Kebijakan pemerintah untuk mengurai aturan ketat yang diberlakukan saat pandemi tentu atas pertimbangan matang. New Normal, adaptasi keadaan baru, ataupun istilah lain yang dipakai untuk menegaskan situasi kembali seperti sedia kala, diberlakukan secara bertahap. Tidak serentak disemua daerah. Khusus daerah dengan kriteria zona hijau.

Masyarakat diharapkan tidak lepas kendali, euforia, dan melepas segala batas aturan terkait pandemi. Bagaimanapun, Covid-19 belum betul-betul lenyap dari muka bumi. Untuk itulah, pemegang otoritas kebijakan mulai dari tingkat terendah sampai level paling tinggi untuk selalu memberikan, menyuarakan dan paling yang paling penting mengedukasi masyarakat tentang cara hidup setelah kebijakan New Normal digulirkan dengan adanya norma-norma baru.

Demikian juga tokoh agama hendaklah membaktikan dirinya untuk selalu menasehati umat agar selalu mentaati segala aspek ajaran agama terkait pandemi. Khusus dalam agama Islam, Rasulullah telah mewanti-wanti bagaimana cara mengantisipasi wabah. Misalnya menjaga jarak sejauh satu atau dua tombak. Satu sampai dua meter. Dalam kondisi new normal harus ada norma-norma baru agama yang tidak seperti dalam kondisi normal biasanya.

Edukasi agama bisa dimulai dari memberi paham bahwa kebijakan pemerintah pasti dimulai dari sebuah kaedah, “Tasharruf al imam ‘ala al Ra’iyyah Manutun bi al Maslahah“, bahwa semua kebijakan pemerintah selalu didasarkan atas kemaslahatan rakyatnya. Ini penting untuk dikemukakan di awal supaya tidak ada anggapan yang menilai kebijakan New Normal atau adaptasi keadaan baru dianggap tindakan yang menjerumuskan masyarakat pada mafsadah yang lebih besar.

New Normal diberlakukan untuk mengayomi masyarakat meraih maslahatnya. Bekerja, berusaha, serta beraktivitas untuk meraih kembali kesejahteraan rumah tangga. Tentunya dengan tetap memperhatikan ikhtiar secara maksimal supaya tidak terjadi kemungkinan tertular Covid-19.

Para ulama, ustad, guru dan kaum intelektual mesti turun tangan secara sukarela untuk memberikan edukasi kepada umat terkait pentingnya perilaku hidup bersih, pola makan yang sehat dan seimbang, serta mematuhi ajaran agama Islam secara sempurna. Berwudhu secara sempurna mulai dari sunnah-sunnahnya sampai yang wajib. Bersiwak atau gosok gigi disetiap saat sesuai ajaran Nabi.

Kalau edukasi agama ini berjalan dengan baik, kemusnahan total Covid-19 bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebagai contoh, Rasulullah melarang nongkrong dipinggir jalan. Lazimnya tempat nongkrong merupakan tempat berkumpulnya orang yang tidak begitu bermanfaat. Malah menimbulkan mudharat seperti membicarakan keburukan orang lain, mengganggu orang lain yang kebetulan lewat karena perbuatan usil mereka yang lagi nyantai dan seterusnya.

Dalam hal ini, Rasulullah bila tidak memiliki tujuan yang penting, baik urusan agama maupun urusan kemaslahatan umat beliau tidak akan keluar rumah. Nabi lebih memilih di rumah bersama keluarga. Edukasi agama seperti ini mesti harus selalu disampaikan. Oleh orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya, kyai kepada santrinya, dari kawan ke kawan yang lain.

Bila kesadaran seperti telah diurai tertanam dalam hati masyarakat, tentu New Normal akan menjadi titik berangkat menuju tata atur hidup yang baik dan lebih berkualitas. Rasanya, semua orang memimpikan hidup bebas tanpa gangguan Covid-19. Maka untuk mencapai hal tersebut, secara bersama-sama pula harus bahu membahu melakukan upaya untuk menghilangkannya. Dengan cara apa? Ikhtiar sesuai tuntunan Rasulullah dan berdoa kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.