Di dalam sejarah Islam diketahui bahwa menjelang 88 hari Rasulullah SAW meninggalkan dunia fana menuju kepada keharibaan Sang Kekasih tercinta, nabi Muhammad SAW menunaikan rukun islam yang kelima yaitu ibadah haji, yang dikenal kemudian sebagai “Hajjatul Wada” (haji perpisahan), yaitu ibadah haji yang pertama dan terakhir dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad SAW sepanjang hidupnya.

Pada tanggal 9 Zulhijjah Tahun ke-12 setelah hijrah, Nabi Muhammad SAW bersama sahabat-sahabatnya dan para jama’ah haji yang lain dari berbagai pelosok dunia melaksanakan wukuf di padang Arafah.  Dalam prosesi pelaksanaan ritual wukuf – pada saat itu – Rasulullah SAW menyampaikan khutbah wukufnya yang monumental di hadapan seluruh jama’ah haji yang memadati bukit Afarah.

Pada hari sejarah itu pula Allah SWT menurunkan kepada Rasul-Nya ayat Al-Qur’an, yang diklaim sebagai “surat perpisahan” Nabi Muhammad SAW dengan umatnya di dunia. Allah berfiman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا…

Terjemah Arti: “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan atasmu ni’mat-Ku serta Aku rela Islam sebagai agamamu” (QS. Al-Maidah: 3).

Usai mendengarkan ayat terakhir itu dibacakan oleh Rasulullah SAW dengan sangat syahdunya, maka Abu Bakar bin Asshiddiq ra. langsung menangis tersedu-sedu. Lalu, para sahabat yang lain bertanya: Apa yang membuatmu menangis sedahsayat itu wahai Abu Bakar, bukankah itu hanya ayat Al-Qur’an seperti biasa juga diterima oleh rasullah SAW dari Allah?

Abu Bakar menjelaskan: Bahwa yang terakhir ini sangat berbeda,,, ayat ini adalah ‪”jemputan” kepada nabi Allah yang tercinta, Muhammad SAW. Para sahabat yang hadir terdiam sejenak dan setelah itu mereka sibuk kembali menyempurnakan rangkaian prosesi manasik hajinya masing-masing, serta melupakan peristiwa Abu Bakar itu hingga Rasulullah SAW pulang ke Madinah Munawwarah bersama rombongan yang menyertainya.

Ayat yang Terakhir dari Al-Qur’an Diturunkan

Tercatat pada hari Sabtu (3/3/12 H), atau hari minus 9 menjelang ajal nabi Muhammad SAW, Allah kembali menurunkan kepada rasul-Nya ayat yang paling terakhir – secara mutlak – yang diturunkan dari seluruh ayat-ayat Al-Qur’an yang ada di dalam Mashaf Suci yang ada di tangan kita sekarang. Allah berfirman:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Terjemah Arti: “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-Baqarah: 281).

Setelah ayat yang paling buntut dari ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan, maka kondisi kesehatan Rasulullah SAW sudah mulai drop dan merasa lemah.

Ziarah Ke Makam Uhud

Pada hari Senin, seminggu sebelum meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya, Nabi Muhammad SAW merasakan rindu sekali kepada para syuhada Uhud dan meminta di antarkan ke bukit Uhud untuk menziarahi makam mereka.

Di taman Uhud nabi Muhammad SAW menyalami satu persatu para syuhada Islam yang di makamkan di sana sambil menyalami/mendo’akan mereka satu persatu dengan ungkapan salam populer nabi untuk mereka, yang (juga) sudah menjadi sunnah yang diucapkan oleh umat islam setiap berziarah atau melewati kuburan umat islam, yaitu:

السلام عليكم يا أهل أحد، أنتم السابقون وإننا إن شاء الله اللاحقون، وإني إن شاء الله لاحق

Artinya: (Salam sejahtera atasmu wahai para penghuni Uhud, kalian telah pergi mendahului dan kami (semua), insya Allah, akan menyusul, dan aku pun, insya Allah, (segera) menyusul).

Nabi Merindukan Umat Saat ini

Sepulang dari Uhud itu nabi Muhammad SAW didapati bersedih hati dan menangis sejadi-jadinya tanpa sebab diketahui, sehingga orang-orang di sekitarnya keheranan dan bertanya: Apa yang membuatmu menangis sehisteris ini wahai rasul Allah?

Nabi menjawab seraya bersabda: (Aku sangat merindukan “saudara-saudaraku”).

Para sahabat yang hadir menimpali: Bukankah kami ini saudara-saudaramu wahai rasul Allah?

Nabi bersabda: Bukan..! Kalian adalah sahabat-sahabatku, dan saudara-saudaraku itu adalah mereka yang datang sesudahku, dan beriman kepadaku sedangkan mereka tidak melihatku.

Khutbah Terakhirnya di Hadapan Umat

Malam Jum’at, nabi Muhammad SAW tidur di rumah ummul mukminin Maimuna ra. Lalu setelah shalat Fajar nabi memerintahkan kepada istri-istrinya berkumpul dan meminta izin kepada mereka dibolehkan beristirahat penuh di rumah Aisyah ra. dan mereka pun senang hati dan merelakannya.

Kondisi kesehatan beliau semakin kritis. Selanjutnya nabi Muhammad SAW berusaha bangkit dari tempat tidur, tetapi tidak kuasa mengangkat tubuhnya, maka datanglah kedua sahabat sekaligus sepupunya yaitu Ali bin Abu Thalib dan al-Fadl bin al-Abbas membantu nabi dan memapanya menuju ke rumah Ummul Mu’minin Aisyah ra.

Adalah Ummul Mu’minin Aisyah ra. menceritakan saat-saat kritis nabi SAW, menuturkan: Pada saat Rasulullah masuk ke rumah kami, kondisi kesehatannya sangat kritis hingga sekujur tubuhnya yang mulia berpeluh dan bermandikan keringat, aku mendengar dari bibir beliau senantiasa mengucapkan: “Laa Ilaha Illallah, inna lil-mauti lasakaratun” (Tiada Tuhan selain Allah, bahwasanya kematian itu sungguh menyesakkan).

Mengetahui kondisi kesehatan Rasulullah SAW sedang kritis tersebut, para sahabat menjadi panik dan merisaukan kesehatan Beliau sehingga mereka berkerumun di sekitar pelataran rumah Aisyah ingin mengetahui perkembangan kesehatan orang yang mereka cintai itu. Tetapi Nabi Allah yang mendengarkan suara-suara gaduh dari luar itu bertanya: “Ada apa gerangan mereka ribut-ribut di luar?”

Lalu, Aisyah menjawab (sambil menangis) memberi tahu bahwa: Mereka memprihatikan kondisi kekasih Allah seperti ini. Maka nabi Muhammad SAW memaksakan diri menemui mereka dan Beliau dipapah naik ke atas mimbar. Dan itulah Khutbah terakhir nabi Muhammad SAW dan juga merupan penampilan yang terakhirnya di depan publik. Nabi berpesan dalam khutbah bersejarahnya tersebut, bersabda:

Artinya: “Wahai sekalian manusia, kalian seakan-seakan sangat mengkhawatirkan diriku,,,
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya scenario perjumpaan kalian dengan-ku bukanlah di dunia ini,,, tetapi perjumpaan kalian dengan-ku (sesungguhnya) telah diatur di telaga surga, dan – demi Allah – kini aku sudah amat merindukan hal itu,,,
“.

Nabi Muhammad SAW Wafat

Rasulullah tercinta Muhammad SAW menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang di atas pangkuan ummul mu’minin Aisyah ra pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ke-13 H. dalam usia 63 tahun, dan dimakamkan di Rumah ummul mu’minin Aisyah ra di Madinah Munawwarah.

Nabi Muhammad SAW meninggalkan kepada umatnya dua warisan suci, yang sangat mahal sehingga tak dapat dinilai dengan apapun di dunia, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang jika ummat ini berpegang teguh kepadanya maka ia tidak akan tersesat selamanya, serta Islam pasti akan berjaya di atas segala budaya dan peradan global yang ada.

Maka: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah dan (sampaikanlah) salam taslim kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.