kekerasan seksual
kekerasan seksual

Islam Mengecam Kekerasan Seksual

Manusia memiliki kemulyaan tersendiri dibanding makhluk Allah lainnya, yakni sifat kemanusiaan. Manusia yang tidak bersikap manusiawi, maka dipertanyakan status kemanusiaannya. Menjadi manusiawi artinya, setiap kita menghiasi diri dengan sikap saling mengasihi, menyayangi, melindungi dan menghormati kepada siapapun. Seorang manusia yang sehat dan tahu tujuan penciptaannya di muka bumi, tidak akan lepas dari pakem sifat memanusiakan manusia. Sifat inilah yang menjaga dan menjauhkan diri dari perilaku – perilaku yang menurunkan derajat kemanusiaan. Contohnya, sikap arogan, intimidatif, merasa superior hingga berujung pada tindakan kekerasan dan kekejaman.

Baru baru ini publik dibuat geram oleh ulah seorang pemuda yang sifat kemanusiaannya sedang terganggu. Pemuda berusia 21 tahun dengan inisial AT yang merupakan anak dari anggota DPRD kota Bekasi melakukan penyekapan terhadap seorang anak perempuan yang masih berusia 15 tahun selama satu minggu. Selama penyekapan itu, AT memperkosa korban selama beberapa kali dan juga menjual korban pada lelaki hidung belang lainnya. Korban mengaku dalam sehari dia dipaksa melayani laki – laki amoral sebanyak 4 sampai 5 kali.

Perilaku kejam seperti itu adalah potret hilangnya nilai nilai kemanusiaan dalam diri pelaku. Kekejian AT sudah masuk dalam kategori perbudakan dan eksploitasi sosial. Muslim sejati yang mengimani bahwa Islam sebagai agama kasih sayang dan anti kekerasan mengutuk keras perbuatan yang merendahkan derajat kemanusiaan hingga titik nadir sebagaimana dilakukan oleh AT tersebut. Dalam sebuah hadits, Rasululloh saw menyampaikan bahwa melakukan tindakan pelecehan dan kekerasan gender adalah sebuah dosa besar yang sangat hina, bahkan lebih hina dibandingkan berkubang dengan babi yang berlumur lumpur dan kotoran.

Nabi bersabda: “jika kepala salah seorang di antara kalian ditusuk jarum besi, itu lebih baik dari pada meraba-raba perempuan yang bukan istrinya” (HR. At-tabrani, Rijaluluhu tsiqatun).

Dalam hadis lain Nabi bersabda;“Jika kalian berkubang dengan babi yang berlumuran dengan lumpur dan kotoran, itu lebih baik dari pada engkau menyandarkan bahumu diatas bahu perempuan yang bukan istrimu” (HR. At-Tabrani).

Metafora yang disampaikan Rasululloh saw dalam hadits di atas menggugah alam pikir kita untuk menalar lebih jauh. Analogi kepala ditusuk jarum besi itu lebih baik ketimbang meraba raba perempuan yang bukan istri, menegaskan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual itu adalah hal yang amat sangat buruk, bahkan lebih buruk dari bunuh diri.  

Bentuk-bentuk kekerasan seksual sendiri sangat banyak bukan hanya perkosaan atau kekerasan fisik, tetapi kekerasan seksual juga meliputi perbuatan yang merendahkan, menghina, menyerang dan tindakan lainnya terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan fungsi reproduksi yang dilakukan secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi gender yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan politik.

Di Indonesia, kasus pelecehan dan kekerasan seksual masih menjadi PR besar, bahkan lonceng darurat telah berulang kali berdentang. Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan yang dirilis setiap 8 Maret, jumlah kekerasan seksual terhadap perempuan sejak 2011-2019 tercatat sebanyak 46.698 kasus. Kasus pemerkosaan menjadi kasus dengan catatan tertinggi dengan jumlah kasus sebanyak 9.039. dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat hampir 8 kali lipat atau sebesar 792%.

Baca Juga:  Jika Merasa Islam itu Sulit, Berarti Pemahaman Keislamannya yang Sempit

Catatan ini bisa jadi mencerminkan fenomena Gunung es, dimana apa yang tertulis hanya sepucuk dari fenomena sesungguhnya yang jauh lebih besar namun tak nampak dari permukaan. Tidak semua korban kekerasan memiliki keberanian dan kesiapan mental untuk melaporkan apa yang dialaminya kepada pihak yang berwajib. Salah satu factor utamanya adalah mereka takut justru menjadi pihak yang disalahkan atas penderitaan yang mereka alami.  Sebab tak bisa dipungkiri, masyarakat kita pada umumnya masih sangat terbelenggu oleh pola pikir yang belum adil gender.

