Ciri khas sebuah masjid biasanya selalu ada bangunan kubah serta menara yang menjulang ke atas. Hampir saja ketika kita menjumpai bangunan dengan kubah dan menara seketika itu pikiran kita itulah masjid. Namun, siapa sangka dari mana sebenarnya asal-usul bangunan seperti itu?

Banyak di antara kaum muslim di Indonesia mengira, ciri khas masjid ini pasti di dapat dari Negara timur tengah. Atau dengan nada keyakinan mungkin itu gaya masjid yang pernah dibangun pada masa Rasulullah. Namun, sejatinya banyak dari kita tidak memahami dari mana asal-usul bangunan kubah dan menara yang melekat mempercantik masjid.

Pada awalnya, kubah dibangun oleh bangsa Romawi untuk diterapkan di gereja-gereja mereka. Awalnya kubah didirikan sebagai kuil pemujaan untuk dewa-dewa Romawi. Kubah banyak dijumpai dalam bangunan romawi kuno dengan arsitektur yang cukup mewah.

Jika berbicara tentang sejarah arsitektur Islam, maka kita akan menelaah kembali tentang bagaimanakah bentuk masjid yang dahulunya dibuat oleh Rasulullah? Struktur masjid yang dibangun Rasulullah seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi serta Masjidil Aqsa. Tidak ada keterangan yang menerangkan bahwa ketiga masjid tersebut memiliki bentuk arsitekturnya yang menyerupai atau berbentuk seperti kubah.

Awal mulanya masjid-masjid tersebut hanyalah bentuk yang sederhana. Bentuk kotak yang memiliki dinding dan juga atap. Namun sekarang dapat di lihat, bentuk arsitektur dari ketiga masjid tersebut sama-sama memiliki kubah di atasnya. Ketiga masjid yang sekarang kita jumpai sudah direnovasi dalam beberapa tahapan. Sang desainer adalah Manar Sinan, yang mengganti atap datar masjid dengan kubah berhias kaligrafi.

Di Masjid kuno, menara  berfungsi sebagai tempat menserukan azan, pertanda waktu shalat telah datang karena belum ada pengeras suara. Melalui menara masjid, suara azan akan bergema ke segenap penjuru untuk menyeru umat Islam agar segera mendirikan shalat lima waktu.

Menara merupakan kata yang diambil dari bahasa Arab disebut manaaroh, artinya tempat api. Dalam sejarahnya, terdapat beberapa riwayat mengenai asal-muasal menara masjid. Salah satunya yakni tentang kisah seorang murid yang telah di tugaskan oleh gurunya untuk ikut menyebarkan Islam di sebuah daerah Persia yang sebagian warganya menyembah api yang tidak pernah padam.

Api tersebut berada di bangunan tertinggi dalam bangunan tersebut, masyarakat di sana berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut, mereka berlutut lalu menyembahnya. Melihat hal tersebut sang murid senantiasa berdakwah dan sampai pada akhirnya banyak dari kaum majusi yang memutuskan untuk mempercayai Allah sebagai tuhan mereka.

Setelah banyak dari mereka memutuskan untuk beragama Islam, maka menara yang awalnya dipergunakan sebagai tempat menyembah api, dialih fungsikan menjadi tempat mengumandangkan azan agar penduduk di sekitar menara tersebut tahu kapan waktunya melakukan shalat.

Islam yang Ramah Budaya

Melihat tentang asal mula kubah dan menara yang bukan bagian dari sejarah masa Rasulullah, tetapi menjadi ciri khas sampai saat ini, menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam. Dalam hal yang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran dan akidah Islam mampu menerima dan mengadaptasi apapun yang dari luar.

Berislam dengan prinsip keyakinan harus kokoh. Namun, dalam hal sosial dan kebudayaan Islam sangat akomodatif dan adaptif dengan lingkungan luar. Islam mampu menyerap hal baik untuk kemashlahatan dan syiar Islam.

Sepanjang kebudayaan dan kesenian atau hal lain tidak bertentangan dengan Islam malah menjadi sarana pembudayaan syiar, umat Islam tidak boleh kaku. Umat Islam tidak boleh hidup dalam tempurung yang hanya berinteraksi dan mengambil dari orang Islam saja.

Teladanilah Rasulullah yang berinteraksi dengan beragam golongan dan kultur yang berbeda. Islam adalah kekuatan untuk membangun bukan kekuatan untuk menghancurkan. Islam adalah modal untuk saling bersaudara, bukan bermusuhan.

Bentuk masjid saat ini menjadi penanda kekuatan Islam untuk menghormati dan bahkan menyerap keragaman, bukan memusuhinya. Keberagaman yang diambil dari masjid telah menyadarkan kita tentang pentingnya nilai solidaritas kepada sesama manusia.

Kubah dan menara bukan ciri khas Islam pada awal mula. Namun, saat ini keduanya menjadi ciri khas dan identitas bangunan dari rumah Allah. Itulah Islam yang mampu mengadaptasi dan mengakomodasi keragaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.