dakwah di tengah pandemi
dakwah di tengah pandemi

Model Dakwah di Era Pandemi Covid-19

Pandemi covid-19 telah mendorong model dakwah online yang lebih masif. Namun, tidak asal dakwah perlu diingat ada prinsip-prinsip yang harus dipedomani oleh para juru dakwah.


Pandemi covid yang melanda berbagai benua tidak hanya berimbas pada perekonomian, namun juga pada aspek keagamaan, termasuk model dan gaya dakwah. Secara sosiologis orang Indonesia dalam beraktifitas sering berkumpul dan berjamaah dengan mengedepankan kebersamaan.

Sering kita lihat dakwah Islam dengan bentuk pengajian dalam jumlah jamaah yang banyak. Haul Ulama dihadiri ribuan santri. Begitu pun majlis sholawat di berbagai daerah berjibun orang berkerumun. Aktifitas di masjid pun pada biasanya sesak dipadati untuk beribadah dan berdakwah.

Kini di tengah pandemi, masyarakat Islam diuji keimanan dan keislamannya dalam mencari ketenangan bathin melalui majlis dan dakwah online serta ibadah di rumah masing-masing. Apa makna dan hikmah yang harus dipetik dari dakwah semacam ini?

Tidak ada lagi riya’ ingin dipuji paling sholih datang ke masjid. Tidak ada lagi kesombongan yang patut dipamerkan ketika berangkat ke masjid memakai sarung paling mahal. Yang ada hanyalah ketulusan dan keikhlasan seseorang dalam beribadah kepada Allah. Hanya sang Pencipta dan hambaNya yang tahu apa yang dilakukan di rumah.

Begitu pula seseorang dalam mencari ilmu agama, tidak ditemukan lagi pengajian akbar, pengajian umum, majlis sholawat dalam jumlah yang banyak. Karena bagi masyarakat awam forum-forum tersebut menjadi pengingat kepada Allah SWT, menenangkan pikiran dan tambahan pengetahuan agama Islam.

Kondisi seperti ini memaksa Kyai atau Ustadz untuk melakukan dakwah via online pada bulan Ramadhan nantinya. Biasanya bicara di depan orang banyak, kini bicara sendiri di depan kamera. Dengan mengaji online, santri tidak bisa lagi ngalap barokah dengan salaman ke kyai, membawakan kitabnya, dan mencari berkah dari bekas minumnya kyai.

Baca Juga:  Bahaya Berfatwa Tanpa Bertaqwa

Kini hanya mengharap barokah dari menyimak pengajian online. Cukup menghadiahkan surah al-Fatihah kepada kyai dari rumah masing-masing sebagai wujud ta’dzim kepada kyai.

Model Dakwah Online

Pandemi telah mendorong maraknya dakwah online secara masif. Dengan model dakwah ini sudah sesuai dengan pesan khalifah Ali bin Abi Thalib “ajarilah anakmu sesuai dengan zamannya”. Kalau zaman walisongo, masyarakatnya suka dengan wayang, maka Sunan Kalijaga berdakwah dengan media wayang.

Saat ini, era digital tak bisa dihindari, baik dari pembelajaran dan kehidupan manusia terpaksa mengikuti perkembangan teknologi terlepas dari adanya wabah covid-19 atau tidak. Kini saatnya kyai atau ustadz kampung  atau pesantren pelosok tampil di media online yang selama ini tidak muncul di dunia maya.

Harapannya tentu mampu mengisi konten-konten Islam rahmatan lil alamin. Berdakwah itu mengajak bukan menginjak, dengan cara yang ramah bukan marah, dan dengan senyum terbuka bukan memaksa.

Banyak ustadz di media sosial mengedepankan eksklusivitas daripada inklusivitas dalam beragama. Merasa paling benar sendiri, menyalahkan tradisi keagamaan di luar kelompoknya, bahkan tak jarang muncul pengkafiran.

Meminjam istilah pemikir Mesir Nasr Hamid Abu Zayd at takfiri fi zamani tafkir (kafir-mengkafirkan di zaman penuh dengan pemikiran). Pemikirannya konservatif, eksklusif dan sempit pada banyak kelompok.

Berdakwah Islam dengan dilabeli ustadz tidak hanya butuh hafal 3 ayat dan 3 hadits. Butuh kedalaman ilmu agama, di bidang al Quran harus menguasai Bahasa Arab, nahwu, shorof, balaghoh, ilmu tajwid, ilmu tafsir, qiro’ah sab’ah, ayat muhkamat, ayat mutasyabihat, asbabul nuzul, dan ilmu al Quran lainnya.

Dalam bidang hadits, pendakwah harus menguasai ilmu mustholah al hadits, ilmu takhrij al hadits, ilmu jarh wa ta’dil, kategori hadits shohih, hasan dan dho’if, ilmu diroyah, ilmu riwayah, asbabul wurud, ilmu mukhtalif al hadits, dan ilmu hadits lainnya. Belum lagi ilmu fiqih, ushul fiqih, aqidah, syariah dan akhlaq. Menjadi ustadz bukanlah karbitan semata, menjual dalil-dalil kemudian menyalahkan orang yang jauh lebih alim. Itu bentuk tindakan yang tidak beragama.

Baca Juga:  Doktrin Takwa, Cara Islam Melawan Rasialisme

Prinsip Dakwah Online       

Mengingat media sosial itu media terbuka, siapapun bisa mengakses, agama apa pun, negara manapun, dan beragam budaya. Agar tidak terjadi muncul mudharat, ada beberapa prinsip dalam berdakwah lewat media media sosial yang perlu diperhatian.

Pertama, sikap tasamuh, yaitu toleran terhadap perpedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama dalam hal furu’ (masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakat dan kebudayaan. Karena dalam hadits dijelaskan ikhtilafu ummati rohmatun (perbedaan pendapat di antar umatku adalah rahmat).

Kedua, sikap tawasuth yaitu sikap tengah yang sesuai diajarkan dalam Al Qur’an surah Al Baqoroh ayat 143 “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang tengah-tengah..”. Menjadi pendakwah di media sosial baik facebook, IG, youtube dan media sosial lainnya harus berusaha menjadi kelompok panutan dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang tatharuf (ekstrim).

Ketiga, statemen mengedepankan kemashlahatan umat, bukan kemudharatan. Sehingga masyarakat awam tidak muncul penafsiran yang menyebabkan permusuhan. Bukan statemen yang justru mempertegas perbedaan dan menghakimi salah atas tafsir dan pendapat yang berbeda. Dakwah harus menyatukan dalam perbedaan, bukan memecah yang sudah bersatu.

Keempat, pendekatan dengan dakwah bil hikmah. Menjadi panutan bagi masyarakat itu sangat berat, maka butuh ilmu dan belajar banyak. Bisa dibayangkan jika penumpang bus dipaksa naik oleh kondektur, bagaimana hati penumpang. Berbeda ceritanya jika kondektur menjelaskan tentang fasilitas di dalam bus dengan ramah, tentu penumpang akan senang naik.

Begitu pula dalam berdakwah, dengan kelemah lembutan dan kasih sayang orang akan senang mendengarnya. Islam adalah agama nasehat dan hikmah untuk kemashlahatan umat.

Prinsip ke empat di atas ketika dijalankan para pendakwah, maka kehidupan menjadi damai dan sejuk. Orang awam pun bisa menikmati hand phonenya dengan sajian para ustadz yang mengisi di medsos.

Baca Juga:  Pandangan Para Ulama Mengenai Investasi Miras yang Heboh di Indonesia

Setiap insan punya kewajiban berdakwah. Bukankah dalam kondisi apapun Rasulullah mengingatkan kepada kita untuk selalu berdakwah Balighu ‘anni walau ayat (sampaikanlah apa-apa dariku walau satu ayat).

Berdakwah beragam caranya, dengan ceramah, berbuat baik, menulis, dan menasehati. Dengan munculnya kyai dan ustadz kampung melalui media sosial, nantinya mampu mewarnai dunia digital dengan ajaran Islam yang toleran, Islam yang memberikan rahmat segala alam.

Bagikan Artikel ini:

About Yoyok Amirudin

Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Check Also

damai di tengah perbedaan

Damai di Tengah Perbedaan

“Tuhan menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kalian saling mengenal…” (Q.S. Al Hujurat: …

self management

Self Management: Cara Islami Menghadapi Masalah

Cobalah anda melihat bagaimana teman anda membahagiakan dirinya ketika dalam kesusahan. Ada yang pergi ke …