Kulit Hewan Kurban
Kulit Hewan Kurban

Ibadah kurban merupakan bentuk rasa syukur hamba atas karunia harta dan keberkahan hidup yang telah Allah anugerahkan. Penyembelihan hewan kurban menjadi simbol pendekatan diri (taqarrub) kepada Sang Pencipta. Menyembelih berarti membunuh segala egoisme yang bercokol dalam diri manusia untuk pasrah total, bahwa tidak ada yang layak menjadi tempat bergantung, mengadu, bersandar kecuali Dia Dzat Yang Mahatunggal.

Oleh karena itu, hewan kurban pasca disembelih sepenuhnya menjadi hak Allah sebagai persembahan seorang hamba. Nilai yang terkandung di balik persembahan itu bukanlah seonggok daging ataupun aliran darah kurban, namun bentuk penghambaan sebagai aplikasi ketakwaan dan ketertundukan kepada-Nya. Al-Qur’an menyinggung soal ini dalam ayat berikut:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ.

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj [22]: 37).

Dengan demikian yang paling afdal adalah mensedekahkan seluruh daging kurban kecuali mengambil satu suapan saja sebagai bentuk ngalap berkah(tabarrukan). Hal ini lebih dekat dengan takwa dan jauh dari sifat mementingkan diri sendiri. (Muhammad al-Zuhaili, Al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i, Juz II, hal. 485). Oleh sebab itu, mudlahhi (pihak yang berkurban) tidak diperbolehkan menjual apapun yang ada pada tubuh hewan kurban, berupa daging, kulit, tanduk, dan unsur-unsur anggota tubuh yang lain.

Lalu bagaimana dengan status kulit hewan kurban yang memiliki banyak fungsi? Jumhur ulama’ sepakat bahwa kulit hewan kurban haram dijual oleh pemilik kurban (mudlahhi), berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah berikut ini:

 مَنْ بَاعَ جِلْدَ اُضْحِيَّتِه فَلاَ اُضْحِيَّةَ لَهُ.

Artinya: “Barang siapa yang menjaul kulit hewan kurbannya, maka tidak ada kurban baginya”. (Sunan Al-Baihaqi al-Kubra, No. 19015).

Demikian pula, kulit hewan kurban tidak boleh diberikan kepada tukang jagal sebagai upah penyembelihan.Akan tetapi, jika diberikan atas dasar ia tergolong orang yang fakir, atau diberikan sebagai hadiah, bukan atas nama upah, maka diperbolehkan.

Namun, bagi mudlahhi diperkenankan memanfaatkan kulit tersebut dengan dijadikan sepatu, sandal, ikat pinggang, dan segala macam pemanfaatan, asalkan tidak dijual, dengan catatan bukan berupa kurban wajib. Jika kurban wajib, seperti kurban karena nadzar atau hewan sudah ditentukan untuk kurban jauh-jauh hari, maka mudlahhi tidak boleh mengambil apapun dari hewan tersebut, termasuk dagingnya. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islmaiy wa Adillatuh, Juz IV, hal. 280-281., Muhammad al-Zuhaili, Al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i, Juz II, hal. 486., Dalil al-Mudahhi, hal. 30).

Andai saja terdapat seseorang yang bertugas mengumpulkan kulit hewan kurban dari para pemilik kurban dengan status hadiah dan pemberian secara cuma-cuma, lalu setelah terkumpul ia menjualnya dan hasil penjualan didistribusikan untuk jalan kebaikan dan kepentingan umum, semisal rehab gedung masjid, sarana pendidikan, fasilitas ibadah, dan lain-lain, maka tindakan tersebut diperbolehkan. (Dalil al-Mudahhi, hal. 31).[] Wallahu a’lam Bisshawab!