shalat nabi
shalat nabi

Rasulullah Menunda dan Mempercepat Shalat Karena Dua Masalah ini

Rasulullah dalam dua peristiwa berbeda pernah menunda shalat jamaah dan pernah mempercepat shalat jamaah. Semua dilakukan dengan pertimbangan mashlahah.


Ibadah seperti shalat adalah masalah utama dan wajib diutamakan. Tuntutan shalat untuk tepat waktu dan kondisi tenang agar mampu menyerap makna khusu’ shalat menjadi bagian penting dari pelaksanaan ibadah tersebut.

Namun, karena ada kejadian dan peristiwa tertentu terkadang tuntunan itu harus ditunda. Bukan sekedar peristiwa alam dan kejadian yang sangat penting, terkadang hanya persoalan anak yang menangis menuntut shalat untuk dipercepat.

Setidaknya itu pula kejadian yang dialami oleh Rasulullah. Ada dua peristiwa berbeda yang menuntut Rasulullah bersikap fleksibel dalam persoalan ibadah. Tentu saja bukan meremehkan, tetapi mempertimbangkan kemudahan bagi umatnya.

Peristiwa pertama terjadi ketika cuaca Madinah sangat panas yang tidak memungkinkan melakukan shalat berjamaah ketika itu. Dari Abu Dzar berkata : Seseorang muadzin Nabi mengumandankan adzan dhuhur. Kemudian beliau bersabda: “tundalah, tundalah”. Atau beliau katakana “tunggulah, tunggulah”.

Beliau kemudian melanjutkan : “Panas yang menyengat ini berasal dari hembusan api jahanam. Jika udara sangat panas menyengat maka tundalah shalat hingga kita melihat bayangan suatu benda (HR Bukhari 511). Dalam redaksi yang lain : Tundalah hingga kita melihat bayang-bayang bukit.

Beragama sangat penting tetapi menjaga keselamatan jiwa juga menjadi pertimbangan agama. Rasulullah memberikan pesan penting. Untuk jangan mempersulit diri dalam beribadah dengan menunda ketika kondisi cuaca memungkinkan.

Peristiwa kedua juga dikisahkan dari hadist Bukhari no. 675. Beliau bersabda : Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar tangisan bayi, maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya.

Hadist kedua ini tentu sangat menjadi pelajaran penting bagi umat saat ini. Bukan sekedar pertimbangan yang genting dan bencana yang melanda. Persoalan tangisan bayi pun menuntut Nabi untuk mempercepat shalat jamaah.

Lihatlah, bagaimana Nabi memberikan alasan kemanusiaan yang sangat merasuk dalam hati orang-orang yang masih punya hati. Nabi khawatir memanjangkan shalat ketika itu akan memberatkan ibunya.

Itulah sebenarnya bagaimana Islam diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah dengan mempertimbangkan kondisi alam dan sosial. Sikap Nabi yang fleksibel dan adaptable dengan kondisi alam dan sosial termasuk dalam ibadah menjadi contoh kita untuk tidak mempersulit diri dengan alasan ketaatan ekstrem.

Bagikan Artikel ini:

About Syukron Katsir

Check Also

hanya mendapat haus dan lapar

Ini Untungnya di Rumah Saja untuk Kesempurnaan Puasa Ramadhan

Secara bahasa berpuasa (shiyam) berarti menahan (imsak). Perbuatan menahan diri terhadap melakukan aktifitas apapun disebut …

islam didzalimi

Islam Terdzalimi di Tengah Pandemi?

Negara manapun tengah menyesuaikan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi wabah pandemi covid-19. Tidak hanya aktifitas sosial …