Idul Adha
Idul Adha

Bulan Dzulhijah segera datang. Artinya umat muslim di belahan dunia manapun akan segera merayakan Idul Adha. Selain ibadah Haji, Idul Adha juga identik dengan shalat Id dan menyembelih hewan kurban, seperti kebiasan yang selama ini terlaku.

Namun, apa sebenarnya hikmah pelajaran di balik dari semua itu?

Jika kita telusuri, dalil diperintakannya shalat Idul Adha dan kurban sebenarnya sangat banyak. Meski begitu, saat merujuk kitab fikih, dengan mudah kita akan menemukan satu ayat yang dijadikan rujukan, yakni QS. Al-Kautsar[108]: 2 yang berbunyi:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah”

Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam Hasyiyah al-Bajuri ala Syarh al-‘Alamah Ibnu Qasim (Juz 2/554), mengutip ayat di atas sebagai dalil disyariatkannya kurban. Begitu juga dengan Muhammad al-Syarbiniy dalam kitab Al-Iqna’.  Menurutnya, sebelum adanya Ijma’ atau kesepakatan ulama, dalil asal diyari’atkannya kurban adalah QS. Al-Kautsar[108]: 2 tersebut. (dalam Bujairami ‘ala Al-Kahtib, Juz 4/329).

Sebenarnya para mufassir berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat di atas. Menurut Ibnu Al-Juziy, dalam Zād al-Maisir fi ‘Ilm Tafsīr (h. 1596), ada tiga pendapat mengenai shalat apa yang diperintahkan dalam ayat di atas. Qatadah mengatakan itu adalah shalat Idul Adha, Mujahid mengatakan itu adalah shalat subuh di Muzdalifah, sedangkan Al-Muqatil mengatakan itu adalah shalat lima waktu.

Begitu juga dengan penafsiran lafadz wanḥar (وَانْحَرْ). Masih menurut Ibnu Al-Juziy, mengutip riwayat Ali bin Thalhah dari Ibnu Abbas, maksud lafadz tersebut adalah perintah meneyembelih hewan pada hari naḥr (berkurban). Ini juga merupakan pendapat ‘Atha’, Mujahid dan mayoritas ulama’. Dikatakan juga, mkasud dari lafadz itu adalah perintah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat.

Ketiga yang merupakan pendapat Abu Ja’far muhammad bin ‘Ali, menyatakan bahwa maksudnya lafadz itu adalah mengangkat tang ketika takbir (dalam shalat). Keempat, Al-Quradliy menyatakan bahwa maksud dari ayat itu adalah perintah untuk shalat dan menyembelih hewan hanya untuk Allah, karena saat itu orang-orang melakukan hal itu untuk selain-Nya. Terakhir pendapat Al-Farra’, menyatakan bahwa maksud lafadz wanḥar (وَانْحَرْ) adalah perintah menghadap kiblat.

Senada dengan itu, Ibnu Katsir juga merekam perdebatan tersebut dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-‘Aẓim. Menurutnya, di antara banyaknya pendapat mengenai penafsiran yat di atas, pendapat yang paling sahih adalah yang menyatakan bahwa maksud ayat di atas adalah perintah untuk melaksanakan shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

Dari informasi di atas, setidaknya kita telah tahu dari mana akar tradisi Idul Adha yang kita jalankan selama ini. Pertanyaan mendasarnya adalah, mengapa Allah memerintahkan semua itu? Menjawab pertanyaan ini, mau tidak mau haruslah merujuk hubungan korelasi (munasabah) antara QS. Al-Kautsar ayat 2 di atas dengan ayat sebelumnya, yakni QS. Al-Kautsar ayat 1:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar” (QS. Al-Kautsar [108]: 1)

Dari ayat di atas kita tahu, bahwa nama Surat Al-Kautsar diakomodir dari lafadz Al-Kuwthar (الْكَوْثَرَ), yang ada pada ayat 1. Lafadz Al-Kuwthar (الْكَوْثَرَ) sebenarnya memiliki banyak penafsiran. Ahmad bin Muhammad As-shawiy dalam Ḥāsyiyyah al-ṣāwīy ‘alā Tafsīr Al-Jalālain (Juz 4/485). Setidaknya ia telah merekam tidak kurang dari 16 penafsiran terhapad lafadz Al-Kautsar, di antaranya adalah:

“ 1)Telaga Al-Kautsar, 2) Kebaikan yang banyak, 3) Nubuwat atau kenabian, 4) Alqur’an, 5) Islam, 6) Mempermudahkan  Alqur’an dan Meringankan Syariat, 7) Sahabat, umat dan pengikut yang banyak, 8) Sebutan atau nama yang luhur (bagi Nabi), 9) Cahaya hati yang membimbing kepada Allah dan menepis selain-Nya, 10) Syafa’at, 11), Mu’jizat, 12) Kalimat tauhid (Lā ilāha illallāh Muhammad rasūlullāh), 13) Pemahaman Agama, 14) Shalat lima waktu, 15) Sesuatu yang agung, 16) Kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat.”

Berbeda dengan itu, As-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain hanya mengakomodir dua penafsiran. Pertama adalah telaga di surga yang akan dimasuki oleh semua umat nabi Muhammad. Kedua adalah kebaikan yang banyak, berupa Alqur’an, kenabian dan lain-lain.

Ibnu ‘Asyur, dalam Tafsir at-Tahrir wa al-Tanwir (Juz 30/572-573), menyatakan bahwa Surat Al-Kautsar bertujuan menghibur Nabi, bahwa beliau diberi kebaikan yang banyak, di dunia maupun di akhrat. Hal ini segaimana pada ayat 1, menggunakan huruf Inna  (إِنَّ)yang berfungsi sebagai penguat (ta’kid). Nikmat-nikmat tersebut harus disyukuri, dengan cara beribadah yakni shalat dan menyembelih kurban seperti terkandung pada lafadz فَصَلِّ (maka dirikanlah shalat) dan وَانْحَر (dan berqurbanlah).

Tidak hanya itu, terdepat penekanan lain dalam ayat di atas, yakni pada lafadz لِرَبِّكَ (karena Tuhanmu). Masih menurut Ibnu ‘Ashur, redaksi tersebut bertujuan untuk menyeindir orang-orang yang menyekutukan Allah. Dengan begitu, shalat dan berkurban bukanlah sekadar  ekspresi syukur atas segala nikmat Allah, melainkan juga ekspresi tauhid atau mengesakan Allah.

Akhirul kalam, penulis ingin  mengatakan bahwa ibadah apapun harus diniati sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah, seperti itu pula shalat Idul Adha dan kurban. Selain itu, ibadah juga harus dimurnikan (ikhlas) hanya untuk Allah, bukan untuk tujuan yang lainnya. Karena itu perlu berpikir ulang, apakah amal kita sudah benar-benar untuk Allah, ataukah hanya karena dorongan nafsu, sehingga merasa paling baik dan paling benar.

Wallahu A’lam….