makna khilafah

Sejarah dan Pergeseran Makna Khalifah dan Khilafah

Istilah Khalifah dan Khilafah nampaknya belum diketahui baik dan benar oleh masyarakat, terlebih gerombolan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Yang terbaru, HTI membuat film dokumenter tentang “Jejak Khilafah di Nusantara” yang isinya hampir semuanya bersifat manipulatif.

Indikasi manipulatifnya diantaranya adalah menganggap kerajaan Utsmaniyah adalah khilafah. Lalu setelah tayang film itu, banyak tanggapan dari berbagai ahli dalam beberapa disiplin ilmu, yang intinya selain Khulafa ar-Rasyidin adalah dinasti, bukan khilafah. Kenapa demikian, mari kita lihat sejenak sejarah penggunaan istilah khalifah dan khilafah itu muncul.

Khalifah (خليفة) artinya pengganti. Kahlifatu Rasulillah (خليفة رسول الله) berarti penggantinya Rasulullah SAW, sebutan itu disematkan pada Sayyidina Abu Bakar Ash-Siddiq. Kemudian Sayyidina Umar bin Al-Khatthab menggantikan Sayyidina Abu Bakar atau menggantikan penggantinya Rasulullah, maka beliau disebut “Khalifatu khalifati Rasulillah (خليفة خليفة رسول الله).

Bergulirnya waktu kemudian Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengusulkan penggantian sebutan “Khalifah” dengan sebutan “Amirul Mukminin” (أمير المؤمنين) yang berarti “Pemimpin orang-orang beriman”, karena kalau menggunakan subutan “Khalifah” maka semakin ke belakang akan semakin panjang dan susah pengucapannya, Khalifah ketiga akan dipanggil “Khalifatu Khalifati Khalifati Rasulullah”, Khalifah keempat akan dipanggil “Khalifatu Khalifati Khalifati Khalifati Rasulillah” dan seterusnya. Maka usulan Sayyidina Ali diterima dan gelar “Amirul Mukminin” mulai disematkan pada Sayyidina Umar.

Kemudian kalimat “Khilafah” yang berarti “penggantian” dijadikan istilah untuk pemerintahan dan diklaim oleh pemerintahan yang “bukan merupakan menggantikan para pengganti Rasulullah”. Mereka yang mengklaim dirinya “khilafah” melainkan hanya pemerintahan yang penguasaannya secara de-facto dengan kekuatan militer, yaitu pemerintahana sistem kerajaan. Mereka sejatinya adalah Raja-raja, hanya saja mereka atau para pengikut mereka “latah” mau dipanggil atau memanggil “Khalifah”.

Baca Juga:  Manusia, Kebudayaan, dan Peradaban Islam

Kelatahan itu kemudian membuat banyak orang (terutama HTI) salah faham mengenai Khilafah Sistem Kenabian (خلافة على منهج النبوة) yang pernah disebutkan oleh Rasulullah SAW, termasuk orang-orang yang mau menegakkan Khilafah tapi untuk menyambung Khilafah Utsmanyah, padahal Khilafah Utsmaniyah itu bukan Khilafah dalam arti “menggantikan Rasulullah” sebagaimana Sayyidina Abu Bakar hingga Sayyidina Ali (Khulafa’ Rasyidun). Khilafah Utsmaniyah lebih tepatnya diterjemahkan dengan “Dinasti Utsmaniyah”.

Dengan memahami ini maka kita tidak akan heran kalau mendengar ada banyak penguasa bergelar Khalifah tapi terkenal zhalim. Kalau akibat adanya Khalifah zhalim kemudian ada yang tidak yakin dengan “Kepemimpinan Islam” maka itu adalah akibat latah dengan gelar Khalifah.

Adapun Khilafah versi yang diusung Hizbut Tahrir Indonesia adalah Sistem Kenabian, kebanyakan ulama sangat keberatan mengenai statement itu. Karena mayoritas ulama berpendapat bahwa Khilafah yang asli itu sudah berakhir setelah wafatnya Sayyidina Ali. Setelah itu adalah Raja-raja Islam yang meminjam gelar “Khalifah”, kecuali Sayyidina Hasan yang sempat memimpin beberapa bulan saja. Sejarah ini sesuai dengan sebuah riwayat hadist bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكاً بَعْدَ ذَلِكَ

“Khilafah di tengah umatku selama 30 tahun saja, setelah itu kemudian sistem kerajaan.” (HR. Ahmad 22568, Turmudzi 2390)

Namun Khilafah yang asli akan kembali bangkit pada akhir zaman di tangan Al-Mahdi, setelah berkali-kali dunia dikuasai oleh banyak penguasa dengan berbagai karakternya, sesuai dengan riwayat hadist bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون, ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها, ثم تكون خلافةعلى منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون, ثم يرفهعا إذا شاء أن يرفعها, ثم تكون ملكاعاضا فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفهعا, ثم تكون ملكا جبارين فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها, ثم تكون خلافة على منهاج النبوة. ثُمَّ سَكَتَ

“Kenabian ini akan berlangsung pada kalian selama yang Allah kehendaki, Allah akan mencabut kalau Ia menghendaki. Lalu akan ada sistem khilafah dengan sistem kenabian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya jika Ia menghendaki. Lalu ada sistem kerajaan kuat selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan zhalim selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa khilafah dengan sistem kenabian.” Kemudian Rasulullah SAW diam.” (HR. Ahmad, 4/273)

Baca Juga:  Ketika Khalifah Umar Hanya Diam Ketika Dimarahi Sang Istri

Dengan demikian benar apa yang dikatakan para ahli sejarah Islam dan filologi, seperti Prof. Azyumadi Azra dan Prof. Oman bahwa selain Khulafa ar-Rasyidin itu sebenarnya bukan pemerintahan system “Khilafah”, melainkan hanya pemerintahan system kerajaan ataupun dinasti. Mulai dari Muawiyah bin Abi Sufyan diangkat sebagai raja dinasti Umayah sampai raja terakhir dinasti Utsmaniyah, yang semuanya itu tidak berhak mengklaim sebagai “Khalifah” yang memimpin Khilafah Sistem Kenabian (خلافة على منهج النبوة).

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar