berbakti kepada orang tua
berbakti kepada orang tua

Berbakti kepada Orang Tua itu Wajib, Tapi…

Berbakti kepada orang tua itu adalah suatu kebaikan yang mulia. Namun, tentu saja ada batasannya.


Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Shalat pada waktunya’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Rasulpun menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’.”

Hadist di atas secara gamblang menegaskan posisi pentingnya berbakti kepada orang tua. Perilaku demikian bahkan menempatu urutan kedua sebelum jihad. Tentu saja, jihad pun membutuhkan ijin orang tua.

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang pastinya sudah di ketahui oleh setiap muslim. Banyaknya surat-surat yang terkandung dalam al-Quran yang memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua.

Berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan tertinggi dalam Islam. Sebaliknya durhaka kepada orang tua adalah dosa yang besar. Meskipun taat dan berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan tertinggi, kita juga perlu ketahui bahwa bakti kepada orang tua juga memiliki batasan tertentu.

Batasan tersebut tidak boleh melanggar kaidah yang telah di tentukan oleh Allah. Berbakti kepada orang tua ada dua cara. Pertama, menaati keduanya dalam hal mubah yakni, hal-hal yang  diperbolehkan oleh syari’at. Kedua, menaati semua yang telah diperintahkan keduanya dan menjauhi semua yang dilarang, selama hal yang diperintahkan tidak melanggar batasan yang di tentukan Allah.

Adapun beberapa hal yang tidak dikatagorikan sikap durhaka kepada orang tua namun banyak yang mengira hal itu tergolong sikap durhaka seorang anak kepada orang tuanya, yakni:

1. Menolak apa yang di perintahkan orang tua yang berhubungan dengan maksiat

Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 15: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Baca Juga:  Jangan Putus Asa, Belajarlah pada Burung dan Sapi Liar

Jika orang tua berupaya untuk membujuk atau memaksa kita untuk mengikuti agama yang mereka anut, maka hendaknya anak mampu menolak ajakan tersebut. Namun seorang anak tetep tidak boleh berbuat hal buruk terhadap keduanya, dan hendaknya tetaplah mereka menghormati keduanya sebagai orang tuanya.

2. Bersaksi akan kebenaran yang dapat memberatkan orang tua

Jika suatu waktu mengharuskan seorang anak menjadi saksi atas kebenaran yang ia ketahui, maka wajib baginya untuk berkata jujur atas kesaksiannya. Dan apabila kesaksiannya benar-benar memberatkan orang tuanya, maka sang anak tidak bisa dianggap durhaka.

Dalam surat an-Nisa ayat 135 berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Keadilan merupakan suatu sistem dalam kehidupan yang tidak dapat di pertentangkan lagi. Jadi kita sebagai manusia hendaknya tunduk terhadap Allah serta keadilannya. Layaknya manusia hendaknya berbuat adil terhadap orang-orang yang teraniaya. Seorang manusia juga hendaknya menjadi penegak keadilan, jangan memandang yang kaya ataupun miskin, meski mereka adalah orang tua ataupun kerabat.

Karena sesungguhnya Allahlah yang menjadikan seseorang menjadi kaya ataupun miskin. Hawa nafsu, mampu membuat manusia menjadi menyimpang dari kebenaran. Segala hal baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang buruk akan dibalas dengan keburukan pula.

3. Menolak perjodohan

Yang perlu diketahui orang tua tidak dapat memaksakan perjodohan terhadap anaknya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari – Muslim).

Baca Juga:  Gak Bosen Jomblo? Sempurnakan Agamamu dengan Menikah

Makna hadist tersebut menunjukkan tidak sahnya pernikahan apabila mempelai wanita tidak mengucap setuju secara lisan. Dan diamnya seorang wanita yang masih perawan.

Seberapapun besar cinta kita terhadap kedua orang tua kita dan seberapapun besar bakti kita kepada orang tua, namun tidak boleh lebih besar cinta dan bakti kita kepada Allah dan Rasulnya. Inilah sebabnya kita tidak boleh berbakti kepada orang tua namun malah melakukan perbuatan yang mampu menumbuhkan murka Allah.

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga aku (Rasulullah) menjadi yang paling dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia” (HR. Bukhari no. 15, Muslim no. 44).

Dari dua kaidah di atas dapat diketahui bahwa, ketika seorang anak tidak melakukan apa yang diinginkan orang tuanya karena perbuatan yang di perintahkan orang tua ternyata melanggar syariat agama, maka sang anak tidak dikategorikan durhaka kepada orang tua.

Bagikan Artikel ini:

About Eva Novavita

Avatar of Eva Novavita

Check Also

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (3) : Kisah Raja Sulaiman dan Ratu Balqis

Setelah Nabi Daud wafat, kini Nabi Sulaiman meneruskan tahta kerajaan dan memimpin Bani Israil. Seperti …

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (2) : Nabi Sulaiman dan Perempuan Korban Pemerkosaan

Sebelumnya sudah diceritakan tentang kecerdasan Nabi Sulaiman dalam memecahkan masalah. Kisah kehebatan Nabi sulaiman tak …