surga buatan
surga buatan

Kisah Pembangunan Surga di Bumi: Takabur yang Berujung Hancur

Kisah mega proyek surga buatan di bumi oleh seorang raja yang sombong. Cerita memberikan hikmah dan pesan penting tentang bahaya sikap takabur.


Tersebutlah sebuah kisah Raja ‘Ad dengan dua putra mahkota kembarnya, Syidad dan Syadid. Didorong oleh rasa haus kekuasaan, kedua Putra Mahkota itu, melakukan konspirasi bawah tanah.

Syidad dan adiknya Syadid terpaksa harus membunuh Ayahandanya sendiri. Keduanyapun akhirnya dinobatkan menjadi Raja. Dan kekuasaan dibagi dua sama rata. Namun Syadid tak berumur panjang. Dia tewas di tangan pembunuh bayaran yang sesungguhnya disewa oleh Kakaknya sendiri, Syidad. Kini Syidadlah Sang Penguasa tunggal di Kerajaan itu.

Suatu ketika, Raja Syidad membaca al-Qur’an. Di saat ia asyik membaca tiba-tiba saja ia tertegun diam. Dari kerut yang merapat didahinya, terlihat jelas ia sedang berfikir keras tentang sesuatu yang besar.

Ternyata benar. Dia memikirkan sebaris kalimat dalam al-Qur’an tentang kemegahan Surga yang di bangun Allah. Dia berniat ingin membangun Surga di Bumi yang kemegahannya tak kalah dengan kemegahan Surga Allah.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, mulailah dia mengumpulkan semua raja-raja yang berada di bawah kekuasaannya. “Aku ingin membangun Surga di Bumi Seperti Surga yang digambarkan Allah dalam Al-Qur’an”. Kata Raja Syidad penuh keangkuhan. ”Titah Sang Raja akan kami junjung tinggi, Dunia ini milik Paduka Raja” jawab para Raja mendukung.

Mega Proyek Pembangunan Surga di Bumi

Merasa mendapat dukungan, Raja Syidad memerintahkan untuk mengumpulkan semua emas dan perak, dari Kerajaan Timur sampai Kerajaan Barat. Dan mencari para arsitek terkemuka dan berpengalaman. Kemudian merekapun melaksanakan perintah Sang Raja.

Ditemukan 300 Arsitek dan 300.000 tukang dan kuli bangunan. Raja Syidad memerintahkan kepada Para Arsitek untuk keliling dunia guna mencari lokasi terbaik. Setelah 10 tahun berkeliling dunia, mereka menemukan satu lokasi yang indah penuh sungai mengalir dan tumbuh segala jenis pepohonan.

Baca Juga:  Ketika Abu Bakar AS Menangis Mimpi Melihat Pembelaan Nabi Muhammad Untuk Umatnya di Hari Kiamat

Setelah desain surga rampung, pembangunan dimulai. Batu bata merah yang disusun terbuat dari Emas dan Perak. Lapisan temboknya dan lantainya, terlapisi dari lapian intan dan permata.

Beberapa tahun kemudian mega proyek Raja Syidad akhirnya selesai. Impian seolah tercapai. Bangunan Surga, lengkap dengan liukan sungai mengelilinginya. Pohon-pohon buatan berbatang dan beranting Emas, rindang berbaris memagarinya.

Surga buatan itu teramat memukau. Indah dan kokoh, menakjubkan. Di tengah- tengah bangunan, berdiri megah bangunan istana Raja Syidad yang terbuat dari batu permata berwarna merah dan Kristal putih.

Surga ini semakin megah saat pepohonannya terlihat jelas berdahan dari permata. Sungainya terpancar lampu berkedip terbuat dari permata dan Kristal. Air yang mengalir di atas sungai adalah air yang terbuat dari minyak misik dan minyak Ambar. Dari kejauhan potret surga buatan ini tampak seperti aslinya. Memijarkan seribu sinar disetiap sudutnya.

Saat peresmian Surga Dunia ini, Raja Syidad mengundang seluruh rakyatnya, untuk menyaksikan betapa megahnya mega proyeknya. Dan tentunya di balik lubuk hatinya Raja Syidad hendak menyombongkan diri dan kekuasaannya.

Sungguh di luar dugaan dan kendali. Saat rakyat melihat surga buatannya, tanpa dikomando oleh siapapun serentak rakyat menjarah semua kemewahan bangunan Surga. Emas, perak, permata dan kristal mereka ambil hingga tak tersisa sedikitpun.

Bangunan Surga yang sebelumnya megah, kini tak ubahnya seperti bangunan tua tak berpenghuni. Tinggal tengkorak pondasi saja. Emas yang tersisa hanya seberat dua dirham, itupun milik bocah yatim yang tampak bingung dengan situasi yang terjadi. Tapi kalung Emas dua dirham milik bocah yatim itupun tak luput dari jarahan rakyat pada saat itu.

Merasa mendapat perlakuan tak wajar. Bocah yatim itupun menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa: Ya Allah, Tuhanku, Engkau Maha mengetahui apa yang dilakukan oleh orang orang dhalim ini. Maka tolonglah aku, wahai Dzat yang Maha menolong orang orang yang minta tolong.

Para Malaikat yang mendengar doa bocah teraniaya ini meng-amini. Allah mengutus malaikat Jibril untuk menghukum mereka. Ketika Jibril berjarak kurang lebih perjalanan kaki satu hari satu malam, Malaikat Jibril berteriak keras dari langit. Seakan kilatan petir menyambar-nyambar, angin menderu deru, gempa bumi berskala besarpun terjadi. Mereka menemui ajalnya sebelum merasakan indahnya Surga di dalam. (Dzurrah al-Nashihin, Utsman Ibn Hasan al-Kharbawi, 102).

Baca Juga:  Amalan Rasul Bernama Istighfar

Takabur Bakal Hancur

Hikmah dari kisah di atas adalah bahwa kesombongan selalu berakhir dengan petaka besar.  Sesuai firman Allah :“Maka masukilah pintu pintu neraka jahannam, kamu kekal didalamnya. Maka amat buruklah tempat orang orang yang menyombongkan diri”.QS: al-Nahl:29

Sejalan dengan Sabda Nabi: “Dari Abdullah, dari Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda: tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar biji dzarrah”. (Al-Adab, Al-Baihaki, 1/291 no. 486).

Abdullah Ibn Muhammad Abu Bakar al-Qursyi berkata: seseorang yang memiliki rasa sombong akan sulit diselamatkan diibaratkan ia jatuh ke suatu tempat yang tidak mungkin bisa diangkat lagi. (Al-Tawadhu’ wa al-Khumul, 1/250).

Kini, di tengah gempuran virus covid 19, tibalah saatnya kita tanggalkan kesombongan kita. Sombong karena merasa lebih shalih, lebih alim, lebih kaya, lebih berhak mendapatkan keselamatan, lebih bijaksana, dan lebih..lebih..lebih.. dari lainnya.

Kita tidak tahu, jangan-jangan justru orang yang kita sepelekan, itulah orang yang shalih, alim, kaya, berhak mendapatkan keselamatan. Semoga kita terlindungi dari sifat takabur.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …