Alquran

Apakah Ulama Salaf juga Melakukan Takwil ?

Jargon Salafy Wahaby “kembali kepada al Qur’an dan al Sunnah” ini juga menafikan metode takwil yang biasa dilakukan oleh ulama’ khalaf (ulama setelah abad ke 3 Hijriyah). Padahal mereka mentakwil ayat-ayat atau hadits-hadits mutasyabihat dalam rangka mentanzih (mensucikan) Allah swt dari sifat-sifat makhluk.

Namun Salafy Wahaby merasa gerah dengan konsep takwil ini. Bahkan mereka tidak segan-segan mengatakan takwil berarti mengingkari al Qur’an dan al Hadits. Ujung-ujungnya seperti pada biasanya Salafy Wahaby, yaitu mengkafirkan ummat Islam.

Yang dimaksud dengan takwil adalah sebagaimana dijelaskan oleh imam al Nawawi:

أَمَّا التَّأْوِيْلُ فَقَالَ الْعُلُمَاءُ هُوَ صَرْفُ الْكَلَامِ عَنْ ظَاهِرِهِ إِلَى وَجْهٍ يَحْتَمِلُهُ

Artinya: “Memalingkan perkataan dari makna dzohirnya kepada makna lain yang lebih memungkinkan[1]

Pemalingan makna di sini bukan kepada makna lain, tetapi makna yang masih tercakup dari lafadz tersebut. Seperti lafadz “Yad” secara makna dzahir memiliki arti tangan, tetapi lafadz “Yad” dalam bahasa Arab juga memiliki makna lain selain tangan, seperti kekuasaan, kenikmatan, kedudukan, atau pertolongan. Nah, metode takwil mengalihkan makna “Yad” dari makna tangan kepada makna lainnya yang lebih sesuai.

Hanya saja oleh Salafy Wahaby pemalingan makna seperti ini dianggap merubah makna al Qur’an dan al Hadits. Sehingga Ahlussunnah wal Jama’ah oleh Salafy Wahaby diklaim sebagai aqidah yang merubah makna al Qur’an atau al Hadits kepada makna lain yang di luar kehendak Allah swt.

Mereka juga mengingkari sebagian ulama’ Salaf melakukan takwil. Sebab itu, mereka beranggapan metode takwil muncul pada generasi terakhir setelah abad ketiga Hijriyah. Ibn Taimiyah berkata: “Hingga sampai zamanku sekarang, aku tidak menjumpai salah satu sahabat pun yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat sifat dan hadits-hadits sifat Allah swt”[2]

Baca Juga:  Antara Jihad dan Taat Kepada Orang Tua

Apa yang dikatakan Ibn Taimiyah dan juga pengikutnya bahwa tidak ada seorang sahabat yang mentakwil ayat-ayat sifat adalah kedustaan yang nyata. Sebab banyak bukti-bukti valid bahwa di antara mereka ada yang mentakwil, sekalipun yang paling banyak dari mereka melakukan tafwid.

Diantara ulama’-ulama’ Salaf yang melakukan takwil ialah Ibn Abbas ketika menjelaskan ayat 42 surat al Qalah:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ

Artinya: “Pada hari disingkapkannya betis” (QS. Al Qalam: 42)

Ibn Abbas ra mentakwil kata “saqq” dengan perkara yang menakutkan di hari kiamat[3].

Juga ayat 47 surat al Dzurriyat:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Artinya: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa” (QS. Al Dzurriyat: 47)

Menurut Ibn Abbas ra, kata “aydi” pada ayat tersebut bermakna “kekuatan” bukan “tangan”.[4]

Ulama’ Salaf yang juga melakukan takwil adalah Mujahid ra. Pada ayat 56 surat al Zumar:

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

Artinya: “supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan” (QS. Al Zumar: 56)

Kata “janbillahi” menurut Mujahid ra artinya “perintah Allah swt” bukan “lambungnya Allah swt”[5].

Ahmad bin Hanbal ra, ulama’ yang diklaim sebagai madzhabnya Salafy Wahaby juga melakukan takwil. Pada ayat 22 surat al Fajr pada lafadz:

وَجَاءَ رَبُّكَ

Artinya: “dan datang Tuhanmu” (QS. Al Fajr: 22)

Menurut Ibn Hanbal yang datang adalah pahalanya, bukan dzat Allah swt.[6]

Dan banyak ulama’-ulama’ Salaf lainnya yang juga melakukan takwil.

Baca Juga:  Bahaya Teror Delusif di Era Digital

Inilah bukti-bukti bahwa metode takwil sebenarnya sudah ada sejak masa umat istimewa yang hidup di tiga abad pertama Hijriyah. Seandainya takwil ini hukumnya haram sebagaimana yang dikatakan oleh Salafi Wahabi, maka Salafi Wahabi berarti telah mendustakan Nabi saw yang menganggap ulama’ Salaf sebaga generasi terbaik umat Islam. Seandainya takwil dikatakan tidak haram, berarti runtuh aqidah mereka dengan pernyataannya sendiri, sebab mereka menolak mentakwil ayat-ayat sifat di luar makna dzahirnya.

Wallahu a’lam


[1] Syaraf al Nawawi, Tahdzib al Asma’ wa al Lughat, Hal 985

[2] Ibn Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, Juz 6, Hal 394

[3] Jarir al Thabar, Tafsir al Thabari, Juz 23, Hal 188

[4] Jarir al Thabari, Tafsir al Thabari, Juz 21, Hal 545

[5] Jarir al Thabari, Tafsir al Thabari, Juz 20, Hal 234

[6] Ibn Katsir, Al Bidayah wa al Nihayah, Juz 10, Hal 361

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember