mencintai al-quran

Tafsir Al-Ahzab Ayat 34: Pendidikan Keluarga Sebagai Benteng Utama Pendidikan Nasional

Pendidikan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Diibaratkan makanan, pendidikan memiliki peranan penting memenuhi kebutuhan intelektual, spiritual dan emosional. Sangking urgensinya, pembahasan dengan tema pendidikan tidak pernah usang disebabkan perubahan dimensi ruang dan waktu. Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, sungguh mereka akan menghadapi masa yang akan berbeda dari masamu”.

Perubahan zaman menuntut transformasi pendidikan yang bisa menjawab tantangan-tantangan zamannya. Bukan hanya terfokuskan pada hasil, akan tetapi proses juga menentukan terhadap output (hasil). Misalnya sebelum memasuki Abad 20 kita belajar menggunakan cara atau media seadanya (konvensional). Berbeda dengan sekarang –dengan kecanggihan teknologi, membuat kegiatan belajar dan mengajar lebih terbantu, asalkan mengetahui tata cara pengunaan dan pemanfaatannya.

Selain untuk menjawab tantang tantangan zaman, tujuan pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Artinya pendidikan dijadikan sebagai thariqoh (jalan) untuk menjadikan manusia seutuhnya, menghilangkan atau meminimalisir sifat-sifat kerakusan, ketamakan dan kebuasan yang sejatinya dimiliki juga oleh hewan. Sehingga pendidikan tidak hanya mengejar aspek materi saja, tetapi bisa mengarahkan kepada perbaikan moral manusia. Itulah pendidikan sejati!

Spirit pendidikan harus terus digaungkan agar bisa menyelamatkan umat manusia, baik di dunia maupun di Akhirat. Hal ini difirmankan oleh Allah pada surah At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia & batu…”

Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban menjaga diri sendiri dan keluarga dari siksa api neraka. Artinya bimbinglah mereka ke jalan yang benar. Lantas dengan apa instrumen bimbingan iu? yaitu dengan pendidikan yang terpenuhi.

Melihat situasi sekarang, pandemi Covid 19 membuat beberapa kegiatan masyarakat terganggu bahkan ada yang dihentikan, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya dihentikan dan digantikan dengan home schooling (belajar dari rumah) sebagai tumpuan. Maka dari itu, pada saat ini pendidikan keluarga menjadi sentral posisinya bagi anak didik.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (2) : Sakit dan Perjalanan yang Membolehkan Tidak Berpuasa

Al-Quran juga menjelaskan tentang pendidikan di rumah dalam surah al-Ahzab ayat, 34:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ اَيَاتِ اللهِ وَالْحِكْمَةِ اِنَّ اللهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Dan ingatlah kalian apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu), sungguh Allah maha lembut, maha mengetahui…”

 Dalam kitab Safwa at-Tafasir, karya Muhammad Ali as-Shabuni, mengutip pandangan imam az-Zamkhasyari bahwa rumah nabi Muhammad adalah salah satu tempat turunnya wahyu. Mereka istri nabi diperintahkan agar tidak lupa terhadap apa yang telah disebutkan di kitabullah (al-Quran) yang telah memuat dua hal: argumentasi pembenaran atas kenabian nabi Muhammad SAW. serta hikmah dan syariat yang datang dari langit (samawi).

Kita pahami, bahwa rumah nabi selain dijadikan sebagai berkumpul bersama keluarga, di sana juga sebagai tempat proses pendidikan ataupun dakwah pertama bagi nabi Muhammad SAW mengenalkan ajaran Islam, terutama kepada para istri Nabi. Sebelum berdakwah kepada khalayak umum –pada waktu itu bangsa Quraisy, nabi memperkuat posisi kenabiannya dengan dukungan orang-orang terdekatnya.

Di kediaman Nabi, para Ummahatul Mukminin (sebutan untuk istri-istri nabi) belajar agama Islam kepada Nabi secara langsung, mulai dari pemahaman ketuhanan, tata cara beribadah sampai akhlak keseharian Nabi. Dan merekalah yang menjadi media penyambung dakwah nabi kepada para sahabat. Maka tidaklah heran sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari golongan perempuan adalah Sayyidah Aisyah RA. Menempati posisi keempat bendaharawan hadits terbanyak setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik. Beliau meriwatkan hadits sebanyak 2210 hadits.

Kembali kepada tafsir surah al-Ahzab ayat 34 di atas, Imam al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya mengutip pandangan ibnu Arabi, bahwa pada ayat ini terdapat suatu hal yang sangat urgen. Di dalamnya Allah SWT memerintahkan kita untuk menyampaikan (tabligh) ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka. Kemudian Allah memerintahkan untuk mengajarkan ilmu Agama yang telah dipelajari dari ayat-ayat tersebut.

Baca Juga:  Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 127 : Kisah di Balik Pembangunan Baitullah

Kesimpulannya, konsepsi ajaran Agama Islam yang ada yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. kemudian nabi mencontohkan dalam praktek kehidupan sehari-hari, kita bisa meniru dan menjadikan pegangan hidup dalam merajut pendidikan keluarga yang harmonis dan humanis.

Pandemi covid 19 yang terjadi saat sekarang ini, memiliki banyak hikmah yang dapat kita ambil dan dapat dijadikan refleksi diri. Pembelajaran yang semula dilaksanakan secara tatap muka –siswa hadir ke Sekolah, pendidikan dibebankan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan dan pemerintah, kini akibat dari pandemi siswa harus berdiam diri di rumah. Anak didik dituntut untuk belajar secara mandiri. Lebih untung apabila mendapatkan perhatian dan pendampingan dari kedua orang tua.

Peran kedua orang tua, di masa masa sulit ini sangat menentukan terhadap masa depan pendidikan anak. Selain dituntut untuk “sok tau” pada semua mata pelajaran, kedua orang tua dituntut untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Jangan sampai rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk belajar dan bermain, malah sebaliknya!

Pendidikan keluarga yang dicontohkan nabi, setidaknya menjadi patokan dan teladan bagi kita. Keberhasilan beliau menjadi pemimpin agama dan negara dimulai dari pendidikan keluarga. Mengutip pernyataan Prof. Quraish Shihab pada konferensi internasional tentang pembaharuan Islam di Universitas al-Azhar, “Keluarga adalah pondasi dasar membangun masyarakat. Apabila pondasinya kuat, maka bangunannya pun kuat. Bila keluarga baik maka masyarakat pun baik.”

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Rofiq

Ahmad Rofiq