Tindakan diskriminasi seperti seksisme melanggengkan stereotipe peran terhadap gender tertentu. Para akademisi menyebutkan dominasi laki-laki terhadap perempuan menjadi hal yang menormalisasi tindak kekerasan. Dominasi tersebut mengakibatkan subordinasi perempuan atau penomorduaan kaum perempuan dalam berbagai aktivitas sosial. Penomorduaan perempuan terjadi karena segala sesuatu cenderung di pandang dari sudut pandang laki-laki. Kekerasan yang terjadi pada seorang perempuan dikarenakan sistem tata nilai yang mendudukan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Masih banyak masyarakat yang memandang perempuan sebagai kaum yang marginal, dikuasai, dieksploitasi dan diperbudak oleh kaum laki-laki.

KH Imam Nakhai dalam salah satu tulisannya yang diterbitkan oleh swararahima menyampaikan bahwa pandangan yang mengajarkan laki-laki superior, harus  menjadi  pemimpin, harus ditaati tampa kritik,  sebagai sumber kebenaran, menjadi ukuran kesalehan dan cara pandang lain yang menempatkan perempuaan sebagai subordinat dan marginal, adalah cara pandang yang berpotensi melahirkan kekerasan berbasis gender. Oleh karenanyanya, membangun pemikiran yang berlandaskan kesetaraan, kesalingan, dan keadilan hakiki menjadi agenda yang peting sebagai upaya meminimkan bahkan menghapuskan segala bentuk kekerasan seksual.

Jumhurul ulama’ telah sepakat bahwasannya kekerasan seksual adalah wujud hilangnya hati nurani dalam diri seorang manusia dan lunturnya martabat serta harga diri si pelaku sehingga perlu dipertanyakan lagi sisi kemanusiaannya. Mufti Mesir, Syauqi Ibrahim Allam menyatakan:

Baca Juga:  Masuk Surga itu Mudah

فالتحرُّش الجنسي بالمرأة من الكبائر، ومن أشنع الأفعال وأقبحها في نظر الشرع الشريف، ولا يصدر هذا الفعل إلا عن ذوي النفوس المريضة والأهواء الدنيئة التي تَتَوجَّه همَّتها إلى التلطُّخ والتدنُّس بأوحال الشهوات بطريقةٍ بهيميةٍ وبلا ضابط عقليٍّ أو إنسانيّ.

“Kekerasan seksual terhadap perempuan termasuk dosa besar, dan tindakan yang paling keji dan buruk dalam pandangan  syari’at. Kekerasan seksual hanya lahir dari jiwa-jiwa yang sakit dan birahi-birahi rendahan sehingga keinginannya hanya menghamburkan syahwat dengan cara binatang, diluar nalar logic dan nalar kemanusiaan”.

Kasus perkosaan dan eksploitasi seksual yang dilakukan oleh AT seyogyanya menjadi bahan renungan bagi kita semua, apakah kita sebagai manusia, telah mampu melindungi diri dari sifat sifat yang melunturkan hati nurani. Karena siapapun berpotensi menjadi pelaku dan siapapun berpotensi menjadi korban kekerasan seksual. Yang perlu kita pastikan adalah senantiasa kita bekali diri dengan ilmu yang menghantarkan kita menjadi manusia yang saling mengasihi, menghomati dan melindungi satu sama lain.Terhadap korban kekerasan seksual, hendaknya tidak dipojokkan dengan  komentar atau tindakan yang melemahkan. Sebab memulihkan korban adalah juga tugas kita agar dia bisa terbebas dari trauma dan bangkit kembali menjemput masa depan yang cerah.

Bagikan Artikel ini:

About Nuroniyah Afif

Avatar of Nuroniyah Afif

Check Also

anak terkonfirmasi covid-19

Anak Terkonfirmasi Covid-19, Jangan Panik! Berikut Ikhtiar Lahir dan Batin untuk Dilakukan

Grafik kenaikan kasus Covid – 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan melandai. Covid – …

8 fungsi keluarga

Momentum Menguatkan Kembali 8 Fungsi Keluarga di Masa Pandemi

Meningginya kasus Covid – 19 hingga menyentuh angka 30 ribu kasus baru per hari memaksa …