Sosok Imam Al-Ghazali selain dikenal luas sebagai seorang ulama, pendidik, sufi, juga seorang filusuf, ahli pikir, dan pengarang yang produktif. Al-Ghazali banyak sekali meninggalkan warisan dalam bentuk karya yang banyak memberikan kontribusi positif bagi pemikiran umat Islam, seperti Ihya Ulum al-Din, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Al-Munqiz min al-Dhalal, Mizan al-‘Amal.

Sebagai seorang ahli pikir dan filusuf, ia pernah melontarkan sanggahan kritis dan keras terhadap pemikiran para filusuf. Kritik pedas tersebut ia tuangkan dalam bukunya yang terkenal Tahafut al-Falasifat (The Inkoherence of the fhilosopher; Kerancuan Pemikir Para Filosof).

Persoalan yang timbul dalam melihat Al-Ghazali dan filsafat bersumber pada kritik Al-Ghazali terhadap filusuf, bukan pada sistem pemikiran filsafat Islam saja, tetapi juga filsafat Yunani. Ia pelajari bukan hanya filsafat  Al-Farabi dan Ibnu Sina, tetapi juga filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Al-Ghazali menemukan pemikiran para filusuf lain tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Bahkan ia berpendapat bahwa dalam pikiran para filusuf itu terdapat kekacauan, dan bahkan layak disebut “kafir”.

Ke-qadim-an alam

Misalnya, tentang tema ke-qadim-an (keabadian) alam. Pada umunya, menurut pengamatan A-Ghazali, para Filusuf muslim berpendapat bahwa alam ini qadim, artinya wujud alam bersamaan dengan wujud Allah. Artinya, Allah itu qadim, maka terjadinya alam merupakan suatu keniscayaan dan hal ini menjadi qadim keduanya (Allah dan Alam).

Al-Gazali berpendapat, bahwa tidak ada halangan apapun bagi Allah menciptakan alam dari sejak alam azali dengan iradah-Nya yang kadim pada waktu diadakannya. Sementara itu ketiadaan wujud alam sebelumnya karena memang belum dikehendaki-Nya.

Memang wujud Allah lebih dahulu dari alam dan zaman. Zaman baharu dan diciptakan. Sebelum zaman diciptakan tidak ada zaman. Pertama kali adalah Allah, kemudian ada alam karena diciptakan Allah.

Jadi, dalam keadaan pertama kita bayangkana adanya Allah saja, dan dalam keadaan kedua kita bayangkan ada dua esensi, yakni Allah dan alam, dan tidak perlu kita bayangkan adanya esensi yang ketiga, yakni zaman. Zaman adanya setelah adanya alam, sebab zaman adalah ukuran waktu yang terjadi di alam.

Persoalan juz’iyyat dan hari kebangkitan

Para Filusuf Muslim berpendapat Allah hanya mengetahui zatnya dan tidak mengetahui yang selain-Nya (juz’iyyat). Ibnu Sina mengatakan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang kulli.

Alasan para Filusuf Muslim, Allah tidak mengetahui yang juz’iyyat, bahwa di ala mini selalu terjadi perubahan-perubahan, jika Allah mengetahui rincian perubahan tersebut, hal itu akan membawa perubahan kepada zat-Nya. Perubahan pada objek ilmu akan membawa perubahan pada yang punya ilmu (bertambah atau berkurang). Ini mustahil terjadi pada Allah.

Menurut  Al-Gazali, perubahan pada objek ilmu tidak membawa pada perubahan ilmu. Karena ilmu merupakan idhafah (sesuatu rangkaian yang berhubungan dengan zat). Jika ilmu berubah tidak membawa perubahan pada pada zat, dalam artian keadaan orang yang mempunyai ilmu tidak berubah.

Logikanya adalah, bila seorang berada di kanan anda, lalu berpindah ke kiri, kemudian berpindah ke depan atau belakang, maka yang berubah adalah dia bukan anda. Demikian pula dengan ilmu  Allah. Ia mengetahui segala sesuatu dengan ilmunya sejak zaman azali dan tidak berubah meskipun alam yang diketahui-Nya mengalami perubahan.  Untuk memprkuat argumennya, Al-Ghazali mengemukakan ayat al-Qur’an surat Yunus: 61, dan Al-Hujuraat: 16.

Termasuk pula tentang anggapan sebagian Filusuf muslim, yang mengatakan, kelak yang akan dibangkitkan di akhirat adalah rohani, sedangkan jasmani akan hancur. Jadi, yang akan merasakan kebahagiaan atau kepedihan adalah rohani saja.

Al-Ghazali justru membantah pendapat itu bahwa akal saja dapat memberikan pengetahuan final dalam masalah metafisika. Menurut Al-Ghazali, tidak ada alasan untuk menolak terjadinya kebahagiaan atau kesengsaraan fisik dan rohani secara bersamaan.

Al-Ghzali mengutip firman Allah dalam hadis Qudsi : “Tidak seorang pun  mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.” Demikian juga firman-Nya: “Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh apa yang tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan tidak terlintas dalam hati manusia”.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.