Dalam agama Budha sumber penderitaan manusia dalam kehidupan adalah tanhâ, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Nafsu ini terwujud dalam tiga bentuk yang menjadi akar kejahatan yakni keserakahan, kebodohan, dan kebencian. Dalam agama Hindu juga dilukiskan hampir sama bahwa sumber penderitaan adalah kebodohan, egoisme, keterikatan, kebencian dan ketakutan. Semuanya bersumber dari nafsu keinginan.

Nampaknya seluruh agama menyadari bahwa keinginan atau nafsu yang tidak bisa dikendalikan akan menjadi penyebab kerusakan. Pengumbaran terhadap nafsu menjadikan manusia tidak menjadi manusia seutuhnya. Ia turun derajat menjadi binatang atau mungkin lebih kejam dari binatang.

Setiap agama mempunyai cara dan jalan berbeda untuk mengembalikan fitrah kemanusiaannya. Fitrah kemanusiaan dapat diraih jika manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan menghilangkan nafsu. Pengendalian nafsu akan menunjukkan jalan manusia kembali ke fitri.

Dalam Islam cara mengembalikan manusia seperti terlahir kembali dengan jati diri fitri adalah ibadah puasa.  Ramadhan adalah sekolah besar umat Islam untuk belajar dan melatih diri untuk mengendalikan nafsunya. Tentu bukan sekedar menahan lapar, dahaga dan seksual. Mengendalikan keinginan makan dan berhubungan ini sejatinya hanya latihan.

Perut dan kemaluan adalah sumber keinginan. Karena dua organ ini mampu mengolah keinginan berubah menjadi keserakahan dan kejahatan yang melibas batas etika dan norma. Sehingga dalam Islam Ramadhan adalah bulan jihad besar untuk melawan hawa nafsu.

Ketika nafsu berkuasa keserakahan, egoisme, kebencian dan permusuhan marajalela. Nalar kemanusiaan seperti bekerjasama, solidaritas dan empati menjadi mati. Semua tertutup oleh nafsu keserakahan dan kebencian. Manusia tidak lagi menjadi manusia seutuhnya, tetapi turun menjadi binatang yang hanya ingin memuaskan keinginannya.

Puasa mengajarkan umat Islam untuk tidak diperbudak oleh keinginan dan menjadi tawanan hawa nafsunya. Ramadhan adalah penjara bagi syetan yang direpresentasikan oleh nafsu-nafsu yang melekat dalam diri manusia. Keberhasilan memenjarakan setan adalah terletak pada diri kita untuk membelenggu dan mengendalikan nafsu.

Ketika setan terbelenggu dengan representasi nafsu yang terkendali, rasa empati dan peduli terhadap sesama muncul. Manusia tidak lagi berbicara tentang keinginannya sendiri, tetapi juga timbul rasa ingin berbagi. Lalu, Islam melembagakan kepedulian itu secara praktek melalui zakat fitrah.

Zakat fitrah menjadi sangat unik karena ia bukan zakat atas kepemilikan harta benda dan kekayaan. Zakat ini menjadi zakat diri, badan dan jiwa manusia untuk meraih fitrahnya lagi sebagai manusia. Manusia yang peduli terhadap nasib sesamanya adalah mereka yang sudah mengembalikan rasa kemanusiaannya.

Ketika fitrah kemanusiaan ini sudah terkonsolidasi dalam diri manusia, Islam memberikan festival kemenangan melalui perayaan Idul Fitri. Sebuah momentum hari raya kemenangan bagi mereka yang telah kembali menjadi manusia fitri.

Pertanyaannya, sudahkah puasa kita mampu mengendalikan nafsu dan berhasil mengembalikan fitrah kemanusiaan kita? Jika sudah, kita sudah layak merayakan kemenangan kembalinya fitrah-fitrah kemanusiaan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.