penceramah radikal
penceramah radikal

Siapa Penceramah Radikal? Ini Jawabannya

Kalau mereka yang awam pengetahuan agamanya bertanya, “Siapa penceramah/dai/mubaligh radikal”? Tentu, bisa dimaklumi. Tapi, kalau yang bertanya Amirsyah Tambunan, Sekjen MUI, kapasitasnya sebagai bagian dari MUI patut dipertanyakan. Memang tidak mengerti atau pura-pura tidak memahami fakta yang sebenarnya.

Sebenarnya gampang untuk mengidentifikasi pribadi/kelompok yang terafiliasi ideologi radikal. Sejak awal perbincangan ini bukan hal baru. Dan fakta pun mengatakan banyak sekali kedok penceramah dengan mengajarkan ideologi radikalisme. Inilah ciri-cirinya.

Pertama, adalah mereka yang memiliki hobi menuduh bid’ah/takfiri amaliah kelompok muslim yang tidak sehaluan madzhab dengan mereka. Tidak hanya menuduh, bahkan sampai memberi cap kafir. Kaum takfiri ini menjadi ancaman serius, bukan hanya di Indonesia, tapi secara global.

Gerakan kaum takfiri menjadi sebuah ancaman bagi seluruh negara di dunia karena telah mengubah agama Islam dari agama menjadi ajaran ideologi. Di tangan mereka agama menjadi senjata politik untuk menyerang dan mendiskreditkan siapa saja yang tidak sepaham. Mereka, sadar atau tidak, telah melakukan politisasi agama. Menunggangi agama untuk suatu kepentingan.

Fakta kekejakam kelompok takfiri telah nyata dan memporak-porandakan berbagai negara. Masihkah belum memahami fakta ini?

Kedua, kaum jihadis. Kelompok yang menafsirkan doktrin jihad keluar dari konteks asalnya. Bom bunuh diri adalah contoh paling nyata aksi kaum jihadis. Kelompok ini adalah hasil transformasi strategi propaganda kelompok teroris. Pemahaman mereka tentang jihad adalah menghabisi jiwa setiap orang yang berbeda. Bukan hanya yang beda agama, tapi juga yang berbeda madzhab dan keyakinan.

Doktrin jihad yang diselewengkan tersebut mempola agama menjadi alat pembunuh. Ajaran agama diasumsikan memerintahkan untuk membunuh orang lain yang paham keagamaannya tidak sama.

Ketiga, kelompok pengasong khilafah. Dalam pandangan kelompok ini, Pancasila harus diganti dengan hukum Islam karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Otomatis negara adalah thagut dan harus digulingkan.

Baca Juga:  Jelang Ramadan, PBNU: Waspadai Penceramah Radikal

Kelompok anti Pancasila ini selalu memprovokasi umat melalui propaganda terjemahan Islam yang sangat statis. Ajaran Islam dipahami hanya kulit luarnya saja. Karena memang tujuan mereka bukan dalam rangka membumikan ruh ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin, tapi memanfaatkan agama Islam sebagai alat legitimasi tindakan anti kemanusiaan untuk mencapai tujuan tertentu.

Pada intinya, tidak sulit memetakan siapa kelompok radikal, siapa penceramah/dai radikal. Tiga ciri tersebut secara umum mewakili ciri-ciri seluruhnya. Gampang bukan?

Tetapi definisinya kemudian dibuat buram untuk mengelabuhi umat Islam supaya menyangka mereka adalah pembela Islam. Usaha penyadaran bahwa kelompok radikal sejatinya hanya akan menciderai keluhuran agama Islam akan disangkal sebagai gerakan Islamofobia. Ini trik kelompok radikal yang dipakai hingga saat ini.

Adakah Penceramah Radikal

Pertanyaan sudah terjawab masihkah ada penceramah radikal dengan ciri di atas? Masihkah ada penceramah yang gemar membid’ahkan dan membuat kegaduhan di tengah umat Islam saat ini? Masihkah ada penceramah yang mengkafirkan sesama muslim gegara persoalan khilafiyah. Jika anda menanyakan seperti ini, tentu dengan tegas perlu dijawab masih banyak, kecuali anda menutupi fakta itu dengan mengatakan tidak ada.

Masihkah ada penceramah yang gemar meneriakkan jihad dengan cara yang sempit hanya perang dan kekerasan? Masihkah ada penceramah yang mendoktrin melakukan tindakan kekerasan atas nama jihad? Jika anda mempertanyakan ini tentu masih banyak. Alasan membela Islam dengan memusuhi yang berbeda bahkan yang muslim yang tidak sejalan pun masih ada di otak mereka. Bahkan dengan dalil agama mereka mengatakan absah membunuh bahkan di tengah kondisi damai seperti Indonesia sekalipun.

Pertanyaan terakhir apakah masih ada penceramah yang meneriakkan khilafah sebagai ganti ideologi negara? Memang organisasinya telah dibubarkan. Tetapi ideologinya yang mempolitisir agama untuk kepentingan politik menegakkan khilafah di tengah perjanjian luhur bangsa ini masih banyak. Berganti nama organisasi, berganti julukan tokoh, bergerak di bawah tanah merangkul organisasi dan tokoh yang popular adalah bagian strategi kelompok ini.

Baca Juga:  UAS pun Mengakui Sudah Ada Penceramah Radikal

Lalu, masihkah ada penceramah radikal?

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

muslim houston amerika serikat rayakan idul fitri dengan menggelar festival

Komunitas Muslim Houston bagikan Makan Gratis Tunawisma

JAKARTA – Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, rahmat yang bukan saja untuk umat Islam namun …

fa ec a fd ef

Gus Yahya Tegaskan NU Tak Boleh Dieksploitasi oleh Siapapun

Jakarta – Suara kaum nahdliyin sebutan bagi jamaah Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi ajang perebutan …