nasehat abu bakar
abu bakar

Nasehat Abu Bakar Shiddiq Menjelang Wafat: Sambut dan Rencanakan Kematianmu

Tulisan ini disarikan dari kitab Siyar al Salaf al Shaleh, satu karya yang berisi potret sejarah ulama salafus shaleh yang ditulis oleh Syaikh Isma’il al  Asbahani. Satu di antara sekian kisah-kisah yang menggugah dan sangat berkesan adalah wasiat Abu Bakar menjelang wafatnya, ia berkata, “sambut dan rencanakan kematian supaya menjadi orang yang beruntung di akhirat”.

Nama lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr  bin Ka’ab bin Sa’di bin Tamim bin Murrah. Sahabat sekaligus mertua Nabi. Satu-satunya sahabat yang menemani Nabi disaat-saat genting. Seperti ketika Nabi bersembunyi di gua Hira’ karena akan dibunuh oleh pasukan khusus kaum Quraisy sebagai puncak kebencian mereka kepada beliau karena menyebarkan agama Islam yang dianggap merusak keyakinan nenek moyang mereka sejak dulu.

Abu Bakar adalah orang pertama yang bersyahadat dari kelompok tua bangsa Quraisy disaat yang lain melakukan penentangan secara dahsyat. Tanpa keraguan sedikitpun, beliau langsung percaya kalau Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah.

Satu yang istimewa dari Abu Bakar, sejak belia, ia tidak pernah meminum khamar yang menjadi tradisi bangsanya saat itu. Baginya, pemabuk adalah manusia yang tak bermartabat dan tak memiliki kehormatan. Meskipun saat itu beliau belum memeluk Islam, tapi telah menyadari bahwa minum-minuman yang memabukkan merupakan perilaku yang tak baik dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kehormatan.

Masih banyak lagi akhlak mulia dari diri Abu Bakar dan banyak sekali pelajaran yang diberikan kepada kita, salah satunya adalah pesan beliau yang disampaikan menjelang kematiannya.

Dari Abdullah bin Tsabit, ia berkata, “Sebelum ajal menjemput (sakaratul maut) Abu Bakar memanggil Umar bin Khattab. Kemudia ia berpesan kepada Umar, “Wahai Umar, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah memiliki amalan pada malam hari dan tidak menerimanya pada siang hari.

Baca Juga:  Maulid Nabi SAW: Hukum dan Kitab Pertama tentang Maulid Nabi SAW

Dan sesungguhnya Allah tidak menerima amalan sunnah sebelum yang fardhu dikerjakan lebih dulu. Ketahuilah, orang yang berat timbangannya di hari kiamat adalah mereka mengikuti kebenaran saat di dunia sekalipun berat, sementara orang yang ringan timbangannya di akhirat adalah mereka yang mengikuti kebatilan saat hidup di dunia dan kebatilan itu ringan bagi mereka.

Allah menyebut-nyebut penduduk surga dengan amal-amal baiknya dan memaafkan kesalahan mereka. Tatkala aku mengingat mereka, aku khawatir bukan golongan mereka. Demikian juga, Allah menyebut-nyebut ahli neraka dengan amal buruknya, saat aku mengingat mereka, maka aku berharap supaya tidak bersama mereka.

Aku katakan ini, supaya umat Islam berharap sekaligus khawatir, tidak berangan-angan kosong kepada Allah, tidak putus asa terhadap nikmat-Nya. Wahai Umar, jika engkau menjaga pesanku ini, maka tidak akan ada perkara ghaib yang lebih engkau cintai selain kematian yang pasti datang menemuimu. Apabila engkau melalaikan pesanku ini, maka tidak ada perkara ghaib yang engkau benci dari pada kematian, padahal engkau tidak bisa lari darinya”.

Pesan menggugah hati dan memompa semangat untuk menyiapkan dan menyambut kematian ini disampaikan Abu Bakar kepada kita semua melalui perantara Umar bin Khattab. Pelajaran, begitu pentingnya mempersiapkan diri ketika pada saatnya kita harus mengakhiri petualangan di dunia menuju alam abadi. Semoga kita menjadi sosok kuat yang mampu meneladani Abu Bakar dan salafus shaleh yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …

santri tutup telinga

Geliat Pengharaman Musik yang Makin Menggelinjang

Tak berapa lama berselang, viral video sekelompok santri yang menutupi telinganya karena ada suara musik …