Ada beberapa pertanyaan yang ingin penulis ajukan kepada anda, terkait kajian tafsir surah al-Baqarah ayat 25 ini. Menurut anda, apa yang dimaksud dengan gembira, senang atau bahagia? Lalu, jika menerima kabar gembira, bagaimana kondisi diri anda?

Allah berfirman:   

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” [Q.S. al-Baqarah: 25]

Dalam kamus Lisān al-‘Arab disebutkan: “Barangsiapa yang mencintai Alquran maka berbahagialah; bergembiralah dan senanglah.” Yang dimaksud mencintai Alquran adalah tanda kemurnian iman seseorang.

Kemudian dalam Mu’jam aṣ-Ṣihah disebutkan, kabar gembira (al-Busyrā) yang bersifat mutlak itu tidak ada kecuali dengan datangnya kabar kebaikan. Sedangkan dalam al-Qamus al-Muhiṭ: al-Busyrā adalah apa yang mau diraih oleh orang yang diberi kabar gembira.

Gambaran Surga sebagai Kebahagian Abadi

Ayat ini mengabarkan bahwa orang mukmin nan saleh akan disediakan surga oleh Allah Swt. Para mufassir mencoba menafsirkan gambaran surga yang dimaksud ayat ini. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan surga-surga tersebut digambarkan oleh ayat ini, di bawahnya mengalir sungai-sungai, yakni di bawah pohon-pohon dan gedung-gedungnya.

Dalam hadiṡ yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

اَنْهَارُ الْجَنَّةِ تَفْجُرُ مِنْ تَحْتِ تِلَالٍ اَوْ مِنْ تَحْتِ جِبَالِ الْمِسْكِ  

“Sungai-sungai surga mengalir di bagian bawah lereng-lereng atau di bagian bawah bukit-bukit kesturi.”

Kemudian As-Saddi menulis dan meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Ṣaleh, dari Ibnu Abbas dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Disebutkan bahwa mereka di dalam surga diberi buah-buahan.

Selanjutnya interpretasi gambaran surga dari Ibnu Hatim. Ia meriwayatkan bahwa rerumputan surga terdiri atas minyak za’faran, sedangkan bukit-bukitnya terdiri atas minyak kesturi. Para ahli surga dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang menyuguhkan beraneka buah-buahan.

Allah Swt. menyenangkan hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh dengan ayat dari surah al-Baqarah ini. Para mufassir Alquran menginterpretasikan ayat ini dengan sangat apik. Menjelaskan gambaran surga yang indah nan elok, sehingga kita sebagai umat yang mukmin harus bersegera meraih surga-surga-Nya.

Psikologi as-Sa’adah

Orang yang mendapat kabar gembira (al-Busyrā) atau baik, sudah pasti suasana hatinya berubah. Ada titik rasa bahagia (as-Sa’adah) jika manusia mendapat kabar dan kepastian tersebut.

Menurut Seligman, kebahagiaan ialah kondisi psikologis positif dimana seseorang memiliki emosi positif berupa kepuasan hidup, pikiran, dan perasaan yang positif terhadap kehidupan yang dijalaninya.

Ada jurnal yang ditulis oleh Ahmad Muhammad Diponegoro dan Mulyono dengan judul Faktor-Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kebahagiaan pada Lanjut Usia Suku Jawa di Klaten.” Pada penelitiannya, ada 14 faktor yang mempengaruhi kebahagiaan lanjut usia (penghasilan, usia, agama, budaya, bersyukur kepada Tuhan, aktivitas fisik, hubungan sosial, memaafkan, kualitas hidup, silaturahmi, sehat, menikah, berhubungan baik dengan anak cucu dan menantu, serta berhubungan baik dengan saudara).

Sangat menarik jika kita kaji dengan kaitan tafsir ayat 25 surah al-Baqarah ini, bagaimana suatu kebahagiaan, mempengaruhi orang-orang pada rentang usia lanjut.

Dalam buku Kalimāt fi Al-Qur’ān, Utsman Qadri mengungkapkan biasanya kabar gembira tidak pernah disebut kecuali dibarengi dengan kabar peringatan, seperti dalam firman Allah Swt. dalam surah al-Furqan ayat 56 ketika menyapa Nabi Muhammad Saw.:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” [Q.S. al-Furqan: 56]

Al-Farabi dalam kitab  At-Tanbih ‘ala Sabīl As-Sa’adah menjelaskan tentang makna kebahagiaan (as-Sa’adah). Ia menyebutkan pada umumnya orang awam mengartikan kebahagiaan dengan suatu bentuk kehidupan (keadaan) yang tanpa ada masalah dan kesulitan.

Pada kesimpulannya, kita sebagai orang mukmin harus bertakwa dan beramal saleh, agar bisa meraih surga yang telah dikabarkan oleh Allah Swt. Ujian dalam hidup memang sudah pasti, namun kita harus bertawakal kepada Allah Swt. Semoga kita dapat surga yang telah dijanjikan-Nya.

Wallāhu a’lām…. 

1 KOMENTAR

  1. […] ayat-ayat yang lalu, Allah mengumpamakan kaum munafik seperti orang yang menyalakan api (Q.S. al-Baqarah: 17) dan […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.