Wudhu Air Hangat

Hukum Berwudlu’ atau Mandi Besar Menggunakan Air Hangat

Selain air segar yang langsung mengalir dari sumber mata air murni, air hangat juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Sebagian orang menjadikan mandi air hangat sebagai kebiasaan tanpa mengetahui manfaatnya. Mungkin saja di saat cuaca dingin atau di daerah yang memang bersuhu dingin mandi air hangat bertujuan untuk menghangatkan tubuh dari serangan udara dan cuaca dingin.

Mandi air hangat menjadi alternatif melawan cuaca dingin yang sedang terjadi di luar sana, sehingga aktifitas mandi tetap berjalan tanpa khawatir kedinginan. Di samping sebagai kebiasaan dan bertujuan menghangatkan suasana di saat cuaca dingin, mandi air hangat memiliki berbagai macam manfaat. Beberapa manfaat mandi air hangat di antaranya, menurunkan tekanan darah, menghilngkan stres, mengatasi flu dan sakit kepala, mengatasi susah tidur, melembabkan kulit, menurunkan berat badan, melepaskan racun, melindungi tulang, otot, dan sendi, serta meningkatkan kecerdasan otak. (gooddoctor.co.id)

Jika air hangat tersebut memenuhi syarat sebagai air yang suci dan dapat mensucikan benda lain (thahir muthahhir), lalu bagaimana bila digunakan untuk bersuci dari hadas kecil (berwudlu’) atau hadas besar (mandi besar)? Bolehkah menggunakan air hangat dalam hal bersuci yang berhubungan dengan badan?

Menanggapi persoalan di atas ulama berbeda pendapat. Secara umum air hangat dapat dikategorikan ke dalam dua macam; panas karena faktor matahari dan panas karena dipanaskan dengan api atau disebut air rebus. Air hangat yang terdapat dalam kamar mandi hotel, seperti umumnya saat ini, juga disamakan dengan air yang dipanaskan dengan api, artinya bukan dipanaskan melalui terik matahari. Dua macam air hangat ini mempunyai hukum yang bebeda.

Mengenai air hangat yang dihasilkan dari terik matahari menurut mazhab Syafi’i dihukumi makruh menggunakannya untuk kepentingan bersuci yang berhubungan dengan tubuh manusia. Hukum makruh ini berlaku terhadap air yang memang disengaja dan ada niatan untuk dipanaskan di terik matahari. Berbeda dengan air yang terpapar sinar matahari tanpa ada unsur kesengajaan dan keterlibatan manusia, semisal air kolam yang terbuka dan air sungai. Air yang berada di dua tempat ini sangat sulit terhindar dari terik matahari, oleh karena itu, tidak berlaku hukum makruh.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Dahan Pohon yang Tetap Kokoh Tanpa Akar

Menurut Ibnu Hajar kemakruhan ini berlaku dengan syarat memang berada di daerah yang bersuhu panas tinggi dan ketika cuaca barada di puncak panas, sementara air tersebut berada di wadah yang terbuat dari selain emas dan perak. (Abu Syuja’, Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 3., Al-Syaikh al-Mulla ‘Ali Al-Qari, Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, Jilid II, hal. 422., Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, Jilid I, hal. 365).

Kemakruhan menggunakan air hangat hasil dijemur pada terik matahari didasarkan pada hadis Aisyah berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : أَسْخَنْتُ مَاءً فِى الشَّمْسِ ، فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-لاَ تَفْعَلِى يَا حُمَيْرَاءُ فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ.

Artinya: “Dari Aisyah RA berkata, aku memanaskan/menjemur air di terik matahari, lalu Nabi Saw., menegur, wahai Aisyah yang merah pipinya! Jangan kamu lakukan itu, karena hal itu akan menimbulkan penyakit kusta.” (Sunan al-Baihaqi, No. 14).

Akan tetapi, meskipun dihukumi makruh tidak sampai menghalangi ke-sah-an wudlu’ atau mandi, karena larangan tersebut terkait dengan kekhawatiran menimbulkan mudarat, tidak terkait dengan sah dan tidaknya bersuci. Dengan demikian, meskipun makruh, wudlu’ atau mandi besar menggunakan air tersebut tetap sah. (Abu Ishaq al-Syirazi, Al-Muhadzab, Jilid I, hal. 4).

Sedangkan menurut mazhab selain Syafi’i menghukumi tidak makruh menggunakan air hangat hasil dijemur pada terik matahari. Sebagaimana juga mereka sepakat, termasuk mazhab Syafi’i, tidak memakruhkan menggunakan air hangat hasil dari pemanasan melalui api dan sejenisnya, termasuk air hangat yang tersedia dalam dua pilihan shower di kamar mandi hotel.

Oleh karena itu, silahkan menggunakan air hangat hasil dari pemanasan apa saja, yang terpenting tidak sampai menimbulkan kemudaratan pada tubuh, lebih-lebih malah bermanfaat bagi kesehatan. Tidak hanya air hangat saja, bahkan air yang terlalu dingin juga bisa menjadi makruh, apabila menimbulkan kerugian pada tubuh. (Al-Syaikh al-Mulla ‘Ali Al-Qari, Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, Jilid II, hal. 422., Abu Syuja’, Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 3).[]

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Menimbang Dua Hal Yang Kontradiktif

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel

About Zainol Huda

Zainol Huda
Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.