nasihat syekh abdul qodir

Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Solusi Menyelamatkan Dunia dari Wabah Covid-19

Inilah lima nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani di tengah kepanikan dan kekhawatiran dunia menghadapi pandemi covid-19.


Syekh Abdul Qadir al-Jailani (470-561 H) adalah Ulama fiqih yang sangat dihormati oleh sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Beliau lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan 470 H, 1077 M di selatan Laut Kaspia, sekarang menjadi Provinsi Mazandaran, Iran. Ia wafat pada hari sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/ 1166 M.

Dalam Usia 18 tahun ia telah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Di Baghdad dia belajar kepada beberapa orang seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abu al Farra dan juga Abu Saad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada Ulama-Ulama ini hingga mampu menguasai Ilmu-Ilmu Ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para Ulama.

Karya-karyanya cukup banyak seperti; al-Ghunyah Lithalib al-Thariq al-Haq, Futuhat al-Ghaib, al-Fathur al-Rabbani wa Faidh ar-Rahmani, al-Fathur al-Rabbani fi Halli al-Fdhi al-Zanjani dan masih banyak lagi. Bahkan banyak juga kitab yang dinisbahkan kepada beliau atau mengandung keterangan-keterangan beliau seperti kitab Mawaizh al-Syekh Abd al-Qadir al-Jaylani karya Shalih Ahmad al-Syami.

Dalam kitab tersebut terkandung nasihat-nasihat Syekh Abdul Qadir yang cukup banyak. Dalam tulisan ini akan dikutip beberapa nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani tentang Dunia. Sebagai landasan bagi kita agar memahami dunia lebih dalam, mengingat dunia saat ini yang sedang sakit karena virus covid-19.

Nasihat Pertama : Kehidupan itu Sesaat

“Jangan sia-siakan kehidupan yang tidak lama ini. perbanyaklah kebaikan selagi mampu. Jangan sia-siakan pintu tobat yang masih terbuka. Perbanyaklah doa. Berlombalah berbuat kebaikan dengan orang-orang saleh”.

Baca Juga:  Bakti kepada Orang Tua Hingga Akhir Hayat

Nasihat ini sangat sesuai dengan kondisi kita saat ini, yaitu mewabahnya virus covid-19. Kita lihat upadate penanganan covid-19, setiap hari terdapat penambahan kasus positif baru. Penambahan ini membuat total jumlah positif covid-19 Indonesia pun semakin bertambah. Angka yang berhasil sembuh juga bertambah, tetapi kasus kematian pasien covid-19 di Indonesia juga meningkat.

Melihat jumlah kematian yang cukup tinggi, cukuplah bagi kita sebagai nasihat. Kita sadar bahwa kita akan mati. Oleh karena itu jangan sia-siakan kehidupan yang tidak lama ini. Dalam kondisi seperti ini hendaknya kita perbanyak berbuat kebaikan dengan mentaati pemerintah dan ulama yang menyuruh kita untuk stay at home (di rumah aja).

Melakukan aktifitas yang produktif bersama keluarga di rumah seperti bersih-bersih rumah, bermain bersama dan mengaji bersama. Terakhir untuk menyempurnakan kehidupan yang tidak lama ini kita diingatkan agar berlomba-lomba dalam kebaikan.

Saya contohkan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan ketika kondisi sulit saat ini, seperti Najwa Shihab yang menggagas Konser Musik #dirumahaja yang menghasilkan dana untuk didonasikan kepada para pasien covid-19 atau tim medis. Itulah contoh yang nyata dalam kondisi apapun kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Pertanyaannya konser apakah yang akan kamu adakan?

Nasihat Kedua : Bekerja untuk Dunia

“Seorang mukmin bekerja untuk dunia dan akhirat. Namun, ia bekerja untuk dunia sebatas memenuhi kebutuhannya. Kebutuhannya terhadap dunia sebatas bekal orang yang bepergian, tidak lebih. Orang bodoh gelisah dengan dunia, sedangkan orang arif gelisah dengan akhirat”.

Syekh Abdul Qadir tidak menafikan kebutuhan dunia. Seorang mukmin tetap harus bekerja untuk dunia. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya bertawakkal kepada Allah swt menghadapi covid-19, tetapi harus dibarengi juga dengan anjuran pemerintah untuk menjada kesehatan dan cuci tangan pakai sabun, serta tetap di rumah. Tentu, hal demikian adalah bekerja untuk dunia dan akhirat.

