takwil Wahabi

Bahaya Teori Takwil Bittasybih Wahabi

Sejak zaman Salaf, umat Islam memahami ayat atau hadits mutasyabihat menggunakan dua pendekatan; 1) Tafwid dan 2) Takwil. Yang dimaksud dengan Tafwid adalah menyerahkan segala makna dan maksudnya kepada Allah swt tanpa memberikan komentar apapun terhadap ayat atau hadits tersebut, namun tetap meyakini dan beriman terhadap apa yang termaktub dari lafadz tersebut. Contoh pada ayat 5 Surat Thaha:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اِسْتَوَى

Artinya : “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Berdasarkan teori ini, cukuplah Allah swt diimani beristiwa’ (berada) tanpa harus memberikan makna pada “istawa” tersebut. Allah swt yang lebih paham terhadap firmannya, dan manusia tidak boleh memaknai lafadz-lafadz yang demikian tanpa ada tuntutan makna dari Allah swt atau Nabi_Nya. Dalam khazanah ilmu pengetahuan, teori ini yang digunakan oleh mayoritas ulama Salaf, sehingga ulama Salaf tidak mengartikan “istawa” dengan suatu makna tertentu.

Sedangkan takwil adalah memalingkan makna dari makna hakikatnya kepada makna lain yang lebih sesuai dan benar berdasarkan objeknya. Contoh dalam firman Allah swt surat 48 ayat 10 :

يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ

Artinya : Tangan Allah di atas tangan mereka.

Makna hakikat dari kata “Yad” adalah tangan. Hanya saja makna ini tidak benar jika diberikan kepada Allah swt, karena Allah swt sendiri menyatakan dirinya tidak sama dengan apapun, laisa kamitslihi syai’. Karenanya manakala “Yad” diartikan dengan tangan, berarti Allah swt masih sama dengan makhluknya, yaitu sama-sama memiliki tangan, sekalipun bentuk tangannya tidak sama. Bukankah monyet juga bentuknya tidak sama dengan tangan manusia ?. Naudzubillah, tentu ini pemahaman yang keliru.

Untuk menghindari kekeliruan ini, maka “Yad” jangan diartikan dengan “tangan”, tapi harus diartikan dengan makna lainnya, misal “nikmat” atau “kekuasaan”, sehingga dengan demikian Allah swt terbebas dari penyerupaan dengan makhluknya.

Baca Juga:  Hikmah Isra dan Miraj Nabi Muhammad Saw

Pemalingan makna “Yad” dari “tangan” kepada “nikmat” atau “kekuasaan” ini disebut dengan takwil. Teori ini yang digunakan oleh ulama khalaf, yaitu ulama-ulama ummat Islam yang hidup setelah abad ke 3 Hijriyah. Terhadap kedua metode ini, ummat Islam tidak ada yang mempersoalkannya, karena tujuannya tetap sama yaitu Tanzih anittasybih (membersihkan dari adanya penyerupaan terhadap makhluk).

Titik Tolak Takwil Bittasybih ala Wahabisme

Kemudian datang kelompok belakangan yang mangaku sebagai manhaj salaf yang melakukan pemaknaan terhadap dua teori diatas (tafwid dan takwil). Pengakuan bermanhaj salaf sebenarnya hanyalah politik murahan dimana ujung-ujungnya hanya agar orang-orang awam tertarik dengan ajaran yang mereka bawa. Karena faktanya, mereka tidak sama dengan manhaj salaf khususnya pada pemahaman ayat mutasyabihat ini.

Mereka sebenarnya adalah Wahaby karena mengikuti pola pikir Muhammad bin Abdul Wahhab yang dianggap sesat oleh guru, ayah dan saudaranya sendiri waktu semasanya. Wahaby berlepas diri dari dua teori di atas mengenahi ayat-ayat mutasyabih, mereka melakukan pemaknaan terhadap ayat mutasyabih sesuai dengan makna hakikatnya.

Seperti dalam memaknai “istawa” tetap diartikan bersemayam, atau “Yad” diartikan dengan tangan, hanya saja bersemayamnya Allah swt tidak perlu ditanya bagaimana cara bersemayamnya, dan seperti apa ?, begitu juga tidak perlu ditanya bagaimana bentuk tangan Allah swt ? ini yang mereka sebut dengan bi la kaifiyah (dengan tanpa bagaimana).

Teori ini adalah teori tersendiri yang tidak dikenal oleh ummat Islam pada masa Salaf dan Khalaf. Sehingga sampai saat ini, teori pemahaman ala Wahaby ini masih ditolak oleh ummat Islam.

Kalau kita lebih berpikir, teori yang mereka gunakan sebenarnya adalah takwil, hanya saja bukan takwil bittanzih (takwil dengan membersihkan Allah swt dari penyerupaan dengan makhluknya) melainkan takwil bittasybih (takwil dengan menyamakan Allah swt dengan makhluknya). Manakala “istawa” diartikan “bersemayam” berarti mereka telah memberikan makna sesuai kemampuan pemahaman yang mereka ketahui. Padahal makna “istawa” di dalam Bahasa Arab memiliki ragam makna, manakala mereka mengambil satu makna dari makna-makna istawa yang lain, berarti mereka telah memalingkan dari makna kepada makna yang lain.

Baca Juga:  Doa dan Amalan Imam Ghazali yang Diajarkan Nabi Khidir dalam Menyambut Tahun Baru Islam

Teori takwil bittasybih seperti ini tentu tidak bisa dipertahankan dan dijadikan teori pendekatan  memahami nash-nash al Qur’an atau hadits. Selain tidak memiliki dasar hukum, teori ini juga bertentangan dengan nash al Qur’an dan al Hadits serta bertentangan dengan akal sehat manusia.

Kita ambil satu contoh dari teori takwil bittasybih mereka terhadap “istawa” yang diartikan dengan “bersemayam” atau “tinggal”. Bersemayam atau tinggal berarti akan membutuhkan tempat tinggal dan arah, dan mereka meyakini tempat tinggal Allah swt yaitu di Arsy. Jika menggunakan arah tentu di atas. Jika Allah swt ditetapkan berada di Arsy, maka pemaknaan ini akan bertentangan dengan ayat lain semisal ayat 116 surat al Baqarah:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

Artinya : “Apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentangku, (katakan saja) sesungguhnya aku dekat” (QS. Al Baqarah: 186)

Pada ayat ini, Allah swt sendiri mengatakan kepada Nabi Muhammad saw seandainya ada yang bertanya tentan_Nya, cukup dijawab saja bahwa Allah swt itu dekat, Allah swt tidak memerintahkan Nabi saw menjawab Allah ada di Arsy.

Selain itu, kita mengetahui bahwa jarak bumi dengan langit sangat jauh sekali, sampai tidak mungkin diukur dengan jarak kilo meter. Padahal Arsy berada di atas langit ke tujuh, tidak ada makhluk lain di atas Asry. Jika Allah swt berada di Arsy sementara manusia ada di bumi, tentu semua orang berakal akan sepakat ini jarak yang jauh, tidak mungkin ini disebut dengan jarak dekat. Sementara pada ayat di atas, Allah swt sendiri menyatakan dirinya dekat dengan makhluknya. Kalau begitu, apakah dalam hal ini Allah swt sedang bercanda dengan membingungkan ummat manusia dalam satu firmannya ia mengatakan tinggal di Arys yang jauh, tapi di firman lain mengatakan dirinya dekat dengan makhluknya, atau teori pemahamannya yang amburadul dan perlu diperbaiki lagi ?

Pertentangan lainnya, pada ayat 4 surat al Hadid Allah swt berfirman:

Baca Juga:  Panduan Ramadhan 2020 di Tengah Pandemi (4) : Tadarus di Rumah Saja, Apa Keutamaannya?

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ

“Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” (QS. Al Hadid: 4)

Pada ayat ini, Allah swt berfirman bahwa dirinya berada di mana manusia berada, dan tidak mengatakan ia berada di Arsy. Jika “istawa” diartikan bersemayam atau tinggal yang memberikan kesimpulan dari ayat tersebut bahwa Allah swt tinggal di Arsy, tentu bertentangan dengan kedua ayat ini, yang tidak mengatakan Allah swt tinggal di Arsy. Nah sekarang, mana yang akan diambil, apakah pemahaman dengan teori takwil bittasybih, Allah swt tinggal di Arsy dengan menolak firman Allah swt lainnya, atau menerima firman Allah swt lainnya dengan meruntuhkan teori takwil bittasybihnya ?. fal yataammal.

Itu sebagian contoh dari runtuhnya teori takwil bittasybih Wahaby terhadap nash-nash al Qur’an dan al Hadits, dan keruntuhan tersebut juga terjadi pada ayat atau hadits mutasyabih lainnya.

Wallahua’lam

Bagikan Artikel

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember