Waspada Sekte Wahabi
Waspada Sekte Wahabi

Wahabi merupakan kelompok yang mengklaim diri sebagai gerakan pembaharu Islam, yang mulanya dicetuskan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab dari Najd, Saudi Arabia pada tahun 1115 H (1703 M) dan wafat tahun 1206 H (1792 M). Pendiri Wahabi ini sangat mengagumi Ibnu Taimiyah, seorang ulama kontroversial yang hidup di abad ke-18 H dan banyak mempengaruhi cara berpikir keagamaannya.

Semasa hidup, Muhammad ibnu Abdul Wahab sebagai ideolog Wahabi, dan Ibnu Taimiyah sebagai inspirator pemikirannya, adalah tokoh yang selain kontroversial, juga dikecam keras oleh sejumlah ulama-ulama yang sezaman maupun setelahnya karena seringkali mengeluarkan pendapat-pendapat keagamaan yang ‘ganjil’—untuk tidak mengatakan ‘menyesatkan’. Kondisi ini tidak banyak diketahui dan disadari oleh pengagumnya, sementara banyak orang sudah terlanjur terpukau dengan ide-ide pembaruan yang mereka hembuskan.

Syaikh Idahram, penulis buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama (2011), membuka kedok kerancuan paham keagamaan Wahabi yang kini ramai dibicarakan banyak kalangan, dan penyebarannya telah melampaui sekat-sekat geografis dunia, termasuk pula di Indonesia. Yang menarik, buku ini bukanlah buku ‘impor’ terjemahan, tapi ditulis langsung oleh orang Indonesia bernama Syaikh Idahram.

Meskipun bukan orang pertama dan satu-satunya penulis Indonesia yang mengungkap ajaran dan ideologi Wahabi, Syaikh Idahram, mampu menyajikan eksplorasi yang tegas dan provokatif, seperti menampilkan hadis-hadis Nabi yang sejak awal konon memang mensinyalir akan timbulnya kelompok sempalan berbahaya, fatwa-fatwa Wahabi yang menyesatkan, dan paling penting juga penelusuran Syaikh Idahram terhadap jaringan Wahabi di Indonesia.

Kesesatan Sekte Wahabi

Syaikh Idahram melakukan pelacakan sekaligus penggalian terhadap sumber-sumber data primer, yang menujukkan kesesatan dan kekejaman sekte Wahabi di masa awal berdirinya. Sebut saja perihal tragedi berdarah pembunuhan ribuan umat Islam di sejumlah negara, termasuk di Mekkah dan Madinah; membunuh terhadap ratusan ulama; menyerang dan membunuh umat Islam atas nama jihad; mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sejalan dengan pendapatnya; dan masih banyak lagi penyimpangan lain.

Oleh sejumlah ulama, kekacauan pemikiran Muhammad ibnu Abdul Wahab itu berbanding lurus dengan pengetahuan agamanya yang kurang memadai, karena dia belajar ilmu agama hanya dari segelintir guru, dalam waktu yang sangat minim dan terputus-putus. Kenyataan ini diakui oleh beberapa ulama Wahabi, di antaranya adalah Muhammad al-Mas’ari, yang menjelaskan bahwa sebelum bersekongkol dengan keluarga Saud dan Inggris untuk memberontak dari kekhalifahan Turki Utsmani, Muhammad ibnu Abdul Wahhab layaknya ‘ustadz kampung’ yang tidak menonjol, biasa-biasa saja, dan bahkan tidak diperhitungkan. Dia tidak dikenal sama sekali ketokohan dan keulamaannya oleh para ulama yang hidup sezaman dengannya.

Bahkan tokoh ulama terkenal, mufti Mekkah yang hidup sezaman, yaitu Muhammad ibnu Humaid dalam kitabnya as-Suhub al-Wabilah ‘ala Dhara’ih al-Hanabilah, tidak pernah memasukkan nama Muhammad ibnu Abdul Wahab di jajaran ulama Hanabilah ketika dia menyebutkan sedikitnya ada 800 nama ulama dan tokoh madzhab Hanabilah pada masa itu. Padahal mufti tersebut turut memasukkan nama ayahnya, yakni Abdul Wahab, dalam jajaran para ulama dan tokoh madzhab Ahmad ibn Hanbal, bahkan memuji kadar keilmuannya.

Di kitab itu, Muhammad ibnu Humaid juga menjelaskan bahwa, ayah Muhammad ibnu Abdul Wahab sangat jengkel kepada anaknya itu dengan mengatakan: “Kalian akan melihat kejahatan yang akan dilakukan oleh Muhammad ibnu Abdul Wahab. Allah telah mentakdirkan yang akan terjadi pasti teradi”.

Dari sanalah, cukup beralasan mengapa sekte gerakan Wahabi mendapat kecaman, kritik keras, dan kutukan dari berbagai tokoh-tokoh dan mayoritas kaum muslim di dunia. Hanya orang yang tidak paham sejarahlah, mereka menganut paham keagamaan Wahabi. Dan masyarakat muslim Indonesia, wajib menyadari hal ini. Semoga.