Agama Islam menjadi agama mayoritas dan terbesar di Asia Tenggara tidak terjadi secara tiba-tiba. Proses islamisasi nusantara ini berjalan cukup lama, pandang dan tidak instan. Ada beberapa babakan islamisasi dari penyebaran awal, pembentukan masyarakat, pembentukan institus sosial hingga muncul gerakan sosial keagamaan.
Salah satu tokoh dan figur dalam proses penyebaran dan pembentukan masyarakat adalah para Wali Sanga. Tokoh Sembilan ulama karismatik ini telah menjadi cerita rakyat cukup lama, tetapi memang minim penjelasan ilmiah.
Namun, kekuatan tutur masyarakat juga tidak bisa dibantah karena tradisi ini terus turun menurun hingga saat ini. Setiap hari dalam kondisi normal makam dan petilasan dari sembilan wali ini tidak pernah sepi dari penziarah.
Salah satu dari Sembilan tokoh wali yang sedikit memperoleh informasi adalah Sunan Drajat. Tokoh sunan satu ini memiliki banyak panggilan, namun memiliki nama asli Raden Qasim, atau biasa di kenal dengan Sunan Drajat.
Lahir pada tahun 1470 Masehi, beliau adalah putra bungsu Sunan Ampel dari pernikahan dengan Nyi Ageng Manila. Sunan Drajat juga adik dari Sunan Bonang yang juga mewarisi karisma dan ilmu dari sang ayah. Tumbuh di lingkungan Jawa seperti Sunan Bonang, Sunan Drajat sangat akrab dengan ilmu seni, bahasa, sastra, dan budaya Jawa.
Sunan Drajat menuntu ilmu agama pertama kali kepada ayahnya, Sunan Ampel. Lalu, setelah dicukup mampu dia dikirim ke Cirebon untuk berguru pada Sunan Gunung Jati. Setelah dirasa cukup bekal keilmuannya, Ia kembali ke Ampeldenta. Namun, atas perintah ayahnya Raden Qasim dipercayakan untuk berdakwah di daerah pesisir barat gresik.
Kala itu daerah pesisir barat Gresik mengalami krisis ulama dengan kondisi masyarakat yang belum mengenal Islam. Saat Sunan Drajad meneruskan penyebaran Islam menuju Lamongan. Dari proses perpindahan inilah muncul cerita turun menurun di tengah masyarakat hingga saat ini.
Beliau diceritakan menaiki peruhu menuju Lamongan. Namun sayangnya ada ombak besar yang menghantam perahu yang dinaikinya, sehingga perahu itupun mendari karam. Peristiwa tersebut hampir menewaskan Sunan Drajad. Namun Allah berkehendak lain.
Ketika Sunan Drajad merasa tidak mampu bertahan lebih lama di dalam air, secara kebetulan melintas seekor ikan cucut ada yang mengatakan ikan talang yang mendatanginya. Ikan tersebut Sunan Bonang menuju ketepian, dan pada akhirnya beliau terselamatkan.
Cerita ini pula telah mengilhami masyarakat sekitar untuk mengkonsumsi ikan cucut dan ikan talang karena dianggap telah membantu sunan Drajat. Kepercayaan ini masih bertahan hingga saat ini. Namun, dari pesan penting tersebut adalah bukan larangannya tetapi bagaiamana masyarakat pesisir bisa berdamai dan bersahabat dengan eksosistem laut.
Tujuh Prinsip Menjadi Muslim
Dalam Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto menjelaskan bahwa selain pendekatan kesenian dalam penyebaran Islam di jawab, Sunan Drajat juga terkenal sebagai penyebar Islam dengan jiwa sosial yang tinggi. Pendekatan keislaman yang dibangun oleh Sunan Drajat adalah islam dengan etos empati, simpati dan peduli kepada masyarakat yang lemah secara ekonomi.
Dalam menyebarkan dakwah Islam ada tujuh prinsip yang cukup terkenal dari sunan Drajat atau dikenal pepali pitu (tujuh dasar ajaran). Tujuh prinsip itu sebagai betikut :
- Kita selalu membuat senang hati orang lain
- Dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada
- Dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan
- Senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi
- Dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia
- Pencapaian kemuliaan lahir dan batin dicapai dengan menjalani shalat lima waktu
- Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.
Dari metode dan konten dakwah seperti itu kita dengan gamblang bisa melihat bagaimana Islam masuk bukan sekedar sebagai agama tetapi juga karakter nilai dan falsafah hidup. Dari 7 prinsip ajaran di atas, hanya 1 hal praktik ibadah yang dijelaskan secara eksplisit. Selebihnya adalah persoalan karakter dan akhlak menjadi muslim yang shaleh, santun, dan peduli.
Penting juga dicatat bahwa berdakwa itu bukan sekedar menyampaikan ajaran agama, tetapi tidak peduli dengan kondisi nyata masyarakat. Dakwah juga membantu mereka dalam bentuk isu kesejahteraan. Konon, Sunan Drajat adalah orang yang juga mengajarkan untuk membuat rumah.
Prinsip ini “Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan” merupakan ajaran kepedulian yang sangat sederhana tetapi mampu menyentuh pemahaman masyarakat untuk saling peduli.
Dari dakwah Sunan Drajat kita bisa melihat Islam saat ini yang kokoh berdiri sebagai agama terbesar di Indonesia. Islam diberikan kepada masyarkat dengan cara dakwah damai. Dakwah yang mengedepankan karakter dari pada formalitas ritual. Dan dakwah yang tidak mencerabut masyarakat jawa dengan budayanya.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah