Sejak diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bagian sebagian kecil sangat merepotkan. Masyarakat harus menggunakan masker ke mana pun pergi, menyediakan handsanitizer, sarung tangan, dan tak diperbolehkannya berboncengan. Ditutupnya tempat ibadah semakin mendorong keresahan semakin menjadi-jadi.
Di lain hal, tak sedikit pula masyarakat mengamini dan mendukung PSBB sebagai wujud kepatuhan terhadap ulil amri. PSBB dimaknai sebagai bentuk ikhtiar dalam menghadapi COVID-19 yang semakin merebak dan bertambahnya korban jiwa dari hari ke hari.
Di tengah ancaman pandemi virus ini banyak orang mengalami kecemasan bahkan tidak sedikit yang mengalami kepanikan. Rasa cemas dan panik justru dapat menurunkan daya tahan tubuh dari serangan penyakit. Perlu disadari bahwa kepanikan adalah separuh penyakit.
Oleh karena itu Ibnu Sina menasihati agar kita tidak mudah panik dalam situasi apapun baik aman maupun bahaya. Panik merupakan bagian masalah kejiwaan yang bisa berdampak langsung pada munculnya penyakit fisik seperti serangan jantung, hipertensi dan sebagainya.
Pendekatan Akidah
Di saat krisis seperti ini, sikap menjaga diri agar tidak panik perlu dilakukan dengan berbagai pendekatan seperti pendekatan teologis dan pendekatan ilmiah rasional. Agama mengajarkan bahwa kapan seseorang mati telah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum kelahirannya ke dunia dan ketika ajal itu datang, maka tak seorang pun dapat menolak, menunda apalagi mendahulukan sebagaimna dalam Al-Qur’an dijelaskan :
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.
Hal ini harus menjadi keyakinan setiap Muslim sehingga betapapun dahsyatnya ancaman virus Corona tidak akan mengancam nyawa seseorang jika memang Allah belum menghendakinya mati. Oleh karena itu, perlunya orang memiliki ketenangan baik dalam keadaan sakit maupun sehat.
Dalam keadaan sehat orang yang memiliki ketenangan jiwa tidak mudah terserang oleh berbagai-penyakit jasmani dan rohani sebab ketenangan itu sendiri merupakan benteng sehingga memiliki imunitas yang kuat. Ketengangan akan mudah dicapai juga melalui berbagai pendekatan :
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’d: 28).
Selalu mengingat Allah dan menjadikan sesuatu yang terjadi sebagai bagian dari kehendak Allah memberikan ujian bagi manusia akan menjadikan diri menjadi tenang dan tidak panik.
Pendekatan Syariah
Itulah perspektif akidah. Tetapi, Islam tidak hanya mengenai Aqidah. Islam juga mempunyai elemen lain berupa langkah praktis yang disebut Syariah. Dalam Syariah setiap Muslim berkewajiban berikhtiar dengan mengambil sikap hati-hati dalam mengahadapi sesuatu yang membahayakan nyawa.
Di lain hal, masyarakat dianjurkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang mempunyai penyakit menular tersebut supaya tidak dijangkiti penyakit menular itu. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW yang artinya :
“Dari Abu Huarairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak boleh dicampur orang yang sakit dengan orang yang sehat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)”
Dari Hadits tersebut, maka tak ada salahnya pemerintah mengambil tindakan berupa menerbitkan kebijakan PSBB dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona dan menekan angka kematian yang disebabkan oleh virus tersebut.
Selain menjaga jarak, olahraga dan mandi harus dilakukan secara rutin untuk mengeluarkan segala kotoran dari badan (keringat) dan membersihkan kotoran yang berasal dari luar tubuh. Islam sangat menekankan kebersihan melalui aktifitas bersuci yang diwajibkan minimal sehari lima kali. Ibadah itu mengajarkan betapa pentingnya menjaga kesucian yang berarti menjaga kebersihan.
Seluruh pakar kesehatan menyatakan bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Maksudnya bahwa kebersihan itu sumber bagi kesehatan. Bila kita selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan maka tubuh kita akan sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit. Untuk menjaga kebersihan lingkungan, Rasulullah ﷺ berwasiat kepada para sahabat :
“Bersihkanlah halaman-halaman kalian, karena sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halaman mereka.” (H.R. Thabrani).
Pendekatan Ihsan
Percaya akan takdir dan iktiyar tentu saja harus dibarengi dengan sikap ihsan. Sikap ihsan mendidik jiwa percaya kepada kehadiran Allah, bertawakal kepada-Nya, bersabar musibah dan ikhlas menerima takdir Allah dan memperbanyak berdzikir kepada Allah SWT. Dizkir tidak hanya bekal terbaik untuk persiapan diri menuju kehidupan akhirat diyakini, tetapi juga mampu mencegah diri dari segala macam penyakit yang mebahayakan termasuk pandemi Corona.
Menurut Syeikh Hasan Al- Basri diyatakan bahwa dengan memperbanyak dzikir dan istighfar merupakan salah satu jurus jitu dalam mencegah datangnya berbagai penyakit, baik yang berasifat penyakit jasmani maupun yang bersifat ruhani.
Bagaimana mungkin seseorang akan bisa hidup dalam suatu ketenangan sementara ia lupa akan segala sesuatu yang ia dapatkan meupakan hasil dari besarnya rahmat Allah SWT terhadapnya. dan tak mungkin pula seseorang bisa hidup berbahagia tanpa mendapat ampunan dari Allah SWT.
Syekh Hasan Al-Basri ketika ditanya oleh orang-orang yang mendatangi dan memintakan doa padanya, maka ia akan memerintahkan orang-orang tersebut untuk perbanyak istighfar Sebagaimana Rasulullah mencontohkan dalam Haditsnya :
مَرَّةٍ مِائَةَ اللهَ اِسْتَغْفَرْتُ إِلاَّ قَطٌّ أَغَدَاةً صْبَحْتُ مَا
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600).
Dengan demikian, dalam proses PSBB diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan, banyak berdzikir dan beristighfar, banyak bersedekah, dan diharapkan semakin meningkatkan kedekatan diri terhadap Tuhan sebagaimana yang di firmankan dalam Q.S. Al-Baqarah : 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah