prinsip perdamaian
prinsip perdamaian

Melindungi dan Menjamin Keamanan adalah Perintah Agama

Apapun bentuk dan modelnya, radikalisme yang mengarah pada terorisme merupakan tindakan yang tidak sesuai syariat Islam. Cara beragama yang ekstrem (ghuluw) tidak dibenarkan dalam Islam. Islam mengajarkan moderasi beragama. Sikap tengahan yang tidak ekstrem tidak pula liberal. Moderatisme beragama bukan berarti tidak memiliki sikap tegas atau lembek. Ia tak lebih sebagai pengukuhan terhadap ajaran Islam yang orientasinya adalah kerahmatan dan kasih sayang untuk semua manusia, bahkan alam semesta.

Karena itu, radikalisme yang mengarah pada terorisme sangat tidak dibenarkan. Islam mengajarkan perdamaian. Yang didambakan dalam ajaran Islam adalah terciptanya suasana aman dan kondusif. Semangat ini dijelaskan sangat jelas dalam al Qur’an dan hadis.

Dalam al Qur’an, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengarkan firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”. (al Taubah: 6).

Ibnu Jarir al Thabari menjelaskan, dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya memberikan perlindungan dan menjamin keamanan orang musyrik yang meminta perlindungan. Padahal sebelumnya telah turun perintah untuk memerangi mereka. Tujuannya, supaya mereka yang meminta perlindungan tersebut memiliki kesempatan untuk mendengar firman Allah. Barangkali dengan perlakuan tersebut hatinya mampu menerima kebenaran. Kalaupun tidak, umat Islam wajib melindungi sampai tiba di rumahnya atau bertemu dengan kelompoknya.

Al Qurthubi dalam tafsirnya menulis, para fuqaha (ahli fikih) sepakat, orang yang mencari keamanan untuk mendengarkan kalamullah dan mengenal syariat Islam harus dilindungi.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Sayyidina Ali, Rasulullah menegaskan tentang kewajiban umat Islam untuk memberikan perlindungan kepada mereka yang ada di bawah kekuasaannya. Kalaupun mereka mengkhianati (perjanjian dengan) umat Islam, maka laknat Allah, para malaikat dan laknat semua manusia untuk mereka.

Baca Juga:  Bagi Santri, Sarung adalah Simbol Pertahanan Budaya dan Perlawanan

Begitu jelas, bahwa situasi yang kondusif merupakan perintah agama. Baik dalam al Qur’an maupun hadis secara gamblang menegaskan urgensi perdamaian dan keamanan. Legitimasi perdamaian dan keamanan yang termaktub dalam dua sumber primer hukum Islam tersebut menjadi penegas adanya larangan keras terhadap umat Islam untuk berbuat anarkis, apalagi menjadi teroris.

Mereka yang sering membuat keributan dan kekerasan atas nama agama sesungguhnya adalah para penista agama. Mereka membawa agama untuk menuai kebencian dan kerusakan. Tidak ada sedikit pun ayat yang menganjurkan kekerasan di tengah situasi yang damai dan harmoni.

Kalau ternyata ada sebagian umat Islam melakukan perbuatan yang memicu kerusakan, bukan kedamaian, semata hanya penafsirannya yang kurang pas, alias salah. Kesalahan-kesalahan pemahaman terhadap kitab suci dan hadis ini sebenarnya masih bisa diperbaiki dengan cara bertanya kepada ahlinya. Namun sayang, keras kepala membuat mereka menutup diri sehingga kesalahan tersebut menjadi dogma yang tidak bisa diganggu gugat.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …