mampu haji
Jemaah Haji

Makna Kata Mampu (Istitha’ah) dalam Surah Ali-Imran Ayat 97

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., merupakan agama yang sempurna. Islam merupakan salah satu agama yangymemiliki banyak pengikut. Dalam Islamaada ibadah perjalanan spiritual yang biasa disebut dengan menunaikannibadah haji. Ibadah haji merupakan ibadah yang memiliki posisi yang pentinggdan strategis, karena ibadah haji merupakan peristiwa besar dalam sejarah umat Islam sejak zaman Nabi Ibrahim sampai sekarang. Seruan ibadah haji pertama kali dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim as.

Ibadah haji merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang mampu, baik mampu secara mental maupun finansial. Mampu secara mental dapat diartikan dengan sehat secara jasmanindan rohani. Sehat secara jasmani maksudnya tidak sakit, tidak lumpuh dan tidak sulit untuk melaksanakan ibadah haji. Dan sehat secara rohani berarti orang yang akan berhaji adalah sudah baligh, mumayyiz (mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang dilarang dalam ibadah haji), dan berakal sehat. Dari uraian ini, penulis tertarik untuk menganalisis lebih lanjut tentang surat Ali-Imran ayat 97, untuk mengetahui makna istita’ah itu sendiri.

Pengertian Haji

Kata haji secara bahasa ialah al-qaṣdu, yang berarti menyengaja yakni menyengaja untuk melaksanakan hal-hal yang diagungkan sedangkan menurut kamus Alquran, haji berarti berkunjung. Haji dapat dibaca dengan menggunakan harakat fathah (ini sesuai dengan qira’ah jumhur kecuali Imam Ibnu Abi Ishaq. Juga dapat dibaca dengan harakat kasrah. Akan tetapi masyarakat Indonesia lebih seringmmenyebutnya dengan menggunakan harakat fathah, yakni haji. Adapun haji berharakat kasrah terdapat dalam Alquran surat al-Imrān ayat 97:  وَلِلَّه عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ.

Sedangkan haji menurut istilah adalah menyengaja berkunjung ke Baitullah di Mekkah untukmmelaksanakan serangkaianmibadah pada waktu yang telah ditentukan dan dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan semata-mata karena Allah. Dalam buku Fiqih Empat Madzhab bagian ibadah (puasa, zakat, haji, kurban) menyatakanmyangmdimaksudmdengan haji secara bahasa adalah kemuliaan, sedangkan menurut istilah adalah melaksanakan amalan-amalan tertentu danmcara tertentu pula.

Baca Juga:  Tafsir Surat At-Taubah 122 : Pentingnya Kaderisasi Ulama

Dari penjelasan mengenai pengertian haji di atas, dapat disimpulkan bahwa haji adalah menyengaja melaksanakanmserangkaian kegiaatan ibadah di Makkah dengan syarat danmrukun tertentu agar mendapatmkemuliaan dan keridhaan dari Allah SWT. Ulama fikih menetapkan bahwa amalan yang harus dikerjakan oleh seseorang dalammmelaksanakan ibadah haji meliputi: ihrām, memasukimkota Mekkah (bagi orang yang berada di luar kota Mekkah), ṭawaf, sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontarmjumrah, mabit di Mina, dan tahallul (mencukur rambut).

Penafsiran Surah Ali-Imran ayat 97

Allah berfirman dalam Alquran surat Ali-Imran ayat 97:

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

Alquran surat Ali Imran ayat 97 ini diturunkan sebagai ketegasan Allah bagi setiap Muslim yang mampu, wajib melaksanakanmibadah haji ke Baitullah dan bagi orang-orang yang menolak kewajiban ini termasuk dalam golongan orang-orang kafir. Pada ayat sebelumnya, Allah telah menjelaskan secara singkat tentang Ka’bah dan kedudukannya sebagai hudan (petunjuk), maka hidayah dan petunjuk itu dirinci bahwa di sana terdapat tanda-tanda yang nyata, yakni maqam Ibrahim (bekas telapak kaki Nabi Ibrahim) yang hingga saat ini masih terawat dengan baik.

Menunaikan ibadah haji merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslim seluruh dunia. Hal ini merupakan salah satu jalinan hablu min Allah yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Ibadah haji juga termasuk salah satu rukun Islam yang kelima, yang merupakan bangunan pokok masyarakat Muslim selain Syahadat, Shalat, Puasa, dan Zakat. Sebagaimana sabda Nabi SAW., yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: Dari Ibnu Umar raḍiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad ṣallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Islam ditegakkan atas lima dasar, Tauhidullah (mengesakan Allah) dan Mendirikan Shalat, dan Menunaikan zakat, dan Puasa Ramadhan, dan Haji. (HR. Muslim). Dalam hadits ini menyebutkan bahwa ibadah haji merupakan salah satu bagian dari rukun Islam, yakni rukun Islam yang ke lima. Hal ini bukan karena ibadah haji tidak memiliki posisi penting dalam Islam, namun diakhirkannya ibadah haji ini karena ia merupakan ibadah yang berat.

Baca Juga:  Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 127 : Kisah di Balik Pembangunan Baitullah

Sungguh Allah Maha Bijaksana, setelah Allah menjelaskan kewajiban haji atas semuamumat Muslim, Dia segera mengecualikan kepada sebagian umat Muslim yang tidak mampumuntuk melakukan perjalanan kesana, yakni dengan kelanjutan firman-Nya sebagai berikut: “Bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke sana”. Makna sabil yang terkandung dalam ayat di atas menurut Rasulullah saw., adalah al-Zād (bekal) dan al-Rāhilah (perjalanan), sebagaimana sabda Rasul yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Jabir bin Abdullah: Dari Jabir bin Abdullah berkata: ketika turun ayat وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ tiba-tiba ada seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu sabil? Rasulullah saw., menjawab: “Bekal dan kendaraan”.

Pandangan Mufassir Tentang Makna Istitha’ah

Menurut Wahbah Zuhaily yang dimaksud istitha’ah yakni orangmyang mampu untuk mengunjungi Bait Allah. Dan beliau juga membagi istilah istitha’ah menjadimdua, yakni badan dan harta. Maksud dari pada istitha’ah dalam segi harta, Wahbah Zuhaili mengambil dari hadits Rasul SAW., yang telah disebutkan di atas, yakni beliau SAW., telah mengartikan istitha’ah dengan az-zād dan ar-rahilah yakni bekal dan kendaraan. Dan maksud istitha’ah dalam segi badan yakni tidak sakit, tidak ada serangan musuh dan binatang buas serta aman dalam perjalanan. Sehingga menurut Wahbah Zuhaily istitha’ah dalam dua hal tersebut salingmberkaitan dan harus dipenuhi.

Quraish Shihab pakar tafsir Indonesia mengemukakan bahwa yang termasuk istitha’ah yakni sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan materi berupa biaya perjalanan dan selama perjalanan, serta biaya hidup untuk keluarga yang ditinggal, jalan menuju kesanamdan kembali pun aman, tidak ada perang dan juga wabah penyakit.

Sedangkan istitha’ah menurut Ibnu Abbas dalam kitab tafsirnya yang berjudul Tanwīr Al-Miqbās Min Tafsīr Ibnu ‘Abbās yakni mampu dalam berbekal dan berkendaraan, serta meninggalkan nafkah kepada keluarganya hingga ia kembali. Serta pendapat dari Ibnu Katsir adalah adanya bekal dan sarana transportasi sertammemiliki kesehatanmjasmani yang memadai. Apabila seorang Muslim dapat memenuhi syarat istitha’ah di atas, namun ia masih enggan untuk melaksanakan ibadah haji maka ia bukan termasuk golongan orang-orang Mukmin. Seperti dalam hadis Nabi saw., berikut ini: Dari Ali, Rasulullah saw., bersabda: “Barang siapa memiliki bekal dan kendaraan untuk berangkat ke baitullah, akan tetapi tidak melaksanakan haji maka ia akan mati dalan keadaan Yahudi atau Nasrani”. (HR. Al-Tirmidzi)

Baca Juga:  Tafsir Al-Haj 39-40 : Larangan Merusak dan Perintah Melindungi Rumah Ibadah

Disebutkan juga oleh Mufassir Jalaluddin al-Syuyuthi dalam kitab tafsirnya bahwa barangmsiapa yang tidak melaksanakan ibadah haji padahal ia mampu untuk melaksanakannya maka termasukmgolongan orang-orang kafir, beliau mengemukakan dengan riwayat dari Ibnu Mas’ud: Dari ibnu Mas’ud berkata dalam ayat ini: dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia tidak disebut orang mukmin, sedangkan orang yang tidak mukmin disebut kafir.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

hari lingkungan hidup

Etika Lingkungan Hidup dalam Islam

Masalah lingkungan hidup merupakan masalah global yang semakin disadari sebagai masalah yang kompleks dan serius …

pandangan al-quran LGBT

Pandangan Al-Quran tentang LGBT serta Faktor dan Dampaknya

Homoseks adalah suatu akibat kelainan dalam perkembangan kepribadian seseorang. Istilah kedokteran menyebut homoseks ini sebagai …