Tni Dan Ulama
Tni Dan Ulama

TNI selalu Bersama Ulama, Ulama yang Seperti Apa?

Ada narasi yang berkembang akhir-akhir ini yang seolah membenturkan TNI dan ulama. Padahal pada faktanya sesungguhnya TNI berada dalam jalur yang sama dengan para ulama dalam menjaga keutuhan NKRI. Komitmen kebangsaan TNI dan ulama masih cukup kuat dan tidak ada benturan TNI dan ulama.

Jika memang TNI yang seolah berbenturan dengan ulama, tentu patut ditanyakan, ulama yang seperti apa? Ormas besar Islam di Indonesia yang telah menyumbang jasa penting bagi kemerdekaan negeri ini tetap bergandeng tangan dengan TNI dalam menjaga keutuhan dan persatuan NKRI. Ormas dan ulama terus istiqamah untuk menyatukan bukan memecah belah, terus mengedukasi bukan memprovokasi, dan terus berdakwah santun bukan mencaci maki.

TNI dan ulama serta rakyat secara keseluruhan adalah modal kekuatan dalam menjaga negara ini. Sejarah telah membuktikan peran ulama, kiayi, pesantren dan santri dalam merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Bahkan dalam peristiwa 10 November 1945 yang menjadi momentum Hari Pahlawan, konon atas saran dari Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman, Bung Karno diminta untuk mengirim utusan ke Raisul Akbar Nadhatul Ulama, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari, di Ponpes Tebuireng, Jombang.

Tujuan dari kedatangan utusan itu adalah meminta nasehat sekaligus fatwa bagaimana hukumnya berjihad membela negara. K.H. Hasyim Asy’ari lantas memanggil K.H. Wahab Hasbullah dari Tambak Beras Jombang dan memintanya untuk mengumpulkan para Kyai se Jawa-Madura. Pada tanggal 22 Oktober 1945 lahirlah prasasti penting “resolusi jihad”. Landasan fatwa keagamaan inilah yang mendorong semangat TNI dan seluruh umat dan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekannya.

Ulama dan TNI adalah kekuatan yang tidak bisa dipisahkan dalam menjaga keutuhan NKRI. TNI adalah bagian dari rakyat Indonesia itu sendiri. Ulama memberikan nasehat dan fatwa dalam menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan NKRI. Kebersatuan ulama dan TNI dalam konteks ini tentu tidak diragukan lagi.

Baca Juga:  Merayakan Hari Natal (Bagian 3)

Jika ada narasi ulama diadu dengan TNI tentu saja, narasi itu sudah mengadu. Bukan fakta yang sebenarnya. Karena sampai detik ini TNI dan ulama serta ormas besar Islam di Indonesia tetap berdiri kokoh menjadi banteng keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Tentu masyarakat jangan mudah terprovokasi dengan narasi TNI diadu dengan TNI, karena narasi seperti itu juga sudah mengadu domba. Modal terbesar bangsa ini tentu di samping TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah para ulama, kiayi, tokoh agama-agama lain dan masyarakat yang terus memiliki komitmen dalam menjaga persatuan.

Komitmen tentu bukan hanya sebatas ucapan atau rumusan AD/ART. Namun, komitmen kebangsaan ditunjukkan dengan sikap dan perilaku yang tidak memperkeruh dan memecah belah masyarakat. Ulama adalah tokoh penting yang mempunyai basis di tengah masyarakat. Ulama penggerak persatuan dan kesatuan dalam kesantunan itulah yang akan terus menjaga dan tidak akan diadu domba.

Sebagaimana Gus Miftah mengatakan jika ada ulama berurusan dengan hukum, bukan berarti itu kriminalisasi ulama, tapi bisa jadi ulama yang kriminal. Karena ulama tentu manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan dan tindakan pidana.

Dalam kasus ulama yang sedang mengalami kasus hukum, bukan berarti seluruh ulama sedang dikriminalisasi. Dalam negara hukum, hukum harus ditegakkan. Dan ulama yang berkomitmen terhadap persatuan dan kesatuan akan selalu memegang komitmen untuk menghormati dan menaati hukum.

Ulama sekali lagi teladan umat tidak hanya dalam hal agama, tetapi semangat kebangsaannya. Itulah sesungguhnya potret ulama yang selalu bersama TNI dalam menjaga keutuhan NKRI.

Bagikan Artikel

About Islam Kaffah

Islam Kaffah