanya mengkontaminasi kalangan awam saja, pendakwah kondang seperti Abdul Somad juga geram dengan keputusan itu.

Dalil Kondisi Darurat Mewajibkan Kebijakan PPKM Darurat

Pertanyaan dasarnya, apakah masjid ditutup karena PPKM yang berada di zona merah merupakan pengkhianatan pemerintah terhadap umat Islam? Atau berarti kebijakan itu adalah islamofobia? Atau dengan nada sadis berarti pemerintah mendzalimi umat Islam?

Satu kaidah fikih berbunyi, “Kebijakan (pemimpin) yang berkaitan dengan urusan rakyat harus didasarkan pada maslahat”.

Dengan mengacu pada kaidah ini, sejatinya setiap kebijakan pemerintah harus didasarkan pada kepentingan publik. pertanyaannya., apakah PPKM darurat sudah mengandung kepentingan publik?

PPKM Darurat adalah kebijakan yang dibuat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang sedang merajalela dan memakan banyak korban.  Oleh karenanya, mal, pertokoan, tempat ibadah, perkantoran dan lain-lain harus dibatasi atau bahkan ditutup untuk sementara waktu. Sejatinya, bukan persoalan masjid ditutup karena PPKM, tetapi karena semua tempat yang menimbulkan kerumunan yang berpotensi menjadi media penyebaran virus yang saat ini lagi menggila harus ditutup sementara.

Baca Juga:  Beberapa Masjid di DKI Tetap Gelar Salat Jumat, MUI: Tak Ada Jaminan Semua Jemaah Sehat

Dari sini jelas, bahwa masjid ditutup karena PPKM merupakan ikhtiar pemerintah dalam mewujudkan kemaslahatan rakyat, yakni upaya menjaga jiwa dari kematian. Baik tempat ibadah, mal, pusat keraimaian lainnya adalah potensi kerumunan yang bisa mempercepat penularan covid-19.

Apakah negara dalam hal ini pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan seperti itu? Jawaban tegasnya : harus!. Hal ini sebagaimana sabda Nabi : “Barang siapa yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati dalam keadaan tidak menginginkan kebaikan untuk rakyatnya, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya”. (Bukhari dan Muslim).

Hadist ini merupakan anjuran kepada kalangan pemimpin untuk mengambil kebijakan yang mampu membawa dan menata kebaikan masyarakat. Dari hadis ini pula muncul kaidah fikih di atas. Dan, apabila dicerna lebih dalam justeru pemberlakuan PPKM Darurat orientasinya untuk kemaslahatan masyarakat. Apa maslahat itu? Yaitu terhindar dari kematian akibat terpapar Virus Corona.

Menutup Masjid karena PPKM Darurat Sesuai Hukum Syariat

Tapi kenapa masjid yang ditutup? Bukankah ia tempat beribadah kepada Tuhan?

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan pertanyaan juga, kenapa kalau terjadi hujan lebat shalat Jum’at tidak wajib dan boleh diganti shalat dhuhur di rumah?. Hujan adalah illat (alasan hukum) yang menarik rukhshah (dispensasi) gugurnya kewajiban shalat Jum’at. Masih banyak contoh untuk kasus seperti ini.

Pertanyaan berikutnya untuk menjawab pertanyaan kenapa masjid ditutup karena PPKM adalah lebih utama mana menjaga keselamatan jiwa dengan shalat di masjid di masa Pandemi, lebih-lebih masjid yang berada di zona merah? Bukankah menjaga jiwa merupakan salah satu pilar dasar dari dharuriyah al Khamsah yang menjadi pijakan semua hukum Islam?

Dalam ushul fikih dikenal istilah dharuriyah al Khamsah, lima elemen primer yang harus dipenuhi dan dijaga sebab bila diabaikan akan merusak sendi kehidupan manusia. Yaitu, menjaga agama, jiwa, akal, kehormatan dan keturunan. Terhadap lima elemen primer inilah semua hukum Islam didasarkan. Artinya, muara semangat hukum dan ajaran dalam Islam adalah terpeliharanya kelima dasar kebutuhan manusia tersebut.

Baca Juga:  Penutupan Masjid Selama PPKM Darurat Sesuai Dengan Hukum Syariat dan Hukum Alam

Sebagai contoh, dalam rangka menjaga jiwa, bangkai yang hukumnya haram menjadi halal bagi seseorang yang mengalami kelaparan dan mengancam kematian. Situasi seperti ini disebut darurat. Sekali lagi, yang haram menjadi haram karena darurat. Apalagi yang mubah, sunnah, atau makruh.

Bila ditarik pada konteks masjid ditutup karena PPKM Darurat, tentu sangat mudah dipahami. Selain shalat Jum’at, hukum mengerjakan shalat wajib secara berjamaah di masjid hukumnya khilaf. Ada yang wajib dan ada yang berpendapat sunnah mu’akkadah. Oleh karena itu, untuk dan demi menjaga keselamatan jiwa, hukum wajib ataupun sunnah mu’akkadah tetap tunduk pada yang lebih utama, yakni menjaga jiwa.

Tegasnya, tidak mengerjakan shalat di masjid karena khawatir terhadap keselamatan jiwa, apalagi di zona merah, adalah sesuatu yang diperintahkan oleh syari’at Islam, bukan melanggar perintah. Justeru bila tetap memaksa shalat di masjid dengan mengabaikan keselamatan jiwa merupakan pelanggaran terhadap hukum syari’at.

Dapat tegaskan bahwa masjid ditutup karena PPKM darurat bukan mencerminkan lebih takut kepada virus dari pada kepada Tuhan, tetapi semata menjalankan perintah syariat ketika dalam kondisi darurat untuk menjaga keselamatan jiwa.

Karena itulah, janganlah memprovokasi dengan dalil keagamaan di tengah kondisi darurat yang seolah ada kebijakan menutup dan melarang orang beribadah. Ibadahpun membutuhkan ilmu. Dan penceramah pun harus menjelaskan cara ibadah dengan ilmu, bukan sekedar berbusa-busa mengeruk emosi umat. Cerdaskan umat di tengah pandemi, jangan justru memprovokasi.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kiamat

5 Pertanyaan Allah Kepada Manusia di Hari Kiamat

Mati itu pasti. Setiap orang, setiap yang bernyawa pasti mati. Selain Allah, semua pasti mati. …

Toa masjid

Apakah Perintah Mengeraskan Suara Adzan Harus Memakai TOA?

Sejak pertama kali ditemukannya teknologi mutakhir dengan Branding TOA, hingga saat ini ia menjadi branding …