doa perjalanan
doa perjalanan

Syarat Orang Bepergian Boleh Berhenti Puasa

Sebagaimana maklum dalam fikih, salah satu kondisi seseorang boleh berhenti puasa atau membatalkan puasa yaitu karena bepergian. Sebagaimana firman Allah swt:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”

Tidak ada seorang pun dari umat Islam yang menolak bahwa bepergian termasuk bagian dari kondisi-kondisi yang diberi keringan oleh Allah swt. Bahkan ulama’ sepakat bepergian merupakan salah satu dari sebab-sebab keringan (asbabuttakhfif). Hanya saja ulama’ berselisih pendapat tentang masalah jarak ukuran jauhnya perjalanan.

Banyak orang yang lupa atau tidak mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam bepergian yang diperbolehkan mengambil rukhsah (keringanan) berhenti puasa. Sehingga setiap kali ia melakukan perjalanan, menganggapnya sudah boleh berhenti puasa. Padahal ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut yaitu:

1. Perjalanan jauh seukuran boleh melakukan qashar shalat.

Menurut madzhab Syafi’i jarak seseorang boleh melakukan qashar shalat yaitu apabila sudah sampai enam belas farsah. Enam belas farsah ini jika diukur menggunakan ukuran Indonesia kurang lebih 88 km[1].

2. Berniat mengambil keringanan berhenti puasa.

Sebab itu, jika hanya sekedar berhenti puasa saja, bukan karena mengambil keringanan tersebut, maka hukumnya tetap haram, karena orang tersebut dianggap sebatas ingin berhenti puasa saja.

3. Lebih dulu bepergian dari pada puasanya. 

Maksudnya, orang tersebut berangkat sebelum terbitnya fajar atau Subuh. Sebab itu jika dia berangkat setelah Subuh atau di siang hari, maka tidak boleh berhenti puasa dengan alasan musafir. Pendapat ini menurut mayoritas Syafi’iyah. Akan tetapi menurut imam al Muzanni, hukumnya boleh sekalipun berangkatnya di waktu siang[2].

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al-Baqarah 183-187 (5) : Bagi Musafir Lebih Utama Puasa atau Ifthar?

Secara umum itulah syarat-syarat musafir boleh berhenti puasa. Namun syeikh Abu Bakar bin Husain bin Umar Ba’alawi menambahkan syarat lain yaitu:

4. Tidak boleh bepergian semata-mata karena ingin mendapatkan keringanan berpuasa. Sebab itu, seandainya bepergian karena tujuan untuk mendapatkan keringanan berhenti puasa, maka tidak boleh melakukan ini.[3]

Jika syarat-syarat di atas sudah terpenuhi, maka orang yang sedang perjalanan boleh berhenti puasa. Sebaliknya jika salah satu syarat dari syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, maka haram baginya berhenti puasa. Bahkan, dosanya tidak cukup ditebus dengan puasa selama satu tahun. Dalam sebuah hadits disebutkan:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ ، وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa yang berhenti puasa satu hari dari puasa bulan Ramadlan tanpa ada udzur dan sakit, maka tidak menggantikan baginya puasa satu tahun” (HR. Bukhari dan lainnya)

Semoga kita termasuk orang yang dijaga oleh Allah swt dari melanggar perintahnya ini.


[1] Wahbah al Zuhaili, al Fiqh al Islam Wal Adillatuh, Juz 1, Hal 142

[2] Abdullah al Jurdani, Fath al Allam, Juz 4, Hal 20

[3] Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al Musytarsyidin, Hal 234

Bagikan Artikel ini:

About Evita Desi Syafitri

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember

Check Also

awal ramadan

Mengenal Metode Penentuan Awal Ramadan

Di antara persoalan umat Islam yang kerap kali terjadi adalah penentuan awal Ramadan. Ini karena …

bulan syaban

Shalat Nisfu Sya’ban Bid’ah Menurut Sebagian Ulama, Ini Solusinya !

Shalat Nisfu Sya’ban adalah shalat yang dikerjakan pada malam tanggal 15 Sya’ban sebagai bagian dari …