Tanpa menunggu komando, pada saat ditetapkan oleh pemerintah bahwa hilal tanggal 1 syawal telah terlihat dan dinyatakan bahwa esok hari adalah Hari Raya Idul Fitri serentak di seluruh pelosok desa dan di sudut-sudut kota terdengar takbir menggema menyambut hari kemenangan itu. Gemuruh takbir menandakan kegembiraan yang tiada tara atas kemenangan berperang melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh.

Takbir bermakna mengagungkan. Kalimat takbir dalam Hari Raya dimaksudkan untuk mengagungkan Allah, mengakui ke-Mahabesaran-Nya, dan merupakan sebuah ungkapan atas ke-Esa-an Tuhan. Sifat ke-Maha-an Tuhan sekaligus mengafirmasi sifat kekurangan bagi selain Dia, sementara sifat kekurangan tak layak disematkan dalam sifat ketuhanan. Karena hakikat ketuhanan tidak akan pernah mengakomodir sifat kekurangan sedikitpun.

Oleh sebab itu, takbir disyariatkan dalam shalat bertujuan untuk menolak segala bentuk sujud kepada selain Allah. Takbir juga disyariatkan saat menyembelih hewan kurban untuk menegasikan segala bentuk takarub yang dipersembahkan untuk berhala dan selain Allah.

Demikian pula takbir menyambut Hari Raya saat mengakhiri ibadah puasa sebagai isyarat bahwa puasa dipersembahkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Penghambaan itu berbeda dengan tradisi orang-orang musyrik dalam menyembah dan menghamba terhadap berhala-berhala mereka. (Kitab al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 108).

Hukum Takbir Id

Semua ulama sepakat bahwa takbir pada Hari Raya Idul Fitri memang disyariatkan dan menurut jumhur ulama hukumnya sunnah berdasarkan ayat berikut:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.“ (QS. Al-Baqarah, 2: 185)

Menurut Imam Syafi’i maksud ayat ini adalah sempurnakanlah hitungan bulan Ramadlan lalu bertakbirlah ketika Ramadlan sudah berakhir dengan mengagungkan Allah sebagai rasa syukur atas anugerah hidayah untuk terlaksananya ketaatan berupa ibadah puasa. (al-Razi, Tafsir Mafatih al-Ghaib, Juz 3, hal. 107).

Bertakbir dalam ayat tersebut mengarah pada takbir Hari Raya Idul Fitri karena ayat sebelumnya berbicara tentang kewajiban puasa Ramadlan. (Kitab al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 107).

Waktu Takbir Id

Menurut golongan Syafi’iyah dan Hanabilah takbir Idul Fitri disunnahkan sejak terbenamnya matahari pada malam Hari Raya Idul Fitri hingga menjelang shalat Id dilaksanakan. Sedangkan menurut Hanafiyah sejak pagi hari saat menuju tempat pelaksanaan shalat Id hingga menjelang shalat. Setelah pelaksanaan shalat Id tidak ada lagi kesunnahan mengumandangkan takbir, kecuali bagi khatib dalam khutbahnya. (Wahabh al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Juz 2, hal. 531).

Menurut Jumhur ulama sunnah mengumandangkan takbir dengan suara yang keras di jalanan, di pasar, di masjid, dan di rumah-rumah dengan tujuan untuk menampakkan syiar Islam dan menyemarakkan hari raya. (Kitab al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 107., Afifuddin Muhajir, Fath al-Mujib al-Qarib, hal. 43).

Bacaan Takbir Id

Tidak ada redaksi khusus yang dapat dijumpai dalam Sunnah Nabi terkait takbir Hari Raya. Namun sebagian sahabat Nabi di antaranya Salman Al-Farisi mempopulerkan takbir dengan redaksi berikut:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ,لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Artinya: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dan segala puji milik Allah.” (Kitab al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 109).

Dalam redaksi takbir di atas ulama berbeda pendapat terkait pengulangan kalimat Allahu akbar. Menurut golongan Hanafiyah dan Hanabilah kalimat Allahu akbar yang terdapat di awal redaksi dan di akhir sebelum kalimat walillahil hamd diulang sebanyak dua kali. Sedangkan menurut Malikiyah dan Syafi’iyah kalimat Allahu akbar di awal redaksi diulang sebanyak tiga kali persis seperti redaksi yang tertulis di atas.

Ketika sudah membaca takbir dengan redaksi di atas sebanyak tiga kali selanjutnya sunnah ditambah redaksi berikut:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً، وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً, لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إلاَّ إِياَّهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدّيْنَ، وَلَوْكَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ.

Lalu diakhiri dengan shalawat berikut ini:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ أَنْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلى أَزْوَاجِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلى ذُرِّيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Artinya: “Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji milik Allah sebanyak-banyaknya, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan sore, tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba, dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir membencinya.”

“Ya Allah! Limpahkanlah rahmat atas gusti kami Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, sahabat anshar, para isteri, dan keturunannya, serta limpahkanlah salam sebanyak-banyaknya.” 

Redaksi lengkap sebagaimana di atas juga digunakan oleh ulama Mesir sejak dahulu dan juga disenangi oleh para ulama’ dan termaktub dalam karya mereka. Imam Syafi’i berkata, “jika masih mau ditambah maka hal itu adalah baik, dan aku senang.” (Kitab al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 109-110).

Tambahan Bacaan Untuk Takbir Id

Dalam praktiknya di kalangan kaum muslimin terdapat tambahan-tambahan redaksi saat mengumandangkan takbir, baik berupa ayat Al-Qur’an sesuai konteks takbir Idul Fitri seperti surat Al-Baqarah ayat 185, atau hadis, maupun maqalah Arab.

Berikut hadis yang sering digunakan dalam takbiran:

زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ

Artinya: “Hiasilah Hari Raya kalian dengan bacaan takbir” (HR. Abu Hurairah). (Al-Mu’jam al-Kabir li al-Thabrani, Juz 19, No. 160, hal. 69).

Maqalah Arab:

لَيْسَ اْلعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ اْلجَدِيْد, اِنَّمَا اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْد, وَعَنِ اْلمَعْصِيَةِ بَعِيْد.

Artinya: “Hari Raya bukanlah milik orang yang berpakaian baru, namun sesungguhnya Hari Raya adalah milik orang yang bertambah taat dan menjauhi maksiat.” []

Wallahu a’alam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.