millah ibrahim
ibrahim

Inilah 3 Alasan Allah Perintahkan Nabi Muhammad untuk Meneladani Nabi Ibrahim

Beberapa hari kedepan, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idhul Adha tahun 2021. Telah kita ketahui, dalam sejarah Idhul Adha, nabi Ibrahim punya andil besar dalam pensyariatan ibadah-ibadah di hari raya Idhul Adha. Setidaknya ada dua ibadah yang dilakukan oleh nabi Ibrahim yang kemudian ditiru oleh nabi Muhammad dan umatnya sampai sekarang, yakni haji dan menyembeli hewan kurban.

Dari fakta sejarah di atas, muncullah pertanyaan, kenapa nabi Muhammad harus meneladani nabi Ibrahim. Bukankah nabi Muhammad adalah rasulullah teristimewa. Usut punya usut ternyata Allah sendirilah yang memerintahkan nabi Muhammad untuk meneladani nabi Ibrahim. Perintah Allah tersebut tertuang dalam QS. Ali Imron ayat 95 yang berbunyi:

قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya : “Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.”

Ayat al-Qur’an di atas mengindikasikan bahwa nabi Ibrahim memiliki sifat, sikap dan keteladanan sepanjang hidupnya yang perlu dicontoh seluruh hamba Allah, termasuk nabi Muhammad. Sejauh penulis kaji, ternyata setidaknya ada 3 keteladanan nabi Ibrahim yang harus dicontoh, yakni

Meneladani Nabi Ibrahim dalam 3 Hal :

1. Loyalitas Keimanan

Perjuangan menjalankan keimanan nabi Ibrahim kepada Allah tak perlu diragukan lagi. Beliau sangat gigih mempertahankan kalimat tauhid la ilaha illallah, walau cobaan besar di depannya. Bukti sahih loyalitas atau kesetiaan keimanan nabi Ibrahim diuji yakni ketika beliau diperintahkan Allah untuk menghancurkan berhala-berhala di istana raja yang lalim bernama Namrud.

Sebagaimana nabi dan rasul yang lain, Allah bekali kecerdasan kepada nabi Ibrahim untuk menjalankan misi kerasulannya.Tanpa. Beliau langsung bersedia dan di saat raja Namrud pergi, nabi Ibrahim menjalankan perintahNya. Dengan cerdik beliau menyisakan satu berhala yang paling besar sebagai kambing hitamnya.

Baca Juga:  Anjuran dan Cara Mengendalikan Emosi

Selepas pulang ke istananya, raja Namrud murka dan langsung menuduh nabi Ibrahim sebagai pelakunya. Walaupun raja Namrud kalah dalam perdebatan singkatnya dengan nabi Ibrahim, ia kemudian mengeksekusi mati nabi Ibrahim dengan cara dibakar hidup-hidup. Namun, atas loyalitas nabi Ibrahim kepadaNya, lalu Allah berkehendak dan berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 69:

قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”,

Allah tidak memperkenankan kekasihnya, khalilNya, terbakar oleh kobaran api dalam memperjuangkan keimanannya. Maka, atas dasar ini pulalah Allah perintahkan nabi Muhammad SAW untuk mencontoh keteladanan nabi Ibrahim AS. sebuah kewajiban bagi kita juga sebagai umat nabi Muhammad, untuk senantiasa meningkatkan kualitas kesetiaan terhadap keimanan kepada Allah. Kuatkan rasa taqwa dan iman kita, pertahankan hingga akhir hayat.

2.  Totalitas Pengorbanan.

Kita tahu bahwa klimaks pengorbanan nabi Ibrahim kepada Allah, yakni saat beliau bersedia menyembelih puteranya, Ismail. Coba kita bayangkan, putera yang sejak lama ditunggu-tunggu kelahirannya dan saat itu baru beranjak dewasa, beliau korbankan sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah SWT.

Perintah Allah pada nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya turun ketika beliau sedang tidur. Dalam mimpinya beliau menyembelih Ismail. Atas petunjuk Allah tersebut, beliau lalu bertanya terlebih dahulu kepada nabi Ismail. Tanpa berpikir Panjang, puteranya itu rela dan ikhlas untuk disembelih ayahandanya. Totalitas pengorbanan nabi Ibrahim ini diabadikan dalam QS as-Saffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.”

Namun sebagaimana kita tahu, pada akhirnya Allah mengganti posisi nabi Ismail pada saat disembelih dengan seekor kambing untuk dikorbankan. Maka atas keagungan dan anugerah Allah SWT inilah pada setiap hari Idul Adha, kita dianjurkan untuk berkurban dengan binatang yang telah ditetapkan syariat. Ibadah berkurbanselain untuk meneladani totalitas pengorbanan nabi Ibrahim AS, juga bertujuan untuk mengkorbankan dan membunuh sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita.

Baca Juga:  Jangan Menistakan Diri dengan Mengemis

Contoh pengorbanan secara total tersebutlah yang Allah perintahkan kepada nabi Muhammad dan umatnya dalam segala bentuk. Karena bukan lagi soal harta atau jabatan, bahkan hal yang paling dicintai dalam hidup kita pun ketika Allah perintahkan untuk dikorbankan, maka korbankanlah. Hal ini tentu sebagai bentuk ketaatan kita seorang hamba kepada Allah SWT.

3. Kesuksesan Mendidik Generasi

Dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah karangan Ibnu Katsir (w. 774 H) misalnya, beliau mengutip karya Abul Qasim as-Suhaili yang berjudul at-Ta’rif wal A’lam, bahwa nabi Ibrahim memiliki 13 anak dari 4 istrinya. Nabi Ibrahim tergolong sukses dalam mendidik keturunan-keturunan yang umumnya menjadi saleh dan salehah. Termasuk dua keturunan terbaiknya ialah nabi Ismail dan Ishak. Bahkan nabi Muhammad SAW juga keturunan dari nabi Ibrahim dari jalur nabi Ismail.

Oleh karenanya, bukan tak mungkin nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk meneladani nabi Ibrahim dalam hal ini juga. Nabi Muhammad pun dalam hidupnya sukses mendidik generasi atau keturunannya menjadi pribadi-pribadi yang saleh dan salehah. Terutama puteri beliau sayyidah Fatimah dan kedua cucu nabi yakni Hasan dan Husein.

Kita pun sesungguhnya diwajibkan untuk mendidik keturunan-keturunan kita supaya menjadi saleh-salehah yang selalu loyal dalam menjalankan keimanannya dan total dalam setiap pengorbanannya kepada Allah SWT. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh para kekasih Allah, nabi Ibrahim AS dan nabi Muhammad SAW dahulu.

Dengan belajar meneladani Nabi Ibrahim, semoga hari raya Idhul Adha kali ini, kita jadikan momen titik tolak untuk menguatkan aqidah Islam Ahlusunnah Waljama’ah. Wa Allahu A’lam.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

sultan mahmud II

Rahasia Kegemilangan Sultan Muhammad II Dalam Memimpin Penaklukan Konstantinopel

Penaklukan Konstantinopel ialah salah satu kegemilangan terbesar pasukan Islam dalam menaklukan lawan-lawan besarnya. Konfrontasi di …

hari tasyrik

4 Pendapat Mengenai Kapan Waktu Takbiran Idul Adha

Umat Islam di seluruh dunia sebentar lagi akan merayakan hari raya Idhul Adha. Di Indonesia, …