tadarus
tadarus

Model Tadarus Al-Qur’an yang Dianjurkan

Tadarus Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an merupakan salah satu aktifitas bernilai ibadah dalam Islam. Bahkan membaca satu huruf saja mendapatkan pahala sepuluh kebaikan yang juga dapat juga memberkahi tempat yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an hingga dikelilingi malaikat dan disebut oleh Allah bersama dengan hamba-hamba-Nya yang mulia. Karena keistimewaan inilah yang melandasi baca Al-Qur’an berbeda dengan membaca teks-teks lain. 

Namun keutamaan yang meluber tersebut tidak lepas dari tatacara yang harus dipenuhi oleh para pembaca Al-Qur’an. An-Nawawi dalam kitabnya at-Tibyan fi adabi Hamalati al-Qur’an, menyebutkan sederet aturan yang harus dilakukan oleh siapa saja yang hendak mendapatkan keberkahan Al-Qur’an.

Dari banyaknya aturan itu dapat diambil kuncinya, yaitu tadabur. Sesuai dengan perintah Al-Qur’an, “Tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an, seandainya ia berasal dari selain Allah, pasti akan mendapati banyak perselisihan di dalamnya,” QS an-Nisa 82.

Di antara upaya tadabbur yang ditekankan oleh an-Nawawi dalam kitabnya itu adalah perlunya mengulang bacaan sampai berpuluh kali dalam rangka merenungi makna ayat tersebut. Ia mencontohkan ketika Nabi mengulang satu ayat dalam surah al-Maidah 118, “in tu’adzibhum fainnahum ‘ibaduk, wa in taghfirlahum fainnaka antal ‘aizul hakim,” dari waktu shalat tahajud hingga datang waktu shalat subuh.

An-Nawawi juga mencontohkan dari riwayat lain bahwa Rasulullah juga pernah membaca satu ayat dalam surah al-Jatsiyah 21, “am hasibal ladzina ijtarahu as-Sayyiati annaj’alahum kalladzina amanu wa ‘amilu as-shalihati,” dari waktu shalat tahajud hingga shalat subuh.

Kebiasaan seperti itu juga lazim dilakukan oleh para sahabat Nabi yang dikenal sebagai kelompok ahli Qur’an, seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair, dan Asma’ binti Abu Bakar. Yang terakhir ini dikenal telah berjasa dalam proses pengumpulan mushaf-mushaf Al-Qur’an untuk mendukung upaya kodifikasi Al-Qur’an pada masa Usman bin Affan atau yang dikenal dengan lahirnya Rasm Ustmani.

Baca Juga:  Inilah Tips untuk Orang Tua dalam Menjaga Pergaulan Anak

Cara lain sebagai bentuk tadabur Al-Qur’an adalah membacanya dengan menangis. Sebagaimana disampaikan dalam surah Maryam 58, “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah (Al-Qur’an) maka mereka tersungkur sujud dan menangis.”

Hal ini lazim dilakukan oleh para nabi ketika membaca kitab suci mereka. Begitu juga untuk umat nabi Muhammad, membaca Al-Qur’an dengan menangis sangat dianjurkan. Bahkan dalam salah satu hadis Nabi disebutkan, “Bacalah Al-Qur’an dengan menangis, apabila tidak bisa menangis maka buatlah menangis.”

Itu semua merupakan cara yang diberikan untuk meraih tadabur yang berkualitas. Adapun poin pentingnya mampu merenungi dan mengambil nilai-nilai yang relevan sebagaimana fungsi Al-Qur’an. Bertepatan dengan bulan Ramdhan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah sangat tepat untuk mempraktikkan amalan ini. Mari kita semarakkan!   

Bagikan Artikel ini:

About Khoirul Anwar Afa

Avatar of Khoirul Anwar Afa
Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta.

Check Also

Serat Centhini

Konsep Amalan Harian dan Zaman Huru Hara dalam Sastra Jawa

hari Senin seperti yang dilakukan Nabi Isa, malam harinya tidak makan daging sembari mengucapkan kalimat “Ya Rahman Ya Rahim” sebanyak 103 kali.

syarat dai

Membaca Sikap Pendakwah Populer yang Jumawa

muncul para pendakwah populer yang didominasi para dai yang tidak memiliki latar belakang keilmuan agama dari pesantren ataupun dari sekolah keagamaan.