toleransi
toleransi

Pentingnya Toleransi dan Menjaga Silaturahmi Prespektif KH. Hasyim Asy’ari

Wacana toleransi dan menjaga silaturahmi sering digaungkan oleh para tokoh agamawan, khususnya. Hal itu mengingat, dua sikap tersebut memiliki peranan yang sangat penting demi menjaga kemaslahatan di dunia ini. Sesuai dengan sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan rahmat-Nya untuk suatu kelompok yang di dalamnya terdapat seorang yang suka memutus tali silaturahmi (ikatan persaudaraan).

Kiai Hasyim As’yari dalam kitabnya, at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqati’ati al-Arham wal Aqarib wal Ikhwan, memberikan rincian secara jelas mengenai gejala yang diharamkan karena berakibat memutus tali persaudaraan. Di antaranya, memutus suatu kegiatan yang biasanya bisa mendekatkan suatu jalinan layaknya kerabat. Seperti saling komunikasi melalui berbagi harta, kirim surat, saling mengunjungi, dll. Adapun, jika memutus kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan tersebut tanpa ada uzur syar’i, maka siapapun yang melakukan mendapatkan dosa besar. Karena cenderung meresahkan hati dan menyakiti.

Berhati-hati terhadap tindakan tersebut sangat penting dilakukan, apalagi di era seperti ini yang mengharuskan umat muslim khususnya ikut merasakan penderitaan muslim lainnya. Karena hakikatnya, seorang muslim dengan lainnya bagaikan anggota tubuh. Jika satu yang sakit, maka semuanya ikut merasakan.

Menarik lagi, Kiai Hasyim Asy’ari dalam kitab tersebut juga memberikan contoh betapa indahnya perbedaan yang berujung rahmat, yang dilakukan oleh para ulama terdahulu. Adanya kisah yang dimasukkan tersebut bisa menjadi teladan terhadap maraknya perbedaan intelektual yang semakin berkembang pesat saat ini.

Berikut peristiwa penting yang yang dikutip dalam kitab Kiai Hasyim tersebut “sudah diketahui bersama bahwa perbedaan sudah pernah terjadi semenjak masa para sahabat Nabi, yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan rinci. Padahal mereka semua adalah sebaik-baiknya umat. Namun meskipun demikian, mereka tidak ada yang mencela satu sama lain. Tidak ada unsur merendahkan sehingga tidak mudah saling tuduh kesalahan.

Begitu juga perbedaan terjadi terhadap para imam mazhab. Seperti imam Abu Hanifah dan imam Malik terkait banyak permasalahan. Bahkan jika dihitung, jumlah cabang yang mereka perselisihkan mencapai empat belas ribu bab, baik yang berkaitan dengan masalah ibadah maupun muammalah. Begitu juga perbedaan yang terjadi antara imam Ahmad bin Hambal dengan gurunya, imam Abu Idris as-Syafii, yang juga mencapai banyak persoalan. Tetapi mereka tidak saling cela. Tidak saling tuduh. Tidak saling hina satu sama lain. Melainkan justru, mereka saling mencintai, saling menghormati, dan saling menyeru pada kebaikan.”

Tindakan-tindakan tersebut di era Pandemi ini mendapatkan peluang besar untuk diterapkan. Di antaranya agar bisa menebar ketenangan di tengah umat yang sedang berada di tengah kubangan keresahan. Bukan justru saling hujat, saling gunjing sehingga berakibat pada permusuhan yang tidak berkesudahan. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Al-Jurnaji bahwa hanya dengan menjaga kebijakan (al-Hikmah) dengan baik, maka semua kemaslahatan di dunia ini bisa terwujud. Mari kita renungkan!

Bagikan Artikel ini:

About Khoirul Anwar Afa

Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta.

Check Also

Serat Centhini

Konsep Amalan Harian dan Zaman Huru Hara dalam Sastra Jawa

hari Senin seperti yang dilakukan Nabi Isa, malam harinya tidak makan daging sembari mengucapkan kalimat “Ya Rahman Ya Rahim” sebanyak 103 kali.

syarat dai

Membaca Sikap Pendakwah Populer yang Jumawa

muncul para pendakwah populer yang didominasi para dai yang tidak memiliki latar belakang keilmuan agama dari pesantren ataupun dari sekolah keagamaan.