Mengenal Ibnu Rusyd: Fuqaha, Ilmuwan dan Filusuf Muslim dari Andalusia

0
6192
ibnu rusyd

Ibnu Rusyd yang lebih dikenal di Barat dengan Averroes merupakan ilmuwan, ulama dan filusuf muslim yang telah menyumbangkan karya-karya besar terhadap kemajuan Islam.


Kepada umat Islam, Allah telah memberi nikmat dan karunia besar dengan banyaknya para Imam, lebih khusus para imam mujtahid yang menggali dan memahami al Qur’an, hadis, atsar (jejak) sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga saat ini umat Islam memiliki pedoman madzhab hasil ijtihad mereka sebagai pedoman beragama.

Tak bisa dibayangkan, andai tidak ada peran para imam madzhab, bagaimana umat akan memahami doktrin agama dengan baik dan benar. Sebagaimana telah maklum, memahami konsep agama bukanlah perkara mudah. Hanya orang-orang terpilih, seperti imam madzhab dan ulama yang mengikutinya, yang mampu melakukannya.

Di antara sekian warisan yang sangat berharga tersebut tercatat kitab Bidayatu al Mujtahid wa Nihayatu al Muqtashid karya imam Imam Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Rusyd al Qurthubi. Kitab ini membahas sejumlah masalah fiqhiyyah secara syamil dan sangat membantu untuk beribadah kepada Allah sesuai tuntunan yang benar dan membedakan yang halal dan haram.

Keistimewaan kitab ini, seperti yang dijelaskan pengarangnya, berusaha untuk menjelaskan yang shahih dan yang dlaif dari berbagai hadis dan atsar sehingga mudah mengetahui tingkat validitas dalil yang shahih.

Sekilas Tentang Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd di samping seorang ulama dan ilmuan yang alim, beliau juga seorang filusuf. Memiliki nama lengkap Abu al Walid Muhammad bin Abi Qasyim Ahmad. Ia adalah putra dari seorang guru besar madhab Maliki Abu al Walid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bi Rusyd al Qurthubi. Lahir pada tahun 520 H.

Dalam ilmu fiqih, ia belajar kepada ayahnya, membaca dan mengkaji kitab al Muwaththa’ karya imam Malik sampai selesai. Ibnu Rusyd juga belajar kepada Abu Masarrah dan ulama-ulama yang lain. Belajar ilmu kedokteran kepada Abu Marwan bin Hazbul.

Kepakarannya dalam berbagai disiplin ilmu bisa diketahui dari pernyataan Al Abbar, “Di Andalus tidak tidak pernah ada seorang yang sempurna keilmuan dan keutamannya selain Ibnu Rusyd”. Gairah keilmuannya dimulai sejak baligh.

Dikatakan, sejak usia baligh tidak ada malam yang terlewati kecuali belajar. Selama hidupnya hanya dua malam ia absen menekuni ilmu dan menulis, yakni pada malam ayahandanya meninggal dan malam pernikahannya.

Ia mengembara sampai ke Sevilla dan tempat lainnya. Belajar ilmu kedokteran dari Abu Marwan al Balansi dan Abu Ja’far Harun. Untuk ilmu fiqih berguru kepada al Hafidz al Faqih Abu Muhammad bib Rizq.

Ibnu Rusyd telah menulis hampir sepuluh ribu lembar, sehingga ia sangat dikagumi dalam fatwa kedokteran sebagaimana dibanggakan kala berfatwa masalah fikih. Beliau juga menguasai dengan baik bahasa Arab dan hafal Diwan Abi Tammam dan al Mutanabbi.

Karya-karya Ibnu Rusyd

Di antara karyanya adalah Bidayatu al Mujtahid dalam bidang fiqih, al Kulliyyat dalam ilmu kedokteran, Mukhtashar al Mustasyfa dalam bidang ushul fiqih, dan lain-lain. Berkat kealimannya, mengantarnya pada kursi hakim di Kordova.

Dalam Tarikh al Hukama,  Abi Ushaiba’ah mengatakan, Ibnu Rusyd sangat pandai dalam bidang fiqih dan kedokteran, memiliki hubungan baik dengan Marwan bin Zuhr, memiliki mental dan jiwa yang sangat kuat, dia belajar ilmu kedokteran kepada Ja’far bin Harun dalam waktu yang cukup lama.

Pada saat al Mansur berkuasa di Kordova, ia memanggil Ibnu Rusyd dan sangat memuliakannya. Walaupun pada akhirnya al Mansur menyiksanya karena menilai pemikiran filsafat Ibnu Rusyd menyimpang.

Karyanya yang lain adalah Tahafut al Tahafut, Minhaj al Adillah (ushul fiqih), Fashl al Maqal Baina al Syari’ah wa al Hikmah min al Ittishal, Syarhu al Qiyas karya Aristoteles, Maqalah fi al ‘Aqli, Maqalah fi al Qiyas, al Fahsyu fi Amri al ‘Aqli, al Fahsyu ‘an Masail fi al Syifa, Masalatu fi al Zaman, Maqalah fi ma Ya’taqiduhu al Mutakallimun fi Kayfiyyati al Wujud al ‘Alam, Maqalah fi Nadzar al Farabi fi al Mantiq wa Nadzar Aristha, Maqalah fi Ittishal al ‘Aqli li al Insan, Maqalah fi al Maddah al Ula, Maqalah fi al Raddi ‘ala Ibni al Sina,  Maqalah fi al Mizaj, Masail al Hukmiyyah, Maqalah fi Harakah al Falaq, Ma Khalafa fihi al Farabi fi Aristha, Syarh Urjuzah Ibnu Sina bidang kedokteran, Al Muqaddimah bidang fiqih, Kitab al Hayawan, dan Jawami’ Kutub Aristha. Disamping itu juga mensyarahi kitab al Nafs, al Mantiq, Talkhis al Ilahiyyah karya Nicolas, Talkhis ma Ba’da al Thabi’ah karya Aristoteles, dan Talkhis al Istiqshat tulisan Galenos. Ibnu Rusyd juga meringkas kitab al Mizaj, al Quwa, al I’lal, al Ta’rif, al Hamyat, Hilah al Bar, dan al Sima’ al Thabi’i.

Ibnu Rusyd Meninggal Dunia

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Ibnu Rusyd memiliki hubungan baik Khalifah al Mansur. Lebih dari itu, Khalifah sangat memuliakannya. Namun, hubungan baik itu tidak berjalan lama.

Keretakan hubungan baik tersebut bermula saat Ibnu Rusyd dituduh sebagai atheis dan zindiq, sikap khalifah berubah drastis. Ia kemudian diasingkan ke Marakis, salah satu kota di Maroko.

Tidak hanya mengalami penderitaan hidup di daerah pengasingan, sebagian karya-karyanya juga dibakar. Walaupun akhirnya Khalifah al Mansur sadar kalau Ibnu Rusyd hanyalah korban fitnah dan memberikan amnesti dan memanggil kembali Ibnu Rusyd.

Hubungan mesra kembali terajut. Dan setahun setelah itu, Ibnu Rusyd meninggal dunia di Marakis. Tepatnya pada hari kamis tanggal 9 shafar tahun 595 H. Beliau tutup usia pada umur 75 tahun.  Sementara menurut Usaibha’ah, Ibnu Rusyd meninggal pada awal tahun 595 H.