Baca Juga:  Mau Menikah di Hari Jumat, Kenapa Tidak?

Di akhir syekh Abdul Qadir mengingatkan bahwa orang bodohlah yang gelisah dengan dunia karena Rasulullah saw bersabda: “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. niscaya ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi. Syeikh Albani menshahihkan hadis ini).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai kecuali hanya tempat ladang amal untuk berkal akhirat. Peringatan yang kedua yaitu orang yang arif akan gelisah karena akhiratnya. Sebagaimana QS. al-A’la[87]: 17 “padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”.

Nasihat Ketiga : Kesenangan Dunia, Syariat, dan Luthf Allah

“Lautan itu ibarat kesenangan dunia, biduk atau kapalnya adalah syariat, nahkoda adalah luthf (kelembutan, karunia) Allah Swt. Siapa yang enggan mengikuti syariat ia tenggelam dalam lautan kesenangan dunia. Siapa yang mencari tempat berlindung ke dalam kapal dan tinggal di sana, maka ia akan diminta oleh nahkoda untuk menggantikannya, ia kemudian menyelamatkan kapal dari amukan gelombang laut beserta seluruh awak dan isi kapal, bahkan nahkoda memintanya jadi menantunya”.

Demikianlah siapa yang meninggalkan dunia dan sibuk tenggelam dalam al-‘ilm (Thariqah dan Ma’rifah) dan bersabar atas segala ketidaknyamanan, maka ia akan menjadi kekasih syariat. Sementara ia demikian keadaannya, tiba-tiba Allah menghampiri dengan Luthf-Nya, menganugerahinya makrifat kepada-Nya, menyematkan kepadanya secara khusus kewalian di atas kewalian.

Nasihat Keempat : Dunia Ibarat Istri

“Dunia Ibarat Istri. Bila seseorang tidak tidur bersama istri dan tidak pula berduaan dengannya sepanjang umurnya, dan kemudian datang ke akhirat sementara dunia tak berdaya merenggut ketaqwaannya, tak kuasa pula mengubah agamanya, maka orang itu selamat.

Baca Juga:  Pelacur Bertobat, Akankah Allah Swt Mengampuninya?

Dengan kata lain, bahwa cukuplah dunia hanya di tangan jangan sampai ke hati. Temui istri hanya saat-saat tertentu saja tidak untuk sepanjang umurnya. Di sana penting bagi kita untuk membagi waktu untuk dunia dan untuk akhirat sehingga kita bisa mencapai bahagia dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah Swt. (QS. al-Baqarah[2]: 201)“wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Nasihat Kelimat : Ulama Dunia

“jangan kalian dengar ulama yang hanya menggembirakan jiwa dan menghinakan diri kepada penguasa. Mereka tak berdaya di hadapan penguasa. Mereka tidak menyampaikan perintah dan larangan Tuhan kepada penguasa. Kalaupun melakukannya, mereka melakukannya dengan munafik, atau Allah mengampuni mereka dan menunjuki mereka ke jalan-Nya.

Nasihat Syekh Abdul Qadir ini menjelaskan tentang siapakah yang dimaksud dengan ulama dunia. Ia mendefiniskan bahwa yang dimaksud dengan ulama dunia adalah yang menghinakan diri kepada penguasa, yaitu tidak berani mengatakan yang haq dan yang batil.

Nasihat bagi kita ketika menemukan ulama yang seperti demikian maka jangan didengarkan. Penting bagi kita saat ini memfilter siapa yang dimaksud dengan ulama itu, jangan sampai kita salah memilih ustadz/ulama.

Cukuplah bagi kita nasihat-nasihat di atas untuk direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga pikiran dan hari kita fokus untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rujukan:

Buku Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Kisah Hidup Sultan Para Wali dan Rampai pesan yang menghidupkan hati, (Jakarta: Zaman, 2012)

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Dede Jeri Adrian

Avatar
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam di Institur PTIQ Jakarta. disamping itu, penulis adalah seorang Guru dan Pembina Asrama di SMA Lazuardi Global Compassionate School Depok. Penulis juga aktip di Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Selatan.