fatwa
fatwa

Memahami Fatwa (3): Syariat dan Urgensitas Fatwa

Keberadaan fatwa menjadi solusi bagi umat Islam dalam menghadapi persoalan-persoalan baru yang membutuhkan penyelesaian terkait dengan sikap, status hukum, dan langkah-langkah yang harus ditempuh sesuai prosedur syariat Islam. Terkait dengan hal tersebut, Islam melegalkan aktifitas fatwa.

Legalitas fatwa menjadi penting agar menjadi acuan yang benar-benar kokoh dan dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya secara syariat. Artinya, Islam mensyariatkan fatwa melalui dukungan sumber-sumber otoritatif, sehingga posisi dan kedudukan fatwa menjadi legal dan masyru’ (disyariatkan).

Fatwa disyariatkan berdasarkan argumentasi Al-Qur’an, hadis, Ijma, dan rasionalitas akal. Terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan perintah untuk berfatwa, baik secara eksplisit ataupun implisit. Pertama, ayat-ayat yang menunjukkan ancaman bagi orang-orang yang menyimpan ilmu, tidak mau menyampaikan kebenaran pengetahuan yang dimiliki. Misalnya, ancaman bagi ahlul kitab yang mengetahui tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW., namun tidak mau memberitakan dan menyimpannya (QS. Ali Imran [3]: 187). Ancaman ini juga berlaku bagi ulama yang menyimpan ilmu dan tidak menyebarkannya, termasuk ketika diminta fatwanya.

Ayat lain yang menyatakan laknat Allah bagi mereka yang menyimpan ilmu (QS. Al-Baqarah [2]: 159). Ayat ini mengandung larangan menyimpan ilmu yang berarti ilmu harus disebar dan publikasikan. Fatwa menjadi salah satu media menyebarkan ilmu, oleh karenanya berfatwa merupakan perintah agama. (Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 51).

Kedua, terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menggunakan redaksi yastaftunaka (mereka minta fatwa kepadamu, Muhammad) seperti ayat 127 dan 176 Surat An-Nisa, dan juga redaksi yas’alunaka (mereka bertanya kepadamu, Muhammad) sebagaimana yang terdapat pada ayat 189 dan 222 Surat Al-Baqarah, ayat 1 Surat Al-Anfal, dan ayat 4 Surat Al-Maidah. Menurut para ahli tafsir dua redaksi tersebut memiliki makna yang sama, yaitu bertanya dan minta fatwa. (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 44-45).

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Ketika Badai telah Berlalu

Selain Al-Qur’an, banyak sekali hadis Rasulullah yang muncul berdasarkan aduan dan pertanyaan yang diajukan para sahabat. Hal itu menunjukkan bahwa fatwa menjadi bagian dari tugas kerasulan, ar-risalah, sehingga fatwa menjadi bagian dari syariat Islam. Tradisi bertanya bagi orang awam terus berlangsung sejak zaman sahabat, tabiin, hingaa sekarang. Mereka bertanya kepada para ahli hukum Islam dan mengikuti apa yang difatwakan oleh mereka. Secara logika, orang yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang agama tentu harus bertanya kepada para pakar yang ahli di bidang agama. Hal itu meniscayakan terjadinya proses fatwa. (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 47-48).

Oleh karena itu, Fatwa menjadi corong syariat Islam. Ulama yang berposisi sebagai pemberi fatwa merupakan pembubuh stempel bagi setiap perilaku umat Islam. Mufti merupakan mandataris Allah yang menjadi rujukan masyarakat dalam persoalan hukum dan keagamaan secara umum. Kehadiran fatwa di tengah-tengah perubahan sosial yang berlari begitu cepat sangat urgen, ditambah dengan kondisi masyarakat yang suka instan dan kurang peduli terhadap pengetahuan agama karena disibukkan dengan tuntutan hidup. []

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …

fatwa

Memahami Fatwa (7): Bolehkah Selain Mujtahid Berfatwa?

Artikel ini melanjutkan ulasan sebelumnya tentang pandangan ulama dalam menyikapi soal mufti apakah harus mencapai …