Tariq Ramadan dan Islam di Barat

0
1054
tariq ramadan

Tariq Ramadan adalah salah satu figur terkemuka Muslim Eropa yang mengenalkan untuk menjadi muslim yang otentik dan menjadi warga negara yang baik di Barat.


Tariq Ramadan adalah cucu Hassan Al-Banna, tokoh aktivis Islam terkemuka dari Mesir, pendiri organisasi Ihkwanul Muslimin. Ayah Tariq, Sayyid Ramadan, ialah putra Hassan Al-Bana yang terpaksa hidup di pengasingan Eropa akibat tekanan rezim Gamal Abdel Nasser. Tetapi ia bukan sosok semacam ”like father, like son”.

Meskipun keturunan aktivis radikal Ikhwanul Muslimin, yang diasingkan pemerintah Mesir ke Swiss, penampilan Tariq Ramadan jauh dari gambaran seorang ikhwani. Lahir di Geneva, Swiss, pada 26 September 1962, Tariq Ramadan kini menjadi salah satu figur terkemuka Muslim Eropa.

Dia bukan saja mengajar di berbagai universitas di Eropa dan kerap berceramah tentang masalah keislaman, melainkan juga aktif dalam berbagai gerakan Islam, termasuk diundang sebagai konsultan masalah keislaman oleh berbagai pemerintahan negara Eropa dan Persatuan Eropa (E.U.). Gagasannya yang paling terkenal ialah memunculkan istilah European Islam (Islam Eropa), bukan muslim di Eropa (muslim in Europe).

Tariq Ramadan adalah seorang cendikiawan muslim yang oleh majalah Times pernah dimasukkan dalam 100 tokoh inovator abad 21, atas kontribusinya dalam dunia Islam di Eropa. Akademisi di Inggris dan Eropa mengakui reputasinya sebagai pakar masalah-masalah Islam yang moderat.

Ia juga sudah menulis 20 buku dan sekitar 700 artikel tentang Islam. Tanpa kenal lelah, ia mendorong warga muslim minoritas di seluruh Eropa untuk melebur dengan masyarakat Eropa di tempat mereka masing-masing.

Karena latar belakangnya lahir dan tinggal di Eropa, dia berpendapat tidak ada konflik antara menjadi seorang muslim dan orang Eropa sekaligus. Seorang muslim mesti menerima hukum-hukum negara yang ditinggalinya, kecuali untuk kondisi tertentu. Perbedaan budaya membuat seorang muslim Eropa berbeda dengan muslim Asia, misalnya.

Karena itu seorang muslim Eropa, menurut Tariq Ramadan, mesti mempelajari lagi teks-teks fundamental Islam, terutama Al-Qur’an, dan menafsirkannya sesuai latar belakang sendiri—dalam kasus ini dipengaruhi oleh masyarakat Eropa. Pada bukunya yang khusus membahas masalah itu, To Be a European Muslim (1999), Tariq mencoba menawarkan solusi, yakni menjadi muslim yang autentik dan pada saat bersamaan menjadi warga negara yang baik di negara-negara Barat.

Tariq Ramadan menegaskan, menjadi kelompok minoritas di Barat sebenarnya bukanlah sebuah ancaman. Mereka justru dapat menikmati aroma kebebasan dan penghargaan terhadap keragaman. Bahkan, dalam pelbagai riset dinyatakan, populasi orang-orang Muslim di Barat, khususnya di Eropa dan Amerika, mengalami perkembangan yang cukup pesat. Disinyalir bahwa Islam menyodok sebagai peringkat kedua terbesar agama-agama di dunia.

Diana L Eck, seorang pengamat isu-isu keagamaan kontemporer di Barat, menyatakan bahwa Amerika bisa disebut sebagai “dunia Islam” karena besarnya jumlah umat muslim dari tahun ke tahun. Uniknya, peningkatan jumlah tersebut terjadi setelah Tragedi 11 September 2001.

Meskipun Barat dalam kasus-kasus tertentu bersikap antagonis terhadap umat muslim, tapi dia juga menyadarkan kita semua bahwa sikap Barat terhadap Islam tidak semuanya negatif. Sebab sejak abad ke-18, sikap simpati terhadap Islam sebenarnya sudah terjadi.

Menurut Voltaire, Nabi Muhammad Saw. adalah tokoh pemikir politik yang ulung. Islam adalah agama yang rasional. Bahkan, ia menyatakan, pemerintahan Islam lebih toleran bila dibandingkan dengan pemerintahan Kristen pada zaman itu.

Sikap simpati terhadap Islam pada zaman kontemporer sebenarnya juga ditunjukkan oleh sejumlah tokoh, seperti Jhon Esposito, guru besar studi keislaman di Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Di samping itu, ada seorang perempuan Katolik yang mempunyai sikap simpatik terhadap Islam dan Nabi Muhammad Saw, yaitu Karen Armstrong.

Dalam hal ini, memahami realitas pergumulan antara kalangan muslim dan Barat tidak sepenuhnya disebabkan oleh “yang lain”, melainkan juga disebabkan oleh ketidakpercayaan diri yang dirasakan oleh kalangan muslim sendiri. Perasaan sebagai “korban” telah menyebabkan sebagian kalangan muslim sebagai komunitas yang terasing dan tertindas.

Fakta sosiologis itu dapat menjelaskan dengan sangat baik tentang perbedaan antara kalangan muslim yang hidup di Barat dan kalangan muslim yang hidup di negara-negara muslim. Mereka yang hidup di Barat pada umumnya adalah kalangan terpelajar dan mapan secara ekonomi. Di samping itu, mereka merasakan betul manfaat dari kebebasan dan demokrasi yang diterapkan di Barat.