fatwa
fatwa

Memahami Fatwa (2): Perbedaan Fatwa, Keputusan Hakim (Qada’), dan Fikih

Islam mengatur semua aspek kehidupan umat manusia, sejak bangun tidur di pagi hari hingga istirahat kembali di malam hari. Segala tindak-tanduk dan perilaku orang mukallaf (orang yang cakap hukum) senantiasa berada dalam sorotan aturan syariat, baik yang berhubungan dengan Allah (‘ubudiyah), dengan makhluk hidup, maupun dengan alam (mu’amalah). Aturan-aturan tersebut dalam Islam kemudian dikenal dengan istilah syariat.

Syariat adalah segala peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk seluruh manusia, baik yang terkait dengan sistem kepercayaan maupun aturan-aturan praktis. Syariat yang berhubungan dengan sistem kepercayaan dikenal dengan disiplin ilmu kalam, tauhid, atau teologi, sedangkan yang terkait dengan perbuatan praktis disebut dengan ilmu fikih.

Fikih sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman yang berasal dari bahasa Arab kemudian diadopsi dalam bahasa Indonesia menjadi ilmu tentang hukum Islam. Oleh karenanya, dalam penggunaan sehari-hari fikih dan hukum Islam diartikan sebagai kalimat sinonim. Hukum Islam atau fikih adalah sebuah produk ijtihad yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.

Produk yang siap pakai berupa fikih ini ketika akan diterapkan dalam dunia nyata mengalami pelabelan yang berbeda-beda sesuai konteks yang melingkupinya. Dalam kaitan itu, menjadi penting untuk mengetahui perbedaan fatwa, qada’ (keputusan hakim), dan fikih, yang mana ketiga-tiganya secara prinsip merupakan produk hukum Islam.

Pada ulasan artikel sebelumnya telah dipaparkan bahwa fatwa adalah pernyataan dan penjelasan tentang hukum syariat yang disampaikan oleh seorang mufti terkait suatu peristiwa sebagai respon terhadap pertanyaan. Secara bahasa qada’ bermakna memutuskan atau menghukumi sesuatu, juga berarti telah rampung mengerjakan sesuatu. Sedangkan dalam istilah qada’ didefinisikan dalam berbagai redaksi.

Ibnu Rusyd, seorang filsuf bermazhab Maliki mengatakan bahwa qada’ adalah mewartakan hukum syariat yang disertai unsur paksaan. Menurut Imam Qalyubi dari kcalangan Syafi’iyah qada’ adalah memberikan keputusan hukum syariat di acntara orang-orang yang bersengketa dengan cara memaksa. Definisi yang dikemukakan oleh Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin dapat merangkum beberapa definisi sebelumnya. Menurutnya, qada’ adalah menjelaskan hukum syariat disertai keharusan untuk melaksanakan dalam rangka menyelesaikan sebuah sengketa. (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 19-20).

Baca Juga:  Pasang Gigi Palsu Berbahan Emas, Apakah Boleh?

Sebagaimana maklum fikih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang berbentuk perbuatan praktis yang diperoleh melalui metode ijtihad. Menurut para pakar hukum Islam (fukaha) fikih adalah kompilasi hukum-hukum syariat yang berbentuk perilaku praktis yang bersumber dari dalil-dalil yang terperinci (tafshiliy). Dalam konteks hubungan tiga term tersebut fikih merupakan hukum syariat secara umum tanpa memperhatikan kejadian atau kasus tertentu. Fikih menjadi acuan umum tentang pengetahuan hukum Islam, sementara qada’ dan fatwa merupakan bentuk penerapan dari fikih terhadap kasus dan peristiwa tertentu yang sedang terjadi.  (Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 41).

Secara detail perbedaan antara fikih dengan fatwa dan qada’ serta perbedaan antara fatwa dan qada’ dapat diuraikan sebagaimana berikut:

1.   Fikih merupakan ketetapan hukum terhadap kasus-kasus umum yang masih berada di alam pikiran, sementara fatwa dan qada’ merupakan penerapan fikih terhadap kasus tertentu yang butuh keputusan dan butuh disikapi. Fikih menjadi acuan para mufti dalam mengeluarkan fatwa sebagaimana fikih juga menjadi pedoman bagi seorang hakim dalam memutuskan suatu perkara hukum (qada’).

2.         Fatwa bergantung terhadap deskripsi detail tentang kasus yang disodorkan oleh penanya, orang yang minta fatwa (mustafti), sementara qada’ melalui pemikiran, pertimbangan, dan mengikuti prosedur hukum, semisal saksi dan bukti-bukti pendukung, dalam menetapkan kasus dan keputusan yang mengikat.

3.         Fatwa tidak berkonsekuensi keharusan yang mengikat, namun sebatas penjelasan terhadap status hukum dari kasus yang disodorkan oleh penanya, mustafti. Sementara qada’ lebih dari sekedar penjalasan, tetapi mengandung kewajiban yang mengikat dari seorang hakim tentang keputusan yang telah ditetapkannya.

Baca Juga:  Telaah Makna Hadist Man Tasyabaha Bi Qoumin Fahuwa Minhum, Hadist Yang Sering Di Perdebatkan Saat Akhir Tahun

4.         Dalam fatwa berlaku hukum wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Sedangkan dalam keputusan hakim (qada’) tidak mengenal hukum sunah dan makruh, apalagi mubah, sebab qada’ hanya mengenal perintah dan larangan yang bersifat keharusan dan memaksa.

5.         Fatwa meliputi segala persoalan keagamaan secara umum, persoalan akidah, ibadah, dan muamalah. Sedangkan qada’ tidak berurusan dengan persoalan pertentangan makna ayat atau hadis, kesucian air, keharaman binatang, dan lain-lain, sebagaimana qada’ juga tidak bersentuhan dengan sah dan tidaknya ibadah tertentu, mengingat hal tersebut merupakan objek fatwa, bukan keputusan hakim. (Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 42-44).

Alhasil, fikih merupakan payung besar yang menaungi fatwa dan keputusan hakim, sementara fatwa dan keputusan hakim menjadi bagian dari fikih, karena keduanya merupakan eksekutor konsep-konsep fikih terhadap kasus tertentu. Bahkan, fatwa mencakup di luar ranah kajian fikih, seperti akidah, akhlak dan tasawuf. []

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …