raja daud
raja daud

Makna Khalifah Nabi Daud

Nabi Daud merupakan sosok yang memiliki pengaruh besar, sebab beliau menduduki jabatan sebagai raja. Budaya pemerintahan pada waktu itu adalah kerajaan, sebagaimana sistem di Nusantara dulu. Di antara syariat Nabi Daud yang dilestarikan oleh Nabi Muhammad adalah puasa Daud.


Kata khalîfah yang disebutkan oleh al-Qur’an dan ditujukan kepada Nabi Daud, sepertinya penting untuk kita telisik. Tujuan yang ingin kita dapatkan adalah bagaimana para ulama memahami kata ini. Apakah jabatan sebagai pemimpin khalîfah sebagaimana yang ramai saat ini.

Khalifah yang ditujukan kepada Nabi Daud disebutkan dalam QS.Shad ayat 26, yang berbunyi,


يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ


Artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Tafsir Khalifah

Fakhruddin Al-Râzî dalam Mafâtih Al-Ghaib menyebut ada dua makna kata khalifah dalam ayat ini. Pertama, bahwa Nabi Daud adalah penerus dan pengganti Nabi-nabi sebelumnya, dalam rangka berdakwah untuk menyembah Allah. Kedua, Nabi Daud adalah sosok yang telah ditakdirkan oleh Allah sebagai raja pada waktu itu. Untuk itu, Nabi Daud harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai raja, yakni memberikan kebijakan dan menjalankan sebuah hukum.

Sebelum ayat ini turun, Nabi Daud sudah terlebih dahulu menjadi raja pada waktu itu. Sehingga, kata khalifah bukan berarti mendirikan sistem khilafah sebagaimana yang kita kenal akhir-akhir ini.

Baca Juga:  Selalu Teriak Jihad tapi Penuh Amarah, Tundukkan Hawa Nafsu adalah Jihad Akbar


Tafsir tentang khalifah yang disampaikan oleh Al-Râzî tentang khalifah belum menyentuh bagaimana bentuk hukum yang diperintahkan Allah kepada Nabi Daud secara spesifik. Hal tersebut maklum adanya, sebab Al-Râzî baru mendiskusikan kalimat innâ ja’alnâka khalîfah.


Namun, yang menarik dari paparan Al-Râzî adalah bahwa kata khalîfah bukan bentuk sistem pemerintahan. Sebab, kata khalifah, meskipun diartikan sebagai raja atau pemimpin sebuah negara atau bangsa, memang sudah biasa menjadi sebutan bagi seorang pemimpin.

Sebagaimana arti dasar dari kata khalifah adalah penanggung jawab utama setelah penanggung jawab sebelumnya telah meninggal dunia. Contoh sederhananya, Soeharto adalah khalifah Soekarno, BJ. Habibie khalifah Soeharto, Gus Dur khalifah BJ. Habibie, dan seterusnya.


Lantas apa yang menjadi pesan utama dalam ayat ini? Setelah Allah mengingatkan Nabi Daud yang posisinya adalah seorang raja, Allah memerintahkan dan memberikan perintah untuk berbuat adil, benar, dan tidak didasarkan oleh hawa nafsu dan kepentingan semu dalam memutuskan sebuah hukum.

Yang menjadi titik tekan dalam ayat ini adalah tanggung jawab dan etika yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Sehingga, dalam pandangan penulis, terlalu jauh apabila ayat ini dijadikan sebagai argumen dalam upaya melegalisasi sistem khilafah dalam arti yang sekarang berkembang. Sebab, titik tekannya adalah tanggung jawab, bukan sistem sebuah Negara.


Kesimpulannya, kata khalifah pada ayat di atas ketika diartikan sebagai raja atau pemimpin adalah karena Nabi Daud berposisi sebagai raja. Dan ayat ini bukan berarti bahwa Allah memerintahkan bentuk pemerintahan khilafah dalam versi kita hari-hari ini. Bahkan, yang menjadi pokok dalam ayat ini bukan masalah khalifah atau tidak, melainkan perintah untuk berbuat adil, benar, dan tidak mendasarkan kepada hawa nafsu yang menjadi konsentrasinya.

Baca Juga:  Tawassul dengan Orang yang Meninggal, Bolehkah?

Perintah berlaku adil bukan hanya untuk seorang raja atau pemimpin, tetapi untuk semua manusia. Sehingga, khalifah dalam skala mikro adalah pemimpin dan dalam skala makro adalah seluruh manusia. Semuanya menjadi objek dari perintah-perintah diatas.


Wallau a’lam bish-shawab.

Bagikan Artikel ini:

About A. Ade Pradiansyah

Avatar of A. Ade Pradiansyah

Check Also

agama toleran

La Roiba fih, Toleransi Ajaran yang Qur’ani

Berbagai peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama sepertinya belum cukup untuk menjadi pelajaran bagi sebagian umat …

MUI

Menyoal Fatwa MUI yang Salah Sasaran

Akhir-akhir ini, kita dikagetkan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung. Isi fatwa tersebut …