Ibnu Sina
Ibnu Sina

Mengenal Lebih Dekat Ibnu Sina : Ilmuwan Muslim yang Menjadi Referensi Barat

Abu ʿAli al-Ḥusayn ibn ʿAbd Allah ibn Sina atau lebih dikenal sebagai Ibnu Sina merupakan salah seorang dari beberapa Cendekiawan Muslim terkemuka yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama tetapi juga bidang-bidang keilmuan lain seperti fislafat, fisika, psikologi, kimia dan kedokteran.

Ibnu Sina memiliki minat belajar tinggi sejak masih kecil. Beliau hafal al-Quran di usia 10 tahun. Teori baru tersebut memberikan perimbangan terhadap teori lama yang diabadikan dalam sebuah pepatah bahasa Arab yang berbunyi “Jiwa yang sehat terdapat dalam badan yang sehat.”  

Di dunia Barat Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicenna. Beliau lahir di Bukhara Uzbekistan pada tahun 980 M. Salah satu fakta Ibnu Sina yang lainnya adalah Ibnu Sina juga merupakan penulis yang sangat produktif. 

Salah satu karyanya yakni kitabnya berjudul Al-Qanun fi al-Thib yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Canon of Medicine menjadi buku referensi kedokteran hingga sekarang. Beliau digelari Bapak Kedokteran.   

Salah satu teori kesehatan yang lahir dari pemikiran beliau yang sangat terkenal hingga saat ini “bahwa sakit tidak melulu disebakan oleh lemahnya fisik tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi kejiwaan yang lemah”. Teori ini beliau temukan ketika menangani seorang pasien yang sakit secara fisik, namun setelah beliau telusuri penyebabnya bukan karena gangguan fisik namun factor kejiwaannya yang melemah. 

Pada sampul buku The Canon of Medicine, tergambar seorang gadis sedang diperiksa denyut nadinya oleh seorang tabib dan tabib lainnya mempersiapkan obat untuk seorang pemuda. Pemuda ini jatuh sakit, tak seorang pun bisa menyembuhkan. 

Dari hari ke hari sakitnya makin memburuk karena ia sudah tak mau makan dan juga tidak mau berbicara dengan siapa pun. Maka dari keluarga pasien tersebut didatangkanlah Ibnu Sina untuk memeriksa sang pemuda itu.

Baca Juga:  Fikih Banjir : Bagaimana Status Barang yang Terhanyut Banjir?

Ibnu Sina memeriksa denyut nadi si pemuda dan meminta seseorang untuk menyebutkan nama-nama kota di provinsi itu. Saat orang itu menyebutkan alamat tertentu, denyut nadi si pangeran berdetak lebih kencang. 

Dari situlah Ibnu berhasil mendiagnosis pemuda itu sakit bukan karena ada gangguan suatu penyakit namun lebih kepada gangguan yang berifat kejiwaan. Dalam ilmu kedoteran hal ini disebut psikosomatis, yakni suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran mempengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya gangguan fisik. 

Fakta Ibnu Sina menyadarkan kita bahwa sangat banyak tokoh-tokoh muslim yang diperhitungkan pada berbagai bidang keilmuan, bahkan tidak sedikit pemikiran-pemikiran tokoh muslim tersebut memberi sumbangsih terhadap perkembangan pengetahuan modern yang ada saat ini. 

Meski karyanya diakui dunia Barat, Ibnu Sina justru dianggap oleh kalangan muslim sebagai seorang ateis atau seseorang yang tidak mempercayai tuhan, anggapan ini muncul karena Ibnu Sina menganut aliran Mu’tazilah. 

Aliran mu’tazilah merupakan salah satu aliran teologi yang dapat dikelompokkan sebagai kaum rasionalis dalam islam. Aliran Mu’tazilah kurang diterima oleh sebagian penganut Sunni karena beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi. Penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Alquran secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim. 

Pada saat Ibnu Sina berusia 18 tahun, dirinya mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Raja Bukhara. Saat itu Raja tersebut mengalami penyakit yang cukup serius bahkan tidak ada satupun dokter yang mampu menyembuhkannya. Dan saat itu, kemampuan Ibnu Sina sudah mulai terkenal ke seantero negeri, maka dirinya diundang ke istana oleh sang raja, setelah dirawat dan diobati oleh Ibnu Sina, akhirnya sang rajapun bisa disembuhkan. 

Setelah Ibnu Sina berhasil menyembuhkan sang raja, hubungan keduanya menjadia semakin dekat. Sang raja yang memiliki koleksi buku yang sangat lengkap di perpustakaannya, memberikan akses bagi Ibnu Sina agar dapat mengunjungi perpustakaan tersebut dengan mudah. Dengan kemudahan tersebut, Ibnu Sina mendapatkan ilmu baru dan semakin memperluas wawasan terhadap bidang keilmuan lainnya. 

Baca Juga:  Kenapa Rasulullah Melarang Minum Berdiri? Inilah 5 Dampak Buruk Minum Sambil Berdiri

Sangat banyak hal yang bisa dibahas mengenai fakta Ibnu Sina. Namun, beberapa hal diatas merupakan alasan utama, mengapa nama besar Ibnu Sina masih abadi di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ibnu Sina wafat pada tahun 428 Hijriah atau 1037 tahun Masehi. 

Makam Ibnu Sina di kota Hamadan, sebelah tenggara Teheran, Iran, pada 1950 diperbarui dan diubah menjadi museum yang dilengkapi dengan perpustakaan dengan ribuan koleksi buku. IBnu Sina merupakan tokoh yang dianggap mampu mengembalikan kejayaan ilmuwan Islam abad pertengahan dan karyanya masih diakui hingga sekarang.

Bagikan Artikel

About Ernawati

Avatar