ummu salamah

Ummu Salamah: Pejuang Keadilan Perempuan yang Menggetarkan Langit

Kita mengenal beberapa perempuan dengan pemikiran yang mengguncangkan berjuang untuk kesetaraan hak dengan laki-laki. Menuntut “Keadilan Gender”. Mereka tampil karena merasa berada dalam sekam diskriminasi yang sangat akut mendepak mereka untuk berperan di wilayah publik.

Dalam keyakinan pejuang feminis ini, perempuan sebagaimana juga laki-laki sama-sama memiliki marwah sebagai “Abdullah” atau hamba Allah yang paripurna. Untuk itulah, maka harus diperjuangkan karena sebagian hak itu coba dihilangkan oleh oknum laki-laki untuk kepentingan tertentu. Berangkat dari sinilah mereka kemudian melakukan “jihad gender” untuk keadilan gender.

Menyebut diantaranya adalah Amina Wadud, Fatema Mernissi, Aisha al Shati, Nazirah Zayn, Zainab al Ghazali, Heba Raouf Ezzat, Leila Ahmed dan jihadis jender yang lain.

Dengan penanya mereka menulis kritik tajam untuk mendobrak akutnya ketidakadilan gender. Sebagian menjelma menjadi penafsir feminis dan membangun penafsiran kesetaraan gender. Tentu saja maksudnya adalah kesamaan hak publik bukan kodrat penciptaan.

Suara dan tulisan mereka menggema dan mengguncangkan, tapi pusatnya ternyata adalah Ummu Salamah, pejuang gender masa Nabi yang suaranya didengar oleh Allah.

Dimuat dalam hadis riwayat Turmudzi dan Hakim, suatu ketika Ummu Salamah mengadu kepada Nabi, “Wahai Rasulullah! Aku tidak mendengar sama sekali bahwa Allah menyebut sesuatu tentang perempuan dalam berhijrah“?

Aduan Ummu Salamah ternyata didengar oleh Allah. Lalu turunlah ayat sebagai respon terhadap kritik Ummu Salamah tersebut.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”. (Ali Imran: 195).

Baca Juga:  Shafiyah: Istri Jelita Rasulullah Keturunan Yahudi

Riwayat Hakim yang lain menyebutkan, Ummu Salamah berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah! Engkau hanya menyebut laki-laki saja, dan engkau tidak menyebut perempuan.

Kemudian turun ayat:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (al Ahzab: 35).

Dialah Ummu Salamah yang memprakarsai keadilan gender. Firman Allah di atas menjadi bukti bahwa perempuan juga memiliki marwah kemanusiaan yang sama dengan laki-laki. Karenanya, diskriminasi terhadap perempuan sangat dilarang.

Ummu Salamah adalah sosok pejuang kesetaraan perempuan yang sebenarnya sebelum persamaan hak perempuan digembar-gemborkan seperti saat ini. Memang Islam tidak pernah memposisikan perempuan sebagai orang nomor dua dalam kehidupan sosial mikro dan makro. Islam selalu menjadikan perempaun setara dalam perolehan hak dan tanggungjawab, tak terkecuali persoalan hijrah yang digagas oleh Ummu Salamah.

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo