taubat
taubat

Jangan Tunggu, Jemputlah Hidayah Allah dengan Cara Ini

Kehidupan seorang hamba haruslah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah sang pencipta. Yang dikehendaki Allah adalah agar semua hambaNya beribadah dan bertakwa kepadaNya. Yang demikian itu memanglah tujuan diciptakannya seluruh makhluk di alam semesta.

Salah satu cara agar bisa senantiasa bertakwa kepada Allah yakni mendapatkan hidayah Allah. Sebelum kita bahas apa yang harus dilakukan agar kita bisa dapatkan hidayah dari Allah, alangkah baiknya kita tahu istilah hidayah tersebut. Kata hidayah merupakan salah satu masdar dari lafadz hadaa yahdii yang bermakna arsada, yakni artinya memberi petunjuk atau menunjukkan.

Sebagian ulama’ mengatakan bahwa hidayah itu sebuah anugerah dari Sang Pencipta pada hamban-Nya. Nah, dari sini kita sudah tahu bahwa hidayah itu hak preogatif dari Allah. Artinya kepada siapa-siapa saja Dia akan berikan dan kepada siapa-siapa saja Dia tak berikan. Allah-lah Dzat maha pemberi petunjuk, tiada yang lain.

Hal di atas sebagaimana firman Allah SWT dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Wahai hamba-Ku kamu sekalian menyimpang dari kebenaran kecuali orang yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk padaku pasti aku tunjukkan pada jalan yang benar.”

Mengetahui dasar dan fakta di atas, maka sudah seharusnya kita tak boleh memaksakan kehendak jika mau mengajak atau mengajari seseorang suatu kebaikan. Tugas kita hanya sampai kepada mengajak atau mengajari. Selebihnya itu urusannya Allah. Karena sesungguhnya yang memberi petunjuk kita bertakwa, pintar, tersesat ataupun bodoh ialah Allah. Manusia atau makhluk lain hanya sebatas sebagai perantara saja.

Hidayah Allah memang tak bisa diberikan atau diwariskan oleh sesame manusia. Ada banyak sekali bukti dalam sejarah yang menggambarkan betapa mahal dan pentingnya menjemput hidayah, bukan menunggunya yang mengakibatkan mati dengan membawa kesesatan. Contohnya semisal nabi Nuh AS yang tak bisa menyelamatkan anaknya, Kan,an dari adzab Allah dan anaknya pun tak mengimani nabi Nuh AS

Baca Juga:  Inilah Ancaman Siksa Pedih bagi yang Mengabaikan Zakat

Ada juga kisah Qorun yang sombongnya luar biasa. Padahal ia masih saudara Nabi Musa AS. Beliau sudah sering menasehati Qorun. Tetapi hasilnya nihil yang hingga akhirnya Allah lenyapkan Qorun dan semua hartanya ke dalam bumi. Lalu ada istri nabi Luth AS yang durhaka kepada suaminya, yang pada akhirnya ia disiksa oleh Allah bersama kaumnya, Sodom yang terlaknat itu.

Rasulullah Muhammad SAW pun mengalami hal serupa dengan nabi-nabi di atas. Sebagai mana kisah beliau mengajak Abu tholib bin Mutollib paman yang sangat dicintai beliau dan orang yang sangat mencintai beliau. Kisah Rasulullah dan Abi Tholib dicatat lengkap oleh Imam Bukhori dan Muslim di sebuah riwayat dari hadis Azzuhri dengan sanadnya. Imam Azzuhri bercerita, “Rasulullah selalu mengajak Abu Tholib untuk mengatakan kalimat LAILAHAILLAH, dan Rasulullah selalu mengulangi ajakannya sampai akhirnya Abi Thalib wafat tidak mau mengatakan kalimat LAILAHAILLAH dan menetapi agama Abdul Muthollib. Sehingga dari peristiwa ini, Rasulullah bersabda, “Ingatlah wahai Paman! aku akan selalu memintakan maaf pada Allah untukmu selama permintaan maafku tidak dilarang.”

Setalah kejadian itu, Allah menurunkan Ayat 113 surat at-Taubah yang menerangkan tentang hal di atas.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam”.

Kemudian diperjelas oleh Allah dalam Al-Qur’an surat al-Qashash ayat 56 yang berbunyi:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Baca Juga:  Keseteraan dalam Ketaatan: Relasi Istri kepada Suami

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

Cara Menjemput Hidayah

Sejarah di atas, bukti nyata bahwa Hidayah itu hanya milik Allah. Tapi walaupun begitu, Allah telah memberikan cara-cara pada hamba-Nya melalui syariat yang dibawakan oleh Rasulullah.  Salah satunya yakni meminta hidayah tujuh belas kali setiap hari saat mengerjakan shalat wajib yang terdapat dalam surat Al fatihah, ihdinash shirotal mustaqiim yang artinya, “Ya Allah tunjukkan saya pada jalan yang lurus.”

Dengan dasar kesadaran diri dan tanpa paksaan untuk mengerjakan ibadah yang diperintahkan inilah Allah akan memberikan hidayahNya. Cara selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah berdoa meminta hidayah kepada Allah. Karena dengan terus menerus berdoa, maka itu suatu bentuk I’tikad baik seorang hamba untuk selalu ingin bertakwa kepada sang pencipta.

Terakhir, salah besar orang yang menunggu hidayah Allah dulu baru beribadah kepadaNya. Pertama, karena usia orang tak ada yang tahu. Bisa jadi dalam masa menunggu dengan tidak beribadah, ia meninggal. Maka sungguh ia dalam keadaan merugi. Kedua, setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, pastilah pernah mendapatkan nasihat atau pengajaran bagaimana mendekatkan diri kepada Allah. Nah momen tersebut sesungguhnya Allah ingin ajak hambaNya untuk ingat kepadaNya dan mendapatkan hidayahNya. Wa Allahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

sultan mahmud II

Rahasia Kegemilangan Sultan Muhammad II Dalam Memimpin Penaklukan Konstantinopel

Penaklukan Konstantinopel ialah salah satu kegemilangan terbesar pasukan Islam dalam menaklukan lawan-lawan besarnya. Konfrontasi di …

hari tasyrik

4 Pendapat Mengenai Kapan Waktu Takbiran Idul Adha

Umat Islam di seluruh dunia sebentar lagi akan merayakan hari raya Idhul Adha. Di Indonesia